Peluang optimalisasi kapasitas produksi masih terbuka, termasuk melalui penguatan peran Indonesia sebagai basis ekspor kendaraan.
Bahkan, pemerintah mendukung langkah tersebut dan mendorong kolaborasi yang semakin erat antara pelaku industri dan pemerintah, sehingga industri otomotif nasional dapat terus tumbuh, semakin berdaya saing dan memberikan kontribusi yang lebih besar bagi perekonomian nasional.
Untuk itu, Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Faisol Riza menerima kunjungan manajemen PT Hino Motors untuk berdiskusi mengenai perkembangan industri kendaraan niaga serta penguatan peran manufaktur Hino di Indonesia.
“Saya menerima kunjungan PT Hino Motors untuk berdiskusi dan disampaikan mengenai komitmen terus berkontribusi melalui berbagai cara,” jelasnya.
Komitmen untuk terus berkontribusi tersebut, dia menambahkan, melalui peningkatan investasi, penguatan produksi dalam negeri dan pengembangan teknologi ramah lingkungan, termasuk kendaraan listrik, serta hidrogen.
Saat ini, investasi PT Hino Motors telah mencapai US$112,5 juta dengan didukung kapasitas produksi sebesar 75.000 unit per tahun dan penyerapan 1.547 tenaga kerja, yang menjadi fondasi penting dalam menjaga kinerja industri di tengah dinamika pasar yang terus berkembang.
“Manajemen Hino menyampaikan bahwa kapasitas produksi di Indonesia telah mencapai 75.000 unit per tahun, tapi utilisasinya masih belum optimal akibat dinamika permintaan domestik, tekanan impor dan keterbatasan pasar ekspor,” ujar Wamenperin Riza.
Sementara itu, sebagai upaya mendukung peningkatan nilai tambah dalam negeri, PT Hino Motors juga telah mencapai Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) dan Bobot Manfaat Perusahaan (BMP) pada 31 tipe kendaraan sebesar 44,35% hingga 57,26%.
“Bahkan, untuk enam tipe kendaraan mencapai 71,85% dan memperkuat kontribusi pada program CSR melalui pendidikan vokasi dan dukungan fasilitas laboratorium,” tutur Wamenperin Riza.
Berdasarkan data dan laporan terkait Kementerian Perindustrian (Kemenperin) per April 2026 tercata industri otomotif roda empat atau lebih di Indonesia, termasuk kendaraan niaga, didukung oleh 26 perusahaan dengan total kapasitas produksi mencapai 2,35 juta unit per tahun.
Kemenperin mencatat adanya peningkatan kebutuhan kendaraan niaga domestik yang dipenuhi oleh impor.
Terdapat selisih sekitar 4.000 unit penjualan kendaraan niaga antara produksi domestik dan impor per April 2026, dengan produk impor cukup mendominasi kebutuhan domestik.
Selain itu, Kemenperin sedang memacu peningkatan produksi domestik untuk kendaraan niaga (terutama kelas menengah) agar tidak bergantung pada impor dan memperkuat pasar dalam negeri. I






