Kolaborasi Pemadaman, Mitigasi dan Pencegahan Karhutla di Lahan Sawit

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Kristomei Sianturi mengajak Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) memperkuat kolaborasi pemadaman, mitigasi dan pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di area perkebunan sawit rakyat.

Langkah strategis ini disampaikan dalam Pertemuan Nasional Petani Kelapa Sawit Indonesia III sebagai wujud kerja sama menjaga keberlanjutan lingkungan, sekaligus produktivitas perkebunan sawit nasional.

Menurut Kepala BNPB, pihaknya sepanjang tahun 2026 mencatat sebanyak 55,6% akumulasi hotspot atau titik panas berada di ekosistem lahan gambut, sedangkan 7,8% berada di sekitar lahan konsesi sawit.

Puncak masa rawan terjadi pada rentang Agustus hingga Oktober di enam provinsi prioritas, yakni Kalimantan Tengah, Riau, Kalimantan Barat, Sumatra Selatan, Jambi, dan Papua Selatan.

Menurut Kepala BNPB, karhutla besar yang melanda sejumlah wilayah harus dikendalikan dan ditangani dengan komprehensif. Kolaborasi atau kerja sama antara BNPB dan Apkasindo dibutuhkan agar tidak lagi terjadi bencana kabut asap. “Antara BNPB – Apkasindo ini perlu kerja sama, perlu kolaborasi.”

Dia menegaskan, pentingnya kolaborasi atau kerja sama semua pihak dalam penanggulangan bencana asap yang responsif, integratif dan sinkronisasi dalam setiap tahapannya.

“Jadi tiga pilar utama kami adalah pencegahan, mitigasi, dan tanggap darurat,” tegasnya.

Pada kesempatan itu, Kristomei mengungkapkan hingga 26 Oktober 2026, akumulasi titik panas nasional melonjak drastis hingga 1.296.184 titik atau 2,13 kali lipat lebih tinggi dibandingkan dengan tahun 2019.

Fenomena iklim El Niño menjadi pemicu utama kekeringan ekstrem, dengan puncaknya terjadi pada September (446.262 titik).

Lonjakan signifikan tercatat di Kalimantan Tengah (naik 162%) dan Papua Selatan (melonjak hingga 814%).

BNPB menegaskan pentingnya penerapan prinsip zero burning atau kebun tanpa api sesuai standar sertifikasi RSPO (Roundtable on Sustainable Palm Oil) dan ISPO (Indonesian Sustainable Palm Oil) melalui Permentan 33/2025.

Baca Juga:  Pemerintah Kaji Regulasi Hingga Tingkatkan Dana Replanting Sawit

Kepatuhan terhadap standar pencegahan karhutla, kepemilikan SOP, sekat kanal, dan peralatan pemadam dasar tidak hanya mencegah bencana, tetapi juga memberi nilai tambah agar Tandan Buah Segar (TBS) petani dapat diterima pasar global.

Sebagai langkah praktis di lapangan, para petani diimbau melakukan pembukaan lahan secara manual atau mekanis serta memanfaatkan sisa-sisa tebangan menjadi kompos.

“Bentuk Kelompok Tani Peduli Api atau KTPA yang terlatih,” ujar Kepala BNPB pada langkah kedua.

Dia menambahkan, kebutuhan akan penyediaan alat pemadam dasar, sumber air dan sekat kanal di lahan gambut.

“Jika terjadi kebakaran, pastikan seluruh anggota memegang nomor kontak darurat Call Center BNPB di 117,” jelasnya.

Guna meningkatkan transparansi dan deteksi dini, BNPB memanfaatkan pemantauan multi-satelit secara real-time.

Teknologi ini mampu menelusuri asal mula api, arah perambatan hingga riwayat perubahan lahan secara akurat.

Sebagai tindak lanjut konkret, BNPB bersama DPP Apkasindo berencana membangun sistem peringatan dini atau EWS terintegrasi.

Melalui pendaftaran koordinat kebun oleh pengurus DPW/DPD dan penunjukan narahubung KTPA, notifikasi titik panas dari satelit akan langsung dikirimkan secara otomatis ke ponsel pengurus untuk verifikasi dan penanganan cepat bersama BPBD setempat.

“Mari kita tegaskan komitmen bersama untuk melestarikan lingkungan dan menjaga perkebunan sawit rakyat tanpa api demi keselamatan dan kesejahteraan petani di seluruh Indonesia,” ungkap Kepala BNPB. I

 

Kirim Komentar