Menteri Koordinator Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (Kemenko AHY) menyampaikan apresiasi tinggi kepada Delapan Kesultanan di kawasan Sumatra Timur, yang kini telah bertransformasi menjadi wilayah Sumatra Utara, yang hingga kini terus menjalankan peran sosial – keagamaan dan kebudayaan di tengah masyarakat.
Menurutnya, keberadaan Kesultanan tidak hanya memiliki nilai historis, tetapi juga tetap relevan dalam menjaga kohesi sosial, nilai – nilai keagamaan dan identitas budaya Melayu di Sumatra Utara (Sumut).
“Saya melihat Kesultanan bukan hanya sebagai penjaga sejarah, tetapi juga penjaga nilai, penjaga persatuan dan penjaga harmoni sosial di tengah masyarakat,” kata AHY.
Dia mengapresiasi berbagai peran yang masih dijalankan Kesultanan melalui pengelolaan masjid – masjid bersejarah, pembinaan masyarakat dan berbagai aktivitas social, serta keagamaan yang terus hidup hingga saat ini.
“Pemerintah akan terus mendorong sinergi antara Kesultanan, pemerintah daerah, BUMN dan berbagai program pemberdayaan masyarakat agar manfaat pembangunan dapat semakin dirasakan oleh masyarakat sekitar,” tutur Menko AHY.
Dia juga membuka ruang komunikasi lebih lanjut apabila terdapat kebutuhan pengembangan sarana pendidikan keagamaan maupun fasilitas sosial kemasyarakatan yang dapat disinergikan dengan program kementerian dan lembaga terkait.
“Bagi kami, pembangunan bukan hanya membangun infrastruktur fisik. Pembangunan juga harus memperkuat nilai – nilai sosial, budaya dan spiritual yang menjadi fondasi kehidupan masyarakat,” uagkap AHY.
Hadir dalam forum silaturahmi ini antara lain, Tengku Zainul Abiddin dari Kesultanan Kualuh Leidong, Tuanku Tengku Ahmad Thala’a dari Kesultanan Serdang, Tengku Faradiba dari Kesultanan Bilah, Tuanku Mahmud Aria Lamantjiji dari Kesultanan Deli, Tengku David Syah dari Kesultanan Panai, Tengku Irvan Bahran dari Kesultanan Kota Pinang, Tengku Arievanda Azis dari Kesultanan Langkat, Tengku Muhammad Alvin Anda Abdul Jalil Rahmadsyah dari Kesultanan Asahan, Pemangku Agung H. Syarifuddin Siba, dan Irwansyah Lubis. I







