Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus mendorong penguatan Industri Kecil dan Menengah (IKM) melalui perluasan akses pasar, promosi dan kemitraan agar produk lokal semakin berkualitas, inovatif, serta berdaya saing.
Menurut Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Faisol Riza, semangat tersebut hadir melalui Pameran Kerajinan Jogja Istimewa (PKJI) 2026, yang memasuki tahun kedelapan dan menjadi ruang bagi para perajin, serta IKM Yogyakarta untuk memperkenalkan karya terbaiknya.
“Mengusung tema Kerajinan Jogja: Harmoni Tradisi dan Inovasi, PKJI 2026 menjadi pertemuan antara kekayaan tradisi, kreativitas dan inovasi untuk membuka peluang pasar yang lebih luas, serta berkelanjutan,” katanya saat menyaksikan PKJI 2026 di Jakarta.
Terdata sebanyak 52 IKM dan perajin dari lima kabupaten/kota di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) berpartisipasi dalam PKJI 2026.
Beragam produk unggulan yang ditampilkan antara lain batik, lurik, fesyen, kriya, aksesori, kerajinan berbahan alam, serta berbagai produk kreatif lainnya.
Kekuatan utama IKM kerajinan terletak pada perpaduan antara nilai budaya dan kreativitas yang dapat dikembangkan menjadi produk bernilai tambah, sehingga inovasi perlu terus dilakukan tanpa menghilangkan karakter dan identitas produk yang menjadi pembeda.
Kerajinan memiliki keunggulan karena tidak hanya menawarkan produk, tetapi juga membawa cerita, identitas dan nilai budaya dari daerah asalnya, bahkan keunggulan tersebut perlu dipertahankan dan diterjemahkan melalui desain, kualitas, teknologi, serta inovasi.
Data Kemenperin menyebutkan bahwa IKM mencakup 4,45 juta unit usaha di tanah air atau setara dengan 99,79% dari total seluruh unit usaha industri di Indonesia.
Mengenai penyerapan tenaga kerja, sektor IKM mampu menampung sekitar 13,11 juta tenaga kerja, berkontribusi menyerap lebih dari 65% dari total tenaga kerja industri nasional.
Nilai ekspor industri kerajinan (kriya) yang didorong pelaku IKM pada Triwulan II/2026 menembus angka US$909,95 juta atau tumbuh 6,54% dibandingkan dengan periode tahun sebelumnya.
Sektor fesyen dan kriya secara akumulatif menyumbang Rp120,13 triliun terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional pada Triwulan I/2026. I







