Wakil Menteri Pariwisata (Wamenpar) Ni Luh Puspa meninjau kawasan Taman Nasional Bantimurung – Bulusaraung di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, belum lama ini.
Peninjauan dilakukan untuk melihat kesiapan fasilitas, kualitas layanan, serta aspek keamanan dan keselamatan wisatawan di salah satu destinasi unggulan Sulawesi Selatan tersebut.
Dalam kunjungan tersebut, Wamenpar meninjau langsung sanctuary kupu – kupu serta sejumlah fasilitas yang tersedia bagi wisatawan.
Dia juga melihat kondisi kebersihan area publik, fasilitas sanitasi dan ketersediaan dan kejelasan papan penunjuk jalur evakuasi sebagai bagian dari upaya mitigasi, serta kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana.
“Keamanan, keselamatan dan kebersihan adalah fondasi utama sektor pariwisata. Fasilitas dasar, seperti penandaan jalur evakuasi yang jelas dan ketersediaan kamar mandi yang bersih merupakan standar mutlak yang harus dijaga untuk memberikan pengalaman terbaik bagi wisatawan lokal maupun mancanegara,” ujar Wamenpar.
Dia juga berdiskusi dengan para pelaku usaha pariwisata lokal, pengelola kawasan, serta pemandu wisata.
Diskusi tersebut membahas strategi penguatan kapasitas pelaku pariwisata dan peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) masyarakat di sekitar taman nasional agar dapat semakin berperan dalam pengembangan pariwisata kawasan.
Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung memiliki beragam keunggulan dan daya tarik wisata kelas dunia. Salah satunya adalah kekayaan keanekaragaman kupu-kupu yang menjadikan Bantimurung dikenal sebagai The Kingdom of Butterfly dan menjadi habitat bagi berbagai spesies kupu – kupu, termasuk jenis langka dan endemik.
Kawasan ini juga memiliki bentang alam karst yang luas dengan panorama tebing – tebing karst yang khas dan menjadi bagian penting dari kekayaan geologi kawasan Maros – Pangkep yang telah mendapat pengakuan sebagai UNESCO Global Geopark.
Selain memiliki kekayaan geologi, kawasan konservasi ini menjadi habitat bagi beragam flora dan fauna endemik Sulawesi, di antaranya kera hitam Sulawesi (Macaca maura) dan kuskus beruang.
Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung juga menawarkan daya tarik wisata alam berupa air terjun dan jaringan gua alam dengan kekayaan stalaktit, stalagmit, serta nilai arkeologi yang memperkuat potensi kawasan sebagai destinasi wisata alam, edukasi, dan konservasi.
Keunggulan tersebut menjadi modal penting untuk mengembangkan Bantimurung Bulusaraung sebagai destinasi pariwisata berkualitas dan berkelanjutan yang tetap menempatkan pelestarian lingkungan, serta keterlibatan masyarakat sebagai bagian utama dalam pengelolaannya.
Kementerian Pariwisata (Kemenpar) berkomitmen untuk terus berkolaborasi dengan kementerian/lembaga terkait, pemerintah daerah, pengelola kawasan, pelaku pariwisata, dan komunitas lokal dalam memperkuat kualitas infrastruktur, layanan, serta promosi Geopark Bantimurung Bulusaraung agar semakin dikenal dan berdaya saing di tingkat internasional.
Kolaborasi tersebut juga diharapkan dapat memastikan pengembangan pariwisata memberikan manfaat ekonomi yang semakin luas bagi masyarakat sekitar tanpa mengabaikan fungsi konservasi dan keberlanjutan ekosistem.
“Saya berharap Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung tidak hanya dikenal sebagai destinasi wisata yang indah, tetapi juga menjadi contoh konkret pengelolaan pariwisata berkelanjutan berbasis konservasi dan pemberdayaan masyarakat,” jelas Wamenpar. I
