Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) mendorong para jemaah haji Indonesia agar sepulang dari tanah suci tidak hanya menyandang gelar haji, tetapi juga menghadirkan dampak nyata di tengah masyarakat.
Direktur Jenderal Pengendalian Penyelenggaraan Haji dan Umrah, Harun Al Rasyid mengatakan, spirit perubahan itu menjadi salah satu arah besar transformasi penyelenggaraan haji ke depan.
Menurutnya, kehadiran Kementerian Haji dan Umrah merupakan momentum untuk memperkuat substansi ibadah haji, bukan sekadar simbol atau status sosial.
“Jadi, bukan hanya sekadar gelar, tetapi lebih pada substansi. Jemaah harus punya kemampuan menjadi agen perubahan dan motor penggerak di masyarakat setelah kembali ke Indonesia,” ujar Harun saat hadir dalam forum diskusi bersama Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) di Kantor KPPU Jakarta.
Dalam forum tersebut, dia juga berharap KPPU dapat terlibat dalam pengawasan penyelenggaraan haji dan umrah, khususnya pada aspek bisnis dan tata kelola usaha.
Dia menuturkan, keterlibatan KPPU penting untuk menumbuhkan iklim usaha yang sehat dan kompetitif, sekaligus memastikan layanan terbaik bagi jemaah haji maupun umrah.
“Hal ini untuk menumbuhkan iklim usaha yang kompetitif dan memberikan layanan terbaik kepada jemaah,” katanya.
Harun menjelaskan, kesuksesan penyelenggaraan haji kedepan tidak hanya diukur dari kelancaran teknis pelaksanaan ritual. Lebih dari itu, pemerintah mendorong konsep Tri Sukses Haji, yakni sukses ritual, sukses penyelenggaraan dan sukses peradaban.
Dalam aspek ritual, Kementerian Haji dan Umrah terus melakukan pembenahan manasik agar lebih berkualitas dan seragam.
Tahapan krusial, seperti pergerakan jemaah dari Arafah, Muzdalifah hingga Mina menjadi perhatian serius, termasuk penerapan skema tanazul dan murur untuk memastikan ibadah berjalan tertib, aman, serta nyaman.
Selain pembenahan tata kelola dan ritual, perhatian juga diberikan pada layanan konsumsi.
Pemerintah meminta pelaku usaha di Arab Saudi, khususnya dapur – dapur penyedia katering bagi jemaah haji Indonesia, untuk memanfaatkan produk dalam negeri.
“Kita minta dapur – dapur yang melayani jemaah haji Indonesia dapat menggunakan produk Indonesia, seperti beras dan bumbu – bumbu bercita rasa nusantara,” tutur Harun.
Langkah ini tidak hanya bertujuan meningkatkan kenyamanan jemaah melalui cita rasa yang akrab di lidah, tetapi juga menjadi bentuk promosi dan dukungan terhadap produk nasional di tingkat global.
Dengan berbagai penguatan tersebut, Kementerian Haji dan Umrah optimistis penyelenggaraan haji Indonesia akan semakin berkualitas.
Harapannya, setiap jemaah yang kembali ke Tanah Air tidak hanya membawa predikat haji, tetapi juga menjadi teladan dan penggerak perubahan bagi masyarakat dan bangsa. I






