Kemenhub Perkuat Sistem Kenavigasian Bersama IALA

Direktorat Jenderal Perhubungan Laut (Ditjen Hubla) melalui Direktorat Kenavigasian memperkuat keselamatan pelayaran melalui Seminar Keselamatan Pelayaran Bidang Kenavigasian yang menghadirkan para expert dari International Organization for Marine Aids to Navigation (IALA).

Kegiatan yang digelar pada 5 – 7 Oktober 2026 di Jakarta, seminar ini menjadi forum berbagi pengetahuan dan pengalaman global untuk meningkatkan keandalan penyelenggaraan kenavigasian sesuai standar nasional dan internasional.

Direktur Kenavigasian Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Hernadi Tri Cahyanto, yang mewakili Plt Direktur Jenderal Perhubungan Laut Lollan Panjaitan saat membuka seminar mengatakan, penguatan sistem kenavigasian perlu dilakukan secara menyeluruh.

Upaya tersebut mencakup penyediaan dan peningkatan Sarana Bantu Navigasi Pelayaran (SBNP), optimalisasi Vessel Traffic Services (VTS), penataan dan pengembangan alur pelayaran hingga pemutakhiran peta laut guna mendukung keselamatan, keamanan, serta kelancaran pelayaran.

“Kenavigasian merupakan salah satu faktor penting dalam mewujudkan keselamatan pelayaran. Oleh karena itu, kita perlu memastikan seluruh sistem dan layanan kenavigasian berjalan secara optimal, andal, serta sesuai standar internasional dan nasional,” tutur Hernadi.

Dia mengapresiasi dukungan IALA dalam penguatan kenavigasian di Indonesia. Kerja sama Ditjen Hubla dan IALA pada tahun 2024 – 2025 antara lain diwujudkan melalui Technical Mission di seluruh Distrik Navigasi, penyusunan rekomendasi Indonesia Strategic Plan untuk SBNP, VTS dan alur pelayaran, serta peningkatan kompetensi SDM melalui IALA Academy.

Kerja sama tersebut berlanjut pada periode tahun 2026 sampai dengan tahun 2028.

Salah satu tindak lanjutnya adalah Workshop Risk Assessment pada Alur Pelayaran Barat Surabaya (APBS) menggunakan Simplified IALA Risk Assessment Method (SIRA) sesuai IALA Guideline G1138 dan IMO Circular.

Kegiatan ini diharapkan menjadi pilot project penerapan penilaian risiko untuk mendukung perencanaan, penyelenggaraan dan evaluasi keselamatan pelayaran, termasuk pada alur pelayaran, SBNP, VTS, serta peta laut.

Baca Juga:  PEMERINTAH KIRIM BANTUAN KEMANUSIAAN KE LIBYA

Menurut Hernadi, kehadiran para expert IALA dalam seminar menjadi kesempatan untuk memperluas pengetahuan, bertukar pengalaman dan mendiskusikan perkembangan kenavigasian global.

“Hal ini penting untuk memperkuat keselamatan pelayaran sekaligus perlindungan lingkungan maritim,” katanya.

Indonesia dengan lebih dari 17.000 pulau dan sekitar 100.000 kilometer garis pantai memiliki tantangan besar dalam menjaga keselamatan pelayaran.

Sejalan dengan SOLAS Chapter V tentang Safety of Navigation, dia menegaskan bahwa keselamatan harus menjadi prioritas setiap kapal dan menjadi tanggung jawab bersama insan perhubungan serta masyarakat pelayaran.

“Edukasi menjadi kunci. Dengan pengetahuan yang tepat, kita dapat meningkatkan pemahaman dan upaya pelaksanaan keselamatan pelayaran,” ungkapnya.

Oleh karena itu, Ditjen Hubla mendorong regulator, operator, masyarakat pelayaran, akademisi, dan pemangku kepentingan lainnya untuk memahami pentingnya kenavigasian dalam mendukung kebijakan zero accident.

Hernadi juga menekankan pentingnya memastikan SBNP berfungsi baik dan sesuai ketentuan, VTS mampu memberikan informasi, mengatur lalu lintas, merespons kondisi marabahaya, dan berkomunikasi proaktif dengan kapal.

Peta laut dan elektronik juga harus selalu diperbarui, sementara setiap pelanggaran yang berpotensi membahayakan jiwa, barang dan lingkungan wajib dilaporkan.

Upaya tersebut perlu diperkuat melalui kolaborasi Ditjen Hubla dengan kementerian/lembaga, pemerintah daerah, badan usaha, operator pelayaran, pemanduan, dan masyarakat pelayaran, disertai penilaian risiko, evaluasi kinerja, pengawasan berkelanjutan, serta koordinasi antar pemangku kepentingan.

“Melalui sharing knowledge dan pengalaman dari para ahli dan IALA Expert, saya berharap seminar ini dapat meningkatkan pemahaman kita terhadap perkembangan pengetahuan dan informasi global, serta meningkatkan semangat dalam memberikan layanan keselamatan pelayaran yang prima,” jelas Hernadi. I

Kirim Komentar