Kemenko Perekonomian Dorong Revisi RUPTL Kejar Target PLTS 100 Gigawatt

Kementerian Koordinator (Kemenko) Bidang Perekonomian mendorong revisi Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) untuk mengakomodasi target pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) hingga 100 gigawatt peak (GWp) dalam beberapa tahun ke depan.

“Ini RUPTL mesti direvisi, karena di sini kebutuhannya masih sekitar 69,5 di tahun 2034, padahal Bapak Presiden kemarin mendorong agar dikembangkan proyek, terutama untuk solar panel sebesar 100 gigawatt-peak,” jelas Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto di Jakarta.

Menurutnya, target 100 GWp tersebut perlu dikejar dalam dua hingga tiga tahun ke depan, selain itu pengembangan pembangkit berbasis energi surya dan sistem penyimpanan baterai dinilai dapat membantu menekan emisi sektor energi.

“Jadi, kita menurunkan target daripada angka emisi mendekati nol di 2060, ini bisa maju 10 tahun hingga 15 tahun. Ini yang tentu menjadi PR bagi kita semua,” ujarnya.

Menko Airlangga menekankan pentingnya pembangunan jaringan transmisi dan smart grid agar pasokan listrik dari energi bersih dapat dimanfaatkan secara optimal.

Adapun total pembangunan jaringan transmisi yang disebutkan mencapai 47.758 kilometer.

Dia menuturkan, ketersediaan energi yang andal dan terjangkau juga diperlukan untuk mendukung perkembangan industri digital, khususnya pusat data.

Selain itu, pemerintah mendorong program listrik desa untuk memperluas akses listrik, dengan target pada tahun 2025 sebanyak 1.505 lokasi dan meningkat pada tahun ini menjadi 4.390 lokasi.

Airlangga mengatakan, jika program tersebut berjalan, tingkat elektrifikasi nasional dapat mendekati lebih dari 99%.

Selain itu, pengembangan energi hijau, lanjutnya, sekaligus menjadi bagian dari upaya mengurangi emisi sektor energi yang masih menjadi penyumbang emisi terbesar.

“Kalau ini semua jalan, elektrifikasinya kita mendekati di atas 99% dan indeks ketahanan energinya juga meningkat menjadi 7,13. Energi masih penyumbang emisi terbesar, oleh karena itu Bapak Presiden mendorong program 100 gigawatt tersebut,” jelasnya. I

Baca Juga:  Kolaborasi Teknologi dan Inklusi Sosial untuk Antisipasi Tantangan Kesehatan dan Iklim Menuju 2030

 

Kirim Komentar