Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) mendorong, penguatan hubungan Indonesia dan Uzbekistan melalui pengembangan wisata religi, konektivitas penerbangan, industri halal hingga kerja sama ekonomi digital.
Menurut Menteri Haji dan Umrah (menhaj) Mochamad Irfan Yusuf, kedekatan sejarah dan spiritual kedua negara merupakan modal penting untuk membangun kerja sama yang lebih konkret dan memberi manfaat bagi masyarakat.
“Imam Bukhari merupakan guru spiritual bagi banyak orang di Indonesia. Di Bukhara ada Imam Bahauddin An-Naqsyabandi yang juga menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia,” ujarnya dalam pertemuan dengan Ketua Komite Pariwisata Uzbekistan Abdulaziz Akkulov di Tashkent.
Menhaj menyatakan, kedekatan tersebut dapat diterjemahkan menjadi pengembangan wisata religi yang tidak sekadar menghadirkan kunjungan ke situs bersejarah, tetapi juga pengalaman spiritual dan pendalaman tradisi keilmuan Islam.
Dia mencontohkan, tradisi pesantren di Indonesia yang setiap Ramadan mengkhatamkan Shahih Bukhari.
Tradisi tersebut, lanjutnya, dapat dikembangkan dalam bentuk program wisata religi di Samarkand.
“Selama Ramadan, sebagian pesantren di Indonesia mengkhatamkan Shahih Bukhari. Akan menarik jika sebagian kegiatan itu dilakukan di sini,” ungkapnya.
Menhaj juga melihat peluang pengembangan paket umrah yang dipadukan dengan kunjungan ke Uzbekistan. “Umrah plus Uzbekistan merupakan tawaran yang menarik bagi jemaah umrah.”
Menurutnya, pengembangan wisata religi perlu didukung dengan konektivitas transportasi yang memadai.
Oleh karena itu, Indonesia dan Uzbekistan akan melanjutkan pembahasan mengenai kemungkinan pembukaan konektivitas penerbangan langsung antara maskapai kedua negara.
“Kita perlu meningkatkan hubungan dan kerja sama dua negara ini. Saya juga bertemu dengan gubernur, pengusaha Indonesia, dan pengusaha Uzbekistan yang ingin berusaha di Indonesia. Semoga hal ini dapat terwujud dalam waktu yang tidak terlalu lama,” tutur Menhaj.
Penguatan kerja sama tersebut dibahas dalam rangkaian kunjungan Menhaj ke Uzbekistan, setelah sebelumnya mengunjungi Samarkand dan Bukhara.
Dalam pertemuan dengan Komite Pariwisata Uzbekistan, kedua pihak membahas peluang menjadikan kedekatan sejarah dan hubungan spiritual sebagai pintu masuk untuk memperluas kerja sama pariwisata dan ekonomi.
Ketua Komite Pariwisata Uzbekistan Abdulaziz Akkulov mengatakan, pertemuan dengan Menhaj memiliki makna simbolis bagi hubungan kedua negara.
Pertemuan pada 8 September 2026 bertepatan dengan satu tahun pelantikan Menteri Haji dan Umrah, sekaligus lahirnya Kemenhaj.
Abdulaziz juga mengaitkan pertemuan tersebut dengan sejarah kunjungan Presiden Soekarno ke Samarkand sekitar 70 tahun lalu.
Pada 5 September 2026, Menhaj menghadiri peluncuran Hotel Hadith di Samarkand yang bertepatan dengan tanggal kedatangan Presiden Soekarno ke kota tersebut pada 1956.
“Pertemuan ini sengaja dilakukan setelah kunjungan ke Samarkand dan Bukhara untuk mendapatkan masukan dari Menteri Haji dan Umrah,” ujar Abdulaziz.
Dia menegaskan, Uzbekistan telah memberlakukan bebas visa bagi tujuh negara sejak tahun 2017, termasuk Indonesia.
Kebijakan tersebut dinilai menjadi modal penting untuk meningkatkan mobilitas wisatawan kedua negara.
Dalam delapan bulan terakhir, jumlah wisatawan Indonesia yang berkunjung ke Uzbekistan terus meningkat dan bahkan telah melampaui jumlah wisatawan asal Malaysia.
Karena itu, Komite Pariwisata Uzbekistan menyambut gagasan pengembangan wisata religi berbasis pengalaman spiritual.
Salah satu gagasan yang dinilai menarik adalah program mendalami hadis selama Ramadan di Samarkand.
“Program mendalami hadis selama Ramadan, misalnya di Samarkand, merupakan ide yang menarik,” ungkap Abdulaziz.
Selain konektivitas penerbangan, kedua pihak juga membahas promosi pariwisata bersama.
Dia menyatakan, pihaknya telah berkomunikasi dengan Menteri Pariwisata Indonesia mengenai peluang promosi bersama untuk meningkatkan kunjungan wisatawan kedua negara.
“Kami ingin wisatawan Uzbekistan datang ke Indonesia, dan wisatawan Indonesia datang ke Uzbekistan,” jelasnya.
Menhaj pun mengundang masyarakat Uzbekistan untuk menjadikan Indonesia sebagai destinasi wisata dan Indonesia memiliki keragaman destinasi yang sangat besar. “Indonesia memiliki lebih banyak tujuan wisata dibandingkan Malaysia dan Thailand.”
Kerja sama juga diarahkan pada penguatan ekosistem industri halal. Komite Pariwisata Uzbekistan menyatakan kesiapan memenuhi kebutuhan sertifikasi halal apabila menjadi bagian dari pengembangan kerja sama pariwisata kedua negara. “Kami siap jika diperlukan sertifikasi halal.”
Duta Besar Indonesia untuk Uzbekistan Siti Ruhaini Dzuhayatin menambahkan, kedekatan spiritual kedua negara juga diperkuat oleh besarnya pengikut tarekat Naqsyabandiyah di Indonesia.
Kondisi tersebut menjadi modal sosial untuk memperkuat hubungan masyarakat Indonesia dan Uzbekistan.
Pada sektor ekonomi digital, Bank Indonesia dan Bank Sentral Uzbekistan juga tengah membahas kemungkinan penggunaan QRIS dan UzQR.
Kerja sama tersebut diharapkan memudahkan transaksi wisatawan Indonesia dan Uzbekistan ketika berkunjung ke masing-masing negara.
Dengan berbagai peluang tersebut, kerja sama Indonesia – Uzbekistan diarahkan tidak hanya untuk meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan, tetapi juga membangun ekosistem yang menghubungkan wisata religi, konektivitas transportasi, industri halal, perdagangan, hingga sistem pembayaran digital.
Bagi Kemenhaj, penguatan hubungan dengan Uzbekistan menjadi bagian dari upaya memperluas manfaat perjalanan ibadah dan wisata religi, sekaligus membuka ruang baru bagi kerja sama antarmasyarakat kedua negara. I
