Kolaborasi Strategis IKEA dan Indonesia Jadi Peluang Tembus Pasar Global

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) dan pelaku usaha sektor industri furnitur membahas sejumlah tantangan yang dihadapi, khususnya terkait dengan implementasi Standar Nasional Indonesia (SNI) dan dinamika rantai pasok global yang turut memengaruhi operasional industri.

Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Faisol Riza menerima audiensi jajaran IKEA, perusahaan ritel multinasional asal Swedia yang mendesain dan menjual furnitur rakitan (ready-to-assemble), perabotan rumah tangga, serta aksesori.

“Saya menerima audiensi dari IKEA untuk membahas beberapa hal, di antaranya mengenai penguatan kerja sama industri, khususnya dalam mendorong peningkatan local sourcing dan integrasi pemasok Indonesia ke dalam rantai pasok global,” jelasnya di Jakarta.

Jajaran perusahaan IKEA, kata Wamenperin Riza, menyampaikan perkembangan operasionalnya di Indonesia, termasuk kontribusi terhadap ekspor, pengembangan Usaha Menengah, Kecil dan Mikro (UMKM) melalui program kemitraan, serta peran pemasok lokal yang saat ini telah menjadi bagian dari jaringan produksi global mereka.

“Kami juga mendiskusikan sejumlah tantangan yang dihadapi, khususnya terkait implementasi SNI dan dinamika rantai pasok global yang turut memengaruhi operasional industry furnitur,” ungkapnya.

Menurut Wamenperin Riza, hal ini menjadi penting untuk memastikan bahwa kebijakan yang ada tetap mampu mendorong daya saing, sekaligus memberikan kepastian bagi pelaku usaha.

“Saya mendorong agar IKEA terus meningkatkan keterlibatan pemasok lokal, baik dari sisi kapasitas maupun kualitas, sehingga dapat semakin terintegrasi dalam rantai pasok global,” tuturnya.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menargetkan Indonesia menjadi hub produksi manufaktur furnitur global melalui penguatan hilirisasi kayu berkelanjutan dan peningkatan daya saing industri nasional.

Industri furnitur merupakan model hilirisasi kayu yang krusial karena bersifat padat karya, mampu menciptakan nilai tambah dan memberikan efek berganda bagi pertumbuhan ekonomi dalam negeri.

Baca Juga:  Pemerintah Catat KEK Serap Investasi Rp82,6 Triliun Selama Tahun 2024

Bahkan, sektor industri furnitur juga menyerap ratusan ribu tenaga kerja dan terhubung langsung dengan pasar global yang nilainya mencapai lebih dari US$736,21 miliar.

Dalam lima tahun ke depan, Indonesia diproyeksikan tidak hanya meningkatkan kapasitas produksi, tetapi juga mampu memimpin dalam aspek desain dan keberlanjutan.

Kinerja sektor ini bahkan mampu melampaui pertumbuhan ekonomi nasional, bahkan berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan industri pengolahan pada tahun 2025 tercatat sebesar 5,30%, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional yang mencapai 5,11%. I

Kirim Komentar