Pemkot Bandung Dorong Kuliner dan Sport Tourism Naik Kelas

Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung mendorong kuliner dan sport tourism sebagai penggerak ekonomi yang membuka peluang usaha masyarakat, sekaligus menarik wisatawan.

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menyampaikan hal tersebut saat menghadiri pelantikan pengurus Asosiasi Kafe dan Restoran (AKAR) Jawa Barat.

Dia menilai, Persib Bandung turut menggerakkan ekonomi melalui pertandingan dan pengelolaan eksklusif Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA).

“Persib itu generate a lot of economy. Dengan hak eksklusif mereka mengelola GBLA, memberikan peluang banyak sekali untuk para pengusaha untuk masuk ke seputaran GBLA dan membangun wisata kuliner di sana,” kata Farhan.

Pertandingan Persib menarik penonton dari luar Bandung, sehingga meningkatkan aktivitas usaha kuliner dan akomodasi di sekitar lokasi.

Farhan menyebutkan, sport tourism mampu mendatangkan wisatawan sekaligus menggerakkan pengeluaran mereka untuk menginap, makan, berbelanja dan berwisata. “Sport tourism ini mendatangkan banyak sekali rezeki ke Kota Bandung.”

Kegiatan olahraga seperti lomba lari juga menarik peserta luar daerah yang tinggal beberapa malam dan membelanjakan uangnya di Bandung.

“Orang luar Bandung datang ke Bandung jadi peserta selama dua malam. Ini peluang yang kita sebut sebagai trickle down effect,” ujarnya.

Menurut Farhan, kuliner juga menjadi bagian penting identitas Bandung karena wisatawan membutuhkan tempat makan dan akomodasi selama berkunjung.

“Bisnis kuliner dan bisnis akomodasi di Kota Bandung menjadi sangat penting. Inilah sebabnya saya sangat menghargai hadirnya asosiasi kafe dan restoran atau AKAR,” ungkapnya.

Farhan berharap AKAR menjadi wadah komunikasi dan pengembangan usaha tanpa membatasi persaingan melalui praktik kartel.

Persaingan sehat dinilai mendorong pelaku usaha terus berinovasi sehingga industri kuliner Jawa Barat semakin kuat dan kompetitif.

“Tantangan kita semua adalah bagaimana memperkuat kebersamaan antar pelaku usaha. Gesekan kepentingan para pelaku usaha bukanlah hal yang perlu kita hindari dalam kerangka persaingan yang sehat,” jelasnya.

Baca Juga:  Kemenpar Dorong Penguatan Tata Kelola Akomodasi Pariwisata Bali

Farhan juga mendorong inovasi untuk meningkatkan nilai jual makanan local, seperti cilok, cireng dan seblak yang kini berkembang menjadi produk bernilai tinggi.

“Cilok, cireng dan seblak, zaman kita kecil adalah makanan sederhana, tapi sekarang cireng, cilok dan seblak bisa anda makan di pelataran Rp100.000 sepiring,” ungkapnya.

Menurut Farhan, inovasi tersebut membuktikan makanan lokal dapat berkembang menjadi daya tarik wisata, sekaligus produk ekonomi bernilai tambah.

Dia meminta pelaku usaha tidak berhenti memperbaiki manajemen, tetapi terus mengembangkan menu dan pengalaman kuliner yang membawa identitas budaya.

“Artinya, kreativitas dari para pelaku dan anggota AKAR jangan berhenti di masalah manajemen. Tetap harus ada inovasi-inovasi yang memberikan nilai tambah kepada menunya itu sendiri sebagai bagian dari kekayaan budaya kita,” katanya.

Wakil Gubernur Jawa Barat Erwan Setiawan menilai kuliner berkaitan langsung dengan ekonomi, lapangan pekerjaan, pariwisata, budaya dan identitas daerah.

“Kalau kita bicara kuliner sebenarnya kita bukan hanya berbicara soal makanan dan minuman. Kita sedang bicara tentang ekonomi, lapangan pekerjaan, pariwisata, budaya dan identitas Jawa Barat,” jelasnya.

Jawa Barat memiliki kekayaan kuliner dari 27 kabupaten dan kota, termasuk nasi timbel, karedok, lotek, batagor, surabi, peuyeum hingga seblak.

Erwan berharap AKAR periode 2026 – 2031 memperkuat inovasi dan branding kuliner lokal agar semakin dikenal dan bernilai ekonomi.

Dia meminta AKAR menjadi penggerak ekosistem usaha yang sehat, sekaligus membuka ruang investasi tanpa membentuk kartel.

“Silakan dari manapun, siapapun untuk berusaha di Jawa Barat. Silakan untuk berinvestasi di Jawa Barat. Tetapi tetap saya tekankan karyawannya harus warga Jawa Barat dan makanannya pun harus yang berciri khas Jawa Barat,” ungkapnya.

Baca Juga:  KEMENPAREKRAF SERAHKAN DAK PARIWISATA UNTUK TINGKATKAN AMENITAS DAN ATRAKSI WISATA

Erwan melihat peningkatan akses transportasi Jakarta – Bandung membuka peluang lebih besar bagi wisatawan yang datang khusus menikmati kuliner.

“Kita harus menangkap peluang-peluang itu. Tantangan kita hari ini dan ke depan adalah bagaimana makanan yang enak ini naik kelas menjadi bisnis yang kuat. Bagaimana kuliner lokal bisa memiliki branding yang kuat,” katanya.

Dia meminta pengurus AKAR tidak sekadar menjalankan organisasi, tetapi menjadi motor penggerak industri kuliner Jawa Barat.

“Jangan hanya menjadi pengurus organisasi. Jadilah penggerak ekosistem kuliner di Jawa Barat,” ujarnya. I

 

Kirim Komentar