Pemerintah terus mendorong transformasi perkebunan nasional melalui penguatan hilirisasi dan peningkatan produktivitas untuk mendongkrak nilai tambah komoditas sekaligus meningkatkan kesejahteraan pekebun.
Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Alim Setiawan Slamet turut mendorong agar lebih dari 90% ekspor perkebunan ke depan berbentuk produk turunan, sehingga Indonesia tidak lagi bergantung pada ekspor bahan mentah.
“Sektor perkebunan memiliki peran strategis dalam mendukung agenda swasembada pangan dan energi, sekaligus memperkuat industrialisasi nasional sebagaimana tertuang dalam Asta Cita Presiden Prabowo Subianto,” katanya saat menghadiri International Conference and Expo on Palm Oil and Others (ICExPO) 2026 di Kantor Pusat Kementerian Pertanian, Jakarta.
Menurut Wamentan Alim, komoditas sawit, kakao dan kelapa, khususnya, memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi produk bernilai tambah tinggi.
“Perkebunan bukan hanya sumber devisa. Perkebunan juga menopang ekonomi, menciptakan lapangan kerja, menyejahterakan masyarakat, dan menjadi tumpuan energi terbarukan kita ke depan,” ujarnya.
Pemerintah telah mencanangkan program hilirisasi tujuh komoditas perkebunan unggulan sejak 2025, yakni tebu, kelapa, kopi, kakao, jambu mete, lada dan pala.
Program ini menjadi bagian dari upaya mengubah struktur industri perkebunan nasional agar tidak hanya mengandalkan penjualan bahan mentah, tetapi mampu menghasilkan produk olahan dengan nilai ekonomi lebih tinggi.
Wamentan Alim menjelaskan bahwa saat ini sekitar 20% hingga 30% ekspor perkebunan Indonesia masih berupa bahan mentah.
Pemerintah menargetkan lebih dari 90% ekspor perkebunan ke depan dapat berbentuk produk turunan.
“Target kita ke depan, mudah – mudahan kita bisa mencapai lebih dari 90% ekspor perkebunan sudah dalam bentuk produk turunan,” ungkapnya.
Dari sisi hulu, program hilirisasi tersebut mencakup perluasan, peremajaan, dan rehabilitasi perkebunan seluas sekitar 870.000 hektare.
Pelaksanaannya dimulai dari penyiapan lahan, penyediaan benih unggul bermutu, hingga penerapan praktik budidaya yang baik.
Pada tahun 2026, pemerintah mengembangkan kawasan kakao seluas 174.000 hektare dan kawasan kelapa seluas 151.554 hektare.
Wamentan Alim mencontohkan besarnya potensi nilai tambah komoditas kelapa apabila diolah menjadi berbagai produk turunan.
Kelapa butiran yang dihargai sekitar Rp1.350 per kilogram berpotensi menghasilkan minyak kelapa dengan nilai sekitar Rp60.000 per liter.
Sementara itu, jika diolah menjadi Virgin Coconut Oil (VCO), nilainya dapat mencapai Rp145.000 per liter atau lebih dari 100 kali lipat.
“Ini bukan sekadar hitungan di atas kertas. Pada Oktober tahun lalu, produk hilirisasi kelapa dari Maluku Utara juga sudah diekspor ke Tiongkok,” jelasnya.
Selain kelapa dan kakao, pemerintah juga memperkuat pengembangan tebu untuk mewujudkan swasembada gula konsumsi.
Ketergantungan terhadap impor gula yang rata-rata mencapai sekitar Rp44 triliun per tahun menjadi salah satu alasan pemerintah memperluas areal tebu dan melaksanakan program Bongkar Ratoon sejak tahun 2025.
Lebih jauh, Wamentan Alim menekankan bahwa perkebunan juga memiliki posisi strategis dalam memperkuat ketahanan energi nasional.
“Di tengah ketidakpastian geopolitik dan gangguan pasokan energi global, pemerintah mendorong pemanfaatan komoditas perkebunan sebagai bahan baku energi terbarukan,” tuturnya.
Salah satu langkah yang didorong adalah penerapan mandatori biodiesel B50 sebagai tonggak menuju swasembada energi.
Pemerintah juga menyiapkan pengembangan bioetanol E10 secara bertahap dengan memanfaatkan bahan baku tebu, ubi kayu, jagung, sorgum, dan jambu mete.
Guna mendukung agenda tersebut, pemerintah menyiapkan pengembangan sawit untuk bioenergi seluas 2 juta hektare hingga 5 juta hektare.
Sementara itu, pengembangan bahan baku bioetanol mencakup tebu, jagung dan ubi kayu.
Pengembangan ini dirancang secara terintegrasi dari hulu hingga hilir dengan memanfaatkan lahan yang tersedia sesuai ketentuan.
Wamentan Alim menambahkan bahwa transformasi perkebunan tidak dapat dilepaskan dari dukungan riset dan inovasi.
“Pengembangan varietas unggul berproduktivitas tinggi, budidaya presisi, mekanisasi, pemanfaatan kecerdasan artifisial hingga pengembangan produk hilir bernilai tinggi perlu terus diperkuat,” katanya.
Dia mencontohkan, kelapa yang dapat diolah menjadi beragam produk, mulai dari VCO, santan, air kelapa, coco fiber, coco peat, arang aktif hingga pakan ternak.
Pemanfaatan seluruh bagian komoditas tersebut tidak hanya meningkatkan nilai ekonomi, tetapi juga membuka peluang pengembangan industri yang lebih efisien dan minim limbah.
“Teknologi dan inovasi harus mengubah keunggulan komparatif yang kita miliki menjadi keunggulan kompetitif,” tegasnya.
Melalui penyelenggaraan ICExPO 2026 yang memasuki tahun kesembilan, Wamentan Alim berharap forum tersebut dapat menjadi ruang kolaborasi yang menghasilkan gagasan, teknologi dan terobosan konkret untuk menjawab kebutuhan pekebun sawit, kakao, serta kelapa.
Dia menekankan pentingnya pembagian peran yang jelas di antara seluruh pemangku kepentingan.
Pemerintah menyiapkan regulasi, insentif, infrastruktur, industri diharapkan memperkuat investasi pengolahan serta menyerap hasil produksi pekebun, sedangkan pekebun dan koperasi didorong menjaga mutu dan kontinuitas pasokan.
Dukungan pembiayaan, riset, inovasi dan pendampingan juga menjadi bagian penting dalam membangun perkebunan nasional yang berdaya saing, serta berkelanjutan.
“Kami berharap melalui ICExPO 2026 bisa menjadi ruang diskusi yang melahirkan terobosan tepat guna, bukan hanya untuk sawit, tapi juga untuk kelapa dan kakao,” ungkapnya. I







