Kementerian Perindustrian (Kemenperin) dan jajaran pelaku usaha sepatu Nike membahas penguatan industri alas kaki dan peluang akses pasar hingga go international.
Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Faisol Riza beserta jajaran Kemenperin bertemu dengan Vice President of Government and Public Affairs Nike dan jajarannya di Kantor Kemenperin, Jakarta.
“Kami membahas tentang penguatan industri dan peluang akses pasar menjadi pembahasan, apalagi Nike membuka pabriknya di Indonesia dengan kapasitas produksi sebanyak 200 juta pasang alas kaki dalam setahun,” kata Wamenperin Riza.
Indonesia, dia menambahkan, menjadi basis produksi terbesar kedua sepatu dengan brand Nike di dunia dan sekitar 80% produksinya ditujukan untuk pasar ekspor.
“Kemitraan antara Indonesia dengan Nike hampir 40 tahun dan harus terus mendorong daya saing industri, serta memperkuat lapangan kerja,” ungkap Wamenperin Riza.
Menurutnya, ekspansi usaha Nike terus berlanjut, dengan pembangunan pabrik baru di Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah yang kini telah beroperasi, sedangkan dua pabrik lainnya, yakni di Cirebon dan Temanggung ditargetkan beroperasi dalam 18 bulan hingga 24 bulan mendatang.
“Pemerintah berkomitmen mendampingi pelaku industri, termasuk Industri Kecil dan Menengah atau IKM dalam rantai pasok agar mampu memenuhi ketentuan pasar global,” tutur Wamenperin Riza.
Berdasarkan data dari Kemenperin dan Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2026 terdata bahwa sektor industri alas kaki nasional mencatatkan kapasitas penyerapan tenaga kerja yang besar, dengan potensi atau total tenaga kerja langsung mencapai sekitar 966.147 orang per Agustus 2026, sedangkan data sebelumnya mencatat 272.000 orang pada basis tertentu.
Mengenai kinerja pertumbuhan, yakni pada Triwulan I/2026 terdata sektor alas kaki dan kulit menunjukkan kinerja yang positif, dengan industri kulit, barang dari kulit, dan alas kaki tumbuh 8,31% dengan mengacu pada data awal tahun.
Pada Triwulan II/2026, pertumbuhan subsektor industri kulit dan alas kaki melonjak signifikan hingga 11,30%, didorong oleh kebangkitan industri padat karya dan tren produk lokal (lokal pride).
Data Kemenperin menunjukkan bahwa realisasi investasi di sektor industri alas kaki pada Kuartal I/2026 tercatat mencapai sekitar Rp5,83 triliun.
Industri alas kaki sempat mengalami kontraksi pada Agustus 2026 akibat adanya ketidakpastian permintaan pasar global dan hambatan perdagangan.
Kemenperin terus menempatkan industri Tekstil, Produk Tekstil (TPT) dan alas kaki sebagai prioritas utama pengembangan sektor padat karya untuk menopang Produk Domestik Bruto (PDB) nasional periode 2026 – 2029. I
