Kemenhub Kembangkan BRT Cekungan Bandung

Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan (Ditjen Hubdat Kemenhub) mengembangkan layanan Bus Rapid Transit (BRT) di kawasan Cekungan Bandung, yang merupakan bagian dari Mass Transit Project (MASTRAN).

Melalui sistem transportasi umum massal yang modern, efisien, terintegrasi dan berkelanjutan, BRT diharapkan dapat mengurangi waktu tempuh perjalanan, menekan kemacetan, serta menghadirkan layanan transportasi publik yang lebih cepat dan andal.

Pengembangan BRT Cekungan Bandung menjadi salah satu upaya dalam menjawab tantangan mobilitas di kawasan Bandung Raya yang masih menghadapi kemacetan.

Berdasarkan hasil kajian, kecepatan rata – rata bepergian di Bandung hanya sekitar 18 km/jam dan pengguna jalan diperkirakan kehilangan waktu hingga 108 jam setiap tahun akibat kemacetan.

Menurut Direktur Jenderal (Dirjen) Perhubungan Darat Aan Suhanan, masyarakat tidak hanya membutuhkan transportasi umum yang nyaman, tetapi juga memiliki waktu perjalanan yang pasti dan BRT dapat menjadi salah satu solusi untuk mengurangi kemacetan.

“Oleh karena itu, BRT Cekungan Bandung dirancang dengan jalur khusus, sistem operasi yang terintegrasi, dan dukungan Intelligent Transportation System (ITS) agar layanan menjadi lebih andal, cepat, dan konsisten,” ujarnya di Depo Leuwipanjang, Bandung, Jawa Barat.

Dirjen Aan menjelaskan, saat ini pembangunan sejumlah infrastruktur proyek BRT Cekungan Bandung telah dimulai di antaranya depo, halte, jalur khusus BRT hingga ITS.

Penerapan teknologi ITS akan membantu mengatur operasional layanan secara lebih efisien, sehingga diharapkan layanan BRT mampu memberikan kepastian waktu perjalanan dan masyarakat semakin tertarik beralih menggunakan angkutan umum.

Layanan BRT Cekungan Bandung ditargetkan beroperasi dengan headway maksimal tujuh menit pada jam sibuk dan maksimal 15 menit pada jam tidak sibuk, sehingga masyarakat dapat menikmati layanan yang lebih pasti, cepat dan dapat diandalkan.

Baca Juga:  Pergerakan Tinggi Hampir di Seluruh Moda Transportasi saat Puncak Arus Mudik Lebaran 2026

“Hal tersebut diharapkan dapat menjadi daya tarik utama untuk meningkatkan penggunaan transportasi public, sekaligus mengurangi kemacetan dan emisi di kawasan Bandung Raya,” jelas Dirjen Aan.

Adapun pengembangan BRT Cekungan Bandung merupakan bagian dari Mastran Project yang dijalankan melalui kolaborasi pembiayaan Pemerintah Indonesia bersama World Bank (WB) dan Agence Française de Développement (AFD).

Sejalan dengan itu, hasil analisis World Bank memproyeksikan pengembangan BRT Cekungan Bandung mampu mengurangi rata – rata waktu tempuh perjalanan sebesar 11% dari sekitar 45 menit menjadi 40 menit.

World Bank juga memperkirakan layanan BRT ini akan melayani sekitar 99.000 penumpang per hari dan 21% di antaranya diprediksi merupakan pengguna yang beralih dari kendaraan pribadi.

Selain dapat mempercepat waktu perjalanan, pengembangan layanan BRT diharapkan dapat mengurangi kemacetan, menekan konsumsi bahan bakar dan emisi karbon hingga 196.000 ribu ton CO2 secara bertahap.

“Kami juga berharap BRT Cekungan Bandung sekaligus dapat meningkatkan akses masyarakat menuju pusat kegiatan ekonomi, pendidikan dan pelayanan publik,” ujarnya.

Sementara itu, Operations Manager Bank Dunia untuk Indonesia dan Timor-Leste Alanna Simpson menyampaikan kesiapan pihaknya untuk terus mendukung Pemerintah Indonesia, terutama Kemenhub dan Pemerintah Porvinsi Jawa Barat.

Dukungan tersebut dalam memajukan sistem BRT di kawasan Cekungan Bandung untuk meningkatkan mobilitas, memperkuat konektivitas dan kesejahteraan masyarakat, serta menghadirkan transportasi umum yang lebih andal dan berkelanjutan.

Hal yang sama juga dikatakan oleh Duta Besar Prancis untuk Indonesia, Timor-Leste dan ASEAN Fabien Penone, bahwa Prancis melalui AFD telah berperan penting dalam mengembangkan sistem BRT Bandung bersama Kementerian Perhubungan dan Bank Dunia.

Proyek BRT sedang terwujud yang mencerminkan keinginan bersama Prancis dan Indonesia untuk bekerja sama di bidang manajemen perkotaan dan transportasi publik.

Baca Juga:  MENHUB APRESIASI KINERJA SELURUH INSAN TRANSPORTASI INDONESIA

Alanna menambahkan, ini juga menunjukkan minat Prancis dalam mengembangkan proyek – proyek konkret di Indonesia, khususnya di Kota Bandung.

Dirjen Aan berharap layanan BRT benar – benar dapat menjadi pilihan masyarakat dan penggunaan angkutan umum massal akan meningkat.

Dia optimistis, pengembangan layanan BRT dapat berdampak positif terhadap kelancaran lalu lintas di Bandung.

“Kami optimistis dengan dukungan dan sinergi semua pihak, seluruh pekerjaan dapat diselesaikan sesuai target, sehingga masyarakat di kawasan Cekungan Bandung segera menikmati layanan yang lebih aman, nyaman, efisien, terintegrasi dan berkelanjutan,” tuturnya.

Grup Agence Française de Développement (AFD) merupakan lembaga yang berkontribusi dalam pelaksanaan kebijakan Prancis untuk pembangunan berkelanjutan dan solidaritas internasional.

Selain itu, grup ini terdiri dari Agence française de développement (AFD), yang mendanai sektor publik, LSM, riset dan pelatihan, dengan anak perusahaannya, Proparco, yang didedikasikan untuk sektor swasta, lalu Expertise France, sebuah lembaga kerja sama teknis.

Grup ini mendanai, mendukung dan mempercepat transisi yang diperlukan untuk mewujudkan dunia yang lebih adil, serta tangguh.

Bersama para mitranya, Grup AFD membangun solusi bersama dengan dan untuk masyarakat di lebih dari 150 negara, serta di 11 Departemen dan Wilayah Seberang Laut Prancis.

Sebagai bagian dari komitmen Prancis dan rakyat Prancis untuk mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), tim – tim dalam Grup AFD sedang bekerja pada 4.200 proyek di lapangan.

Tujuan Grup AFD adalah menyeimbangkan pembangunan ekonomi dengan pelestarian kepentingan bersama, mulai dari perdamaian, iklim dan keanekaragaman hayati hingga kesehatan, pendidikan, serta kesetaraan gender. I

Kirim Komentar