Pemerintah Resmikan 39 Titik Sumber Air Bersih di NTT

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) meresmikan sumur bor sebagai sumber air bersih di 13 kabupaten/kota di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Kamis (28/8).

Sumur bor tersebut diresmikan langsung oleh Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto di salah satu titik lokasi yang berada di Desa Kiuola, Kecamatan Noemuti, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU).

Dia menjelaskan, pembangunan sumur bor yang tersebar di 13 kabupaten di NTT ini totalnya berjumlah 39 titik, dengan setiap daerah dibangun tiga titik lokasi sumber air bersih.

Pembangunan dilakukan sebagai upaya pemerintah untuk menanggulangi bencana krisis air bersih akibat kekeringan di musim kemarau yang kerap kali melanda sebagian wilayah NTT.

“NTT kita tahu bersama merupakan wilayah yang banyak sekali tantangannya yang harus dihadapi oleh masyarakat termasuk krisis air bersih di musim kemarau,” jelasnya.

Pemilihan lokasi pembangunan sumur bor dilaksanakan berdasarkan usulan masyarakat melalui pemerintah daerah ataupun komunitas masyarakat kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).

Hal tersebut dilakukan agar sumur yang dibangun benar – benar di wilayah yang paling membutuhkan.

“Jadi, ini memang usulan dari bawah, jadi masyarakat yang betul-betul sangat membutuhkan akses air bersih, misalnya daerah terpencil warganya harus mengambil air dari sumber yang jauh yang sulit dijangkau, jadi kami hadirkan akses air bersih melalui program ini,” jelas Suharyanto usai meresmikan sumur bor.

Dia menambahkan, pembangunan sumur bor yang dilakukan sepanjang 2024 – 2025 menggunakan anggaran yang bersumber dari Dana Siap Pakai (DSP) yang diperuntukan bagi penanganan darurat bencana di suatu wilayah.

Biaya pembangunan satu titik sumur bor di NTT, lanjutnya, berkisar paling kecil Rp400 juta dan paling tinggi biayanya mencapai sebesar Rp800 juta.

Baca Juga:  Presiden Jokowi ke Aceh untuk Buka PON XXI 2024

“Biayanya tidak sedikit, bahkan kalau di sini bisa Rp800 juta per titik itu di Jawa Barat bisa untuk empat sumur, jadi dari sini kita pahami bahwa dana bagi pemerintah tidak masalah yang penting solusi dari permasalahan krisis air ini jadi prioritas,” tutur Suharyanto.

Sumur bor yang dibangun ini memiliki kedalaman mencapai 120 meter hingga 130 meter.

Hal tersebut tidak mengherankan karena kondisi geografis NTT tergolong sulit mendapatkan air ini disebabkan oleh kombinasi iklim kering dan curah hujan rendah, musim kemarau yang panjang dan topografi pegunungan, serta lahan berbatu yang membuat tanah kurang mampu menyimpan air.

Satu titik sumur bor yang dibangun BNPB ini diperkirakan dapat dimanfaatkan oleh 112 Kepala Keluarga (KK), sehingga total dari 39 titik ini, lebih dari 4.000 orang warga dapat memanfaatkan sumber air bersih ini untuk memenuhi kebutuhan sehari – hari.

Informasi ke-13 daerah yang mendapatkan program pembangunan sumur bor ini di antaranya selain Kabupaten Timor Tengah Utara, adalah Kabupaten Kupang, Kabupaten Belu, Kabupaten Saburai Jua, Kabupaten Rotendao, Kabupaten Lembata, Kabupaten Sumba Timur, Kabupaten Sumba Barat, Kabupaten Sumba Tengah, Kabupaten Sumba Barat Daya, Kabupaten Nagekeo, dan Kabupaten Manggarai Timur.

Kepala BNPB Suharyanto berharap dari ketiga belas daerah ini menjadi pijakan awal untuk melanjutkan program pembangunan sumur bor sebagai sumber air bersih di NTT selanjutnya.

“Ini pokoknya kita lanjutkan terus, paling tidak dari pembangunan tahap awal ini di 13 kabupaten, kita mendapat pembelajaran bagaimana karakteristik setiap daerah sehingga tahap berikutnya bisa lebih baik,” ungkapnya. I

Kirim Komentar