Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Faisol Riza menerima kunjungan Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Dyah Roro Esti Widya Putri guna membahas pemutakhiran ASEAN-India Trade in Goods Agreement atau AITIGA, baru – baru ini.
Bagi Indonesia, kata Wamenperin Riza, perundingan Indonesia perudingan ASEAN-India Trade in Goods Agreement atau AITIGA bukan hanya soal membuka tarif, melainkan ada yang lebih penting, yakni membuka akses pasar, memperbesar ekspor dan memastikan industri nasional siap bersaing.
“Sejumlah sektor memiliki peluang besar unutk pengembangan ekspor di antaranya industri baja, tekstil, elektronik, farmasi hingga hasil produk hilirisasi,” ujarnya.
Namun, Wamenperin Riza menambahkan, tantangannya juga nyata, seperti hambatan nontarif, standar persyaratan teknis dan tata niaga India.
“Oleh karena itu, Kementerian Perindustrian dan Kementerian Perdagangan memperkuat koordinasi, struktur pos tarif, peluang, risiko hingga daya saing setiap suksentor harus dipetakan dengan cermat,” ungkapnya.
Maka dari itu, Wamenperin Riza menegaskan bahwa AITIGA harus bekerja dua arah, bukan hanya membuka pasar Indonesia, tetapi membuka jalan lebih besar bagi produk Indonesia masuk ke India.
“Target akhirnya jelas, yakni ekspor tumbuh, nilai tambah meningkat dan industri nasional semakin kuat di pasar global,” tegasnya.
Berdasarkan data dan koordinasi kebijakan Kemenperin, Kemendag dan Badan Pusat Statistik (BPS) untuk nilai ekspor Indonesia ke India secara kumulatif sepanjang Januari – Mei 2026 berhasil menyentuh angka US$7,46 miliar.
Negara India menjadi salah satu mesin devisa terbesar bagi Indonesia, seperti pada periode Januari – Mei 2026, Indonesia mencatatkan surplus perdagangan sebesar US$5,29 miliar terhadap India, sehingga menjadikannya penyumbang surplus terbesar kedua bagi Indonesia setelah Amerika Serikat.
Ekspor Indonesia ke India masih didominasi oleh komoditas energi, olahan berbasis agro (hulu) dan bahan baku industri manufaktur.
Komoditas batu bara tetap menjadi tulang punggung ekspor terbesar dengan nilai mencapai US$1,98 miliar selama Januari – Mei 2026, meskipun nilainya mengalami koreksi turun sebesar 18,97% secara tahunan (year-on-year/yoy).
Sementara itu, pada periode yang sama, ekspor minyak kelapa sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) berada di posisi kedua terbesar dengan nilai US$1,08 miliar.
Berbeda dengan batu bara, ekspor CPO Indonesia ke India justru melonjak tajam sebesar 79,82% yoy.
Mengenai produk agro dan hasil bumi dalam negeri, pihak India secara khusus meminta Indonesia memperbesar pasokan ekspor untuk komoditas hulu agro, seperti kacang mete, gambir dan pinang. I







