Ini Perkembangan Situasi dan Penanganan Bencana di Indonesia pada 11 Januari 2026

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sejumlah kejadian bencana yang terjadi di beberapa wilayah Indonesia berdasarkan hasil pemantauan Pusat Pengendali dan Operasi (Pusdalops) BNPB dalam periode 10 – 11 Januari 2026, pukul 07.00 WIB.

Peristiwa bencana yang tercatat masih didominasi oleh jenis bencana hidrometeorologi basah, seperti banjir.

Memasuki wilayah Provinsi Sumatra Selatan, peristiwa banjir melanda Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur setelah hujan dengan intensitas sangat lebat mengguyur wilayah tersebut pada Jumat, (9/1), sekitar pukul 17.00 WIB.

Curah hujan tinggi yang terjadi secara merata di sejumlah wilayah OKU Timur dan kabupaten sekitarnya menyebabkan terjadinya banjir bandang kiriman serta luapan air sungai.

Dampak banjir dirasakan cukup luas, terutama di beberapa kecamatan yang berada di wilayah dataran rendah dan sepanjang aliran sungai.

Peristiwa ini mengakibatkan empat kecamatan terdampak adalah Kecamatan Belitang III, Belitang II, Semendawai Suku III dan Belitang Mulya, dengan total 23 desa yang terendam banjir.

Ketinggian Muka Air (TMA) pada awal kejadian mencapai kurang lebih 150 cm, merendam permukiman warga dan mengganggu aktivitas masyarakat.

Sejumlah desa di masing – masing kecamatan mengalami genangan dengan tingkat keparahan yang bervariasi, mulai dari halaman rumah hingga masuk ke dalam bangunan tempat tinggal.

Berdasarkan data sementara, banjir tersebut berdampak pada sekitar 1.359 kepala keluarga.

Ribuan warga harus menghadapi genangan air yang merendam rumah mereka, dengan jumlah unit rumah terdampak diperkirakan mencapai 1.359 unit.

Desa – desa dengan jumlah rumah terdampak cukup signifikan antara lain Desa Bangun Rejo, Kemuning Jaya, Raman Jaya, Batu Mas, dan beberapa desa lain di wilayah Belitang dan Semendawai.

Hingga saat ini tidak dilaporkan adanya korban jiwa, tetapi kerugian materiil cukup besar akibat terendamnya rumah dan perabotan warga.

Menanggapi kejadian tersebut, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten OKU Timur segera melakukan koordinasi dengan BPBD Provinsi Sumatra Selatan dan instansi terkait lainnya untuk melakukan pendataan dan penanganan darurat.

Tim BPBD diterjunkan ke lokasi guna melakukan evakuasi warga terdampak, menyiagakan mobil dapur umum dan mendirikan posko kesehatan untuk memastikan kebutuhan dasar, serta dan layanan kesehatan masyarakat terpenuhi selama masa tanggap darurat.

Sebagai bentuk dukungan, BPBD Provinsi Sumatra Selatan bersama BPBD Kabupaten OKU Timur telah menyalurkan bantuan logistik berupa kurang lebih 500 paket sembako yang berasal dari Gubernur Sumatra Selatan kepada warga terdampak banjir.

Bantuan tersebut diharapkan dapat meringankan beban masyarakat selama proses pemulihan pascabanjir.

Kondisi banjir di wilayah terdampak dilaporkan mulai berangsur surut dengan ketinggian muka air sekitar 20 cm.

Warga yang sebelumnya mengungsi telah kembali ke rumah masing – masing untuk melakukan pembersihan dan pemulihan.

Meski demikian, Tim BPBD Provinsi Sumatra Selatan bersama BPBD Kabupaten OKU Timur masih tetap siaga di lapangan untuk mengantisipasi kemungkinan banjir susulan, seiring dengan status siaga darurat bencana banjir dan tanah longsor yang masih berlaku di Provinsi Sumatra Selatan.

Selanjutnya, beralih ke wilayah Provinsi Nusa Tenggara Barat, banjir terjadi di Kabupaten Lombok Barat pada Jumat, (9/1), akibat hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang mengguyur wilayah tersebut secara terus menerus sejak pukul 13.00 Wita hingga 15.00 Wita.

Curah hujan yang cukup tinggi menyebabkan debit air sungai meningkat dan meluap ke permukiman warga.

Selain itu, aliran air kiriman dari wilayah pegunungan dengan volume besar turut memperparah kondisi banjir di wilayah terdampak.

Kejadian ini berdampak pada satu kecamatan adalah Kecamatan Sekotong, dengan dua desa terdampak, yaitu Desa Taman Baru dan Desa Pesisir Mas.

Luapan air sungai menggenangi rumah-rumah warga di sekitar bantaran sungai, sehingga aktivitas masyarakat terganggu dan sebagian warga terpaksa menghentikan kegiatan sehari – hari akibat genangan air yang masuk ke permukiman.

Berdasarkan hasil pendataan sementara, banjir tersebut berdampak pada sekitar 251 Kepala Keluarga (KK), dengan rincian 206 KK di Desa Taman Baru dan 45 KK di Desa Pesisir Mas.

Sejumlah 251 unit rumah dilaporkan terdampak akibat genangan air, meskipun tidak terdapat laporan korban jiwa dalam peristiwa ini.

Kerugian yang dialami masyarakat terutama berupa kerusakan dan pencemaran lumpur di dalam rumah serta fasilitas lingkungan sekitar.

Sebagai langkah penanganan awal, BPBD Provinsi Nusa Tenggara Barat berkoordinasi dengan BPBD Kabupaten Lombok Barat dan stakeholder terkait untuk memastikan penanganan bencana berjalan optimal.

BPBD Kabupaten Lombok Barat telah melakukan assessment ke wilayah terdampak guna memperoleh data yang akurat terkait dampak banjir dan kebutuhan masyarakat di lapangan.

Penanganan bencana ini dilaksanakan dalam status siaga darurat bencana banjir, tanah longsor dan cuaca ekstrem di Provinsi Nusa Tenggara Barat, seperti ditetapkan melalui Keputusan Gubernur Nusa Tenggara Barat Nomor 100.3.3.1-628 Tahun 2025, yang berlaku sejak 20 November 2025 hingga 31 Maret 2026.

Dalam penanganan di lapangan, unsur yang terlibat antara lain BPBD Kabupaten Lombok Barat, TNI/Polri, Tagana, aparatur desa, dan masyarakat setempat.

Berdasarkan kondisi terkini, banjir telah dilaporkan surut. Masyarakat mulai melakukan pembersihan rumah masing-masing dari sisa lumpur dan material banjir.

Namun, sejumlah jalan dusun masih dipenuhi lumpur sehingga memerlukan penanganan lanjutan.

Adapun kebutuhan mendesak yang masih diperlukan antara lain normalisasi sungai, perbaikan jembatan antardusun di Desa Taman Baru dan dukungan logistik berupa selimut, matras, serta tikar untuk membantu pemulihan pascabanjir.

Beralih ke Pulau Kalimantan, banjir melanda Kabupaten Landak, Provinsi Kalimantan Barat, pada Jumat, (9/1), sekitar pukul 08.00 WIB.

Kejadian ini dipicu oleh hujan dengan intensitas tinggi yang terjadi dalam durasi cukup lama, disertai luapan sungai di sejumlah wilayah.

Kondisi tersebut menyebabkan air meluap ke permukiman warga dan merendam rumah – rumah penduduk di berbagai kecamatan, terutama yang berada di sekitar daerah aliran sungai.

Baca Juga:  Mendagri Tito Beri Arahan ke Jajarannya Jelang Pemilu 2024

Bencana banjir ini berdampak luas, mencakup delapan kecamatan dengan total 23 desa terdampak antara lain Kecamatan Banyuke Hulu, Air Besar, Jelimpo, Menyuke, Mempawah Hulu, Kuala Behe, Menjalin, dan Meranti.

Ketinggian Muka Air (TMA) pada awal kejadian dilaporkan mencapai sekitar 100 cm, sehingga aktivitas masyarakat terganggu dan akses antarwilayah sempat terhambat di beberapa titik.

Berdasarkan data sementara yang masih terus dilakukan pendataan, banjir tersebut berdampak pada sekitar 2.282 KK.

Jumlah warga terdampak tersebar di sejumlah desa, dengan konsentrasi cukup besar di Kecamatan Mempawah Hulu dan Kecamatan Air Besar.

Hingga saat ini tidak dilaporkan adanya korban jiwa, namun ribuan warga harus menghadapi genangan air yang merendam rumah serta lingkungan sekitar.

Selain berdampak pada masyarakat, banjir juga menyebabkan kerugian materiil berupa 2.282 unit rumah yang terdampak, dengan tingkat genangan yang bervariasi.

Sejumlah desa mengalami dampak cukup signifikan, terutama desa – desa yang berada di dataran rendah dan sepanjang aliran sungai.

Pendataan kerugian masih terus dilakukan oleh petugas di lapangan untuk memperoleh data yang lebih akurat.

Dalam penanganan bencana, BPBD Kabupaten Landak berkoordinasi dengan instansi terkait guna melakukan pendataan dan penanganan darurat.

Pemerintah Daerah telah menetapkan status Siaga Darurat sebagai langkah antisipasi dan percepatan penanganan.

Selain itu, BPBD Kabupaten Landak juga menyiapkan bantuan logistik untuk disalurkan kepada warga terdampak banjir.

Berdasarkan kondisi mutakhir pada Sabtu, (10/1), situasi banjir menunjukkan perkembangan yang bervariasi.

Pada Desa Serimbu, ketinggian air dilaporkan masih mengalami kenaikan dan sarana air bersih di Dusun Serimbu Seberang terputus.

Sementara itu, di Pasar Menjalin, air sungai masih bertahan, tapi belum memasuki permukiman.

Di sisi lain, beberapa wilayah telah mulai surut, antara lain Desa Tunang dan Desa Mentonyek di Kecamatan Mempawah Hulu, sejumlah dusun di Kecamatan Air Besar, wilayah Kecamatan Banyuke Hulu, serta Desa Darit di Kecamatan Menjalin.

Akses jalan dari arah Sompak menuju Pontianak dilaporkan sudah dapat dilalui kembali, meskipun petugas tetap siaga untuk mengantisipasi perkembangan kondisi di lapangan.

Berikutnya, di wilayah Provinsi Bengkulu, banjir terjadi di Kabupaten Seluma pada Jumat, (9/1), sekitar pukul 12.30 WIB.

Kejadian ini dipicu oleh curah hujan yang tinggi sehingga menyebabkan peningkatan debit air secara signifikan pada saluran pelelangan.

Luapan air yang tidak dapat tertampung oleh kapasitas saluran akhirnya menggenangi wilayah sekitar dan menimbulkan banjir di permukiman warga.

Bencana banjir tersebut berdampak pada wilayah Kecamatan Seluma Utara, tepatnya di Desa Lubuk Resam.

Genangan air dengan Ketinggian Muka Air (TMA) awal kejadian mencapai sekitar 50 cm, merendam sejumlah rumah warga dan lahan pertanian di sekitarnya.

Aktivitas masyarakat sempat terganggu akibat genangan air yang masuk ke lingkungan permukiman.

Berdasarkan data sementara yang masih dalam proses pendataan, banjir ini berdampak pada sekitar 31 KK.

Selain itu, tercatat sekitar 14 unit rumah warga terdampak serta kurang lebih 10 hektare areal persawahan terendam banjir. Tidak terdapat laporan korban jiwa dalam kejadian ini, tapi kerugian material masih terus dihimpun oleh petugas di lapangan.

Sebagai langkah penanganan awal, BPBD Kabupaten Seluma telah berkoordinasi dengan instansi terkait serta pihak kecamatan dan pemerintah desa setempat guna melakukan pendataan dampak dan kebutuhan warga terdampak.

Koordinasi tersebut dilakukan untuk memastikan penanganan bencana berjalan cepat dan tepat sasaran.

Perkembangan terkini, banjir di wilayah terdampak dilaporkan telah surut. Masyarakat mulai kembali beraktivitas seperti biasa, sedangkan petugas masih melakukan pemantauan dan pendataan lanjutan untuk memastikan dampak banjir dapat tertangani dengan baik.

Selanjutnya, di Provinsi Jawa Tengah, banjir melanda Kabupaten Kudus pada Jumat, (9/1), sekitar pukul 18.00 WIB.

Kejadian ini dipicu oleh curah hujan tinggi yang berlangsung cukup lama, sehingga mengakibatkan peningkatan debit air pada Sungai Gelis, Sungai Piji dan Sungai Dawe.

Luapan air dari ketiga sungai tersebut tidak dapat tertampung oleh alur sungai dan sistem drainase yang ada, sehingga menggenangi permukiman warga, serta sejumlah fasilitas umum.

Dampak banjir dirasakan di enam kecamatan, yaitu Kecamatan Mejobo, Kota, Jekulo, Bae, Dawe, dan Gebog.

Pada awal kejadian, Ketinggian Muka Air (TMA) tercatat mencapai sekitar 50 cm, dengan variasi genangan di sejumlah desa.

Selain permukiman, banjir juga berdampak pada akses jalan, jembatan dan lahan pertanian yang berada di sekitar daerah aliran sungai.

Berdasarkan data sementara yang masih dalam proses pendataan, banjir ini berdampak pada sekitar 4.668 kepala keluarga atau 14.143 jiwa.

Tercatat pula sekitar 4.668 unit rumah terdampak, 65 akses jalan tergenang, beberapa jembatan mengalami gangguan dan kurang lebih 120,8 hektare areal persawahan terdampak.

Tidak terdapat laporan korban jiwa, namun kerugian materiil cukup signifikan akibat terhambatnya aktivitas masyarakat dan kerusakan infrastruktur.

Dalam penanganan bencana, BPBD Kabupaten Kudus berkoordinasi dengan BPBD Provinsi Jawa Tengah dan instansi terkait lainnya, termasuk pemerintah kecamatan dan desa setempat.

Upaya yang dilakukan meliputi pendataan dan evakuasi warga terdampak, pendistribusian bantuan logistik, serta penyaluran logistik untuk kegiatan kerja bakti pembersihan material banjir dan longsor.

Selain itu, BPBD Kabupaten Kudus juga melakukan monitoring secara intensif di berbagai lokasi terdampak dan pintu-pintu air untuk mengendalikan risiko lanjutan.

Penanganan banjir dan longsor ini dilakukan dalam status Siaga Darurat sebagaimana ditetapkan melalui Keputusan Bupati Kudus Nomor 300.2/296/2025 dan Keputusan Gubernur Jawa Tengah Nomor 100.3.3.1/409 Tahun 2025/2026.

Sejumlah unsur terlibat dalam penanganan di lapangan, antara lain BPBD, pemerintah desa dan kecamatan, TNI/Polri, perangkat daerah terkait, relawan, organisasi kemasyarakatan, pihak swasta, serta masyarakat setempat.

Sebagian besar genangan banjir dilaporkan telah berangsur surut. Namun demikian, beberapa desa di Kecamatan Mejobo masih terdapat genangan dengan ketinggian sekitar 5 cm hingga 50 cm.

Penanganan longsor dan pembersihan material masih terus berlangsung, khususnya di wilayah Kecamatan Dawe, Gebog dan Bae.

Baca Juga:  Ada Empat Zona Megathrust yang Kepung Pulau Jawa

Debit air di Bendung Klambu terpantau stabil pada kisaran ± 478,6 meter kubik per detik dan petugas tetap siaga untuk mengantisipasi kemungkinan peningkatan debit air susulan.

Masih di Provinsi Jawa Tengah, cuaca ekstrem melanda Kabupaten Kendal pada Sabtu, (10/1), sekitar pukul 17.40 WIB.

Kejadian ini dipicu oleh hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang disertai angin kencang dan mengguyur wilayah tersebut.

Kondisi cuaca ekstrem tersebut mengakibatkan sejumlah wilayah di Kecamatan Rowosari terdampak, terutama akibat terjangan angin kencang yang menyebabkan kerusakan pada bangunan serta tumbangnya pohon.

Dampak cuaca ekstrem terfokus di Kecamatan Rowosari, meliputi Desa Bulak, Desa Gebanganom, Desa Tanjunganom dan Desa Rowosari.

Angin kencang menyebabkan kerusakan pada rumah warga dan tempat usaha, serta mengakibatkan beberapa pohon tumbang yang sempat menutup akses jalan dan menimpa bangunan milik warga.

Berdasarkan data sementara yang masih dalam proses pendataan, kejadian ini berdampak pada sekitar 10 KK.

Rinciannya, sebanyak 6 KK terdampak di Desa Bulak, 2 KK di Desa Rowosari, dan masing – masing 2 KK di Desa Gebanganom.

Tidak terdapat laporan korban jiwa dalam peristiwa ini, namun sejumlah warga terdampak harus menghadapi kerusakan pada tempat tinggal dan sarana usaha mereka.

Kerugian materiil akibat kejadian ini meliputi 1 unit rumah dengan kategori rusak berat, 6 unit rumah rusak ringan dan 3 unit tempat usaha rusak berat.

Kerusakan paling banyak terjadi di Desa Bulak, disusul Desa Rowosari, Desa Gebanganom dan Desa Tanjunganom.

Pendataan lanjutan masih dilakukan untuk memastikan tingkat kerusakan dan kebutuhan warga terdampak secara akurat.

Sebagai upaya penanganan, BPBD Kabupaten Kendal telah melakukan asesmen terhadap rumah dan tempat usaha yang terdampak angin kencang.

Selain itu, petugas bersama unsur terkait melakukan penanganan pohon tumbang yang menutup akses jalan maupun yang menimpa rumah warga, guna memulihkan kondisi lingkungan dan kelancaran mobilitas masyarakat.

Penanganan kejadian ini dilakukan dalam status Siaga Darurat bencana banjir, tanah longsor dan angin puting beliung di Kabupaten Kendal serta status siaga darurat cuaca ekstrem di Provinsi Jawa Tengah.

Kendala yang dihadapi di lapangan antara lain minimnya penerangan akibat pemadaman aliran listrik di beberapa lokasi terdampak.

Berdasarkan kondisi mutakhir, pohon tumbang yang menimpa rumah warga telah berhasil dipotong dan dibersihkan, sedangkan penanganan lanjutan terhadap sejumlah rumah dan tempat usaha yang terdampak akan dilakukan secara mandiri oleh warga dengan pendampingan dari pihak terkait.

Sementara itu, di wilayah Provinsi Banten, banjir terjadi di Kabupaten Serang pada Sabtu, (10/1), sekitar pukul 09.30 WIB.

Kejadian ini dipicu oleh hujan deras yang mengguyur wilayah Kabupaten Serang dan sekitarnya, sehingga menyebabkan genangan air di sejumlah permukiman warga.

Curah hujan yang tinggi dalam waktu relatif singkat mengakibatkan saluran drainase dan aliran air tidak mampu menampung debit air, sehingga terjadi banjir di beberapa titik.

Dampak banjir terpantau di dua kecamatan, yakni Kecamatan Padarincang dan Kecamatan Cinangka. Di Kecamatan Padarincang, banjir terjadi di Desa Cisauk, sedangkan di Kecamatan Cinangka banjir melanda Desa Rancasanggal.

Genangan air mengakibatkan aktivitas masyarakat terganggu, meskipun sebagian besar warga memilih tetap bertahan di rumah masing – masing.

Berdasarkan data sementara, banjir ini berdampak pada sekitar 244 KK atau 1.006 jiwa.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 238 KK atau 885 jiwa terdampak berada di Kecamatan Padarincang, sementara 6 KK atau 21 jiwa terdampak di Kecamatan Cinangka.

Tercatat sebanyak 244 unit rumah warga terdampak genangan air, dengan tingkat genangan bervariasi di masing – masing desa.

Sebagai langkah penanganan, BPBD Kabupaten Serang telah berkoordinasi dengan pihak terkait dan melakukan assessment di lokasi terdampak untuk memastikan kebutuhan masyarakat, serta dampak banjir secara menyeluruh.

Penanganan dilakukan dalam status Siaga Darurat bencana akibat hidrometeorologi di Provinsi Banten sebagaimana ditetapkan melalui Keputusan Gubernur Banten Nomor 684 Tahun 2025, yang berlaku sejak 19 Desember 2025 hingga 19 Maret 2026.

Banjir dilaporkan berangsur surut. Warga masih menempati rumah masing-masing dan belum dilakukan pengungsian.

Ketinggian muka air (TMA) di luar rumah warga Desa Cisauk tercatat sekitar 10 cm hingga 30 cm, sedangkan di Desa Rancasanggal berkisar antara 10 cm sampai dengan 20 cm.

Petugas terus melakukan pemantauan untuk mengantisipasi potensi genangan susulan apabila terjadi hujan kembali.

Terakhir, di wilayah Provinsi Jambi, banjir terjadi di Kabupaten Tanjung Jabung Timur pada Sabtu, (10/1), sekitar pukul 18.30 WIB.

Kejadian ini dipicu oleh curah hujan yang tinggi yang mengguyur wilayah tersebut, sehingga menyebabkan peningkatan volume air di lingkungan permukiman warga.

Kondisi ini diperparah oleh saluran parit yang tersumbat, sehingga aliran air tidak berjalan optimal dan mengakibatkan genangan air meluas ke area pemukiman.

Air yang tidak tertampung oleh sistem drainase menyebabkan sejumlah wilayah permukiman warga tergenang, mengganggu aktivitas masyarakat pada sore hingga malam hari.

Genangan air terutama terjadi di kawasan yang memiliki sistem drainase terbatas dan berada pada dataran rendah.

Hingga saat ini, proses pendataan dampak banjir masih terus dilakukan oleh pihak terkait untuk mengetahui jumlah warga dan rumah yang terdampak dan tingkat kerugian yang ditimbulkan.

Tidak ada korban jiwa, namun situasi di lapangan masih terus dipantau seiring dengan potensi hujan lanjutan.

BNPB mengimbau masyarakat, khususnya yang berada di wilayah rawan banjir, dan cuaca ekstrem, agar tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana susulan.

Masyarakat diharapkan memantau informasi cuaca dan peringatan dini dari pemerintah daerah, serta BNPB, menjaga kebersihan saluran air dan drainase, serta segera melapor kepada aparat setempat apabila terjadi kondisi darurat.

Selain itu, masyarakat diminta mengikuti arahan petugas di lapangan demi keselamatan bersama. I

 

 

Kirim Komentar