Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mendorong penguatan Usaha Menengah, Kecil dan Mikro (UMKM) sebagai penggerak pemerataan ekonomi setelah kunjungan wisatawan ke Kota Bandung mencapai lebih dari 12 juta orang sepanjang tahun 2025, sehingga perputaran ekonomi masyarakat meningkat.
Dia menjelaskan, tingginya kunjungan wisatawan membuat aktivitas usaha di berbagai sektor semakin berkembang.
“Kota Bandung saat ini telah menjadi salah satu destinasi wisata utama di Indonesia. Pada tahun 2025 saja tercatat lebih dari 12 juta wisatawan berkunjung ke Kota Bandung,” ujar Farhan.
Lonjakan kunjungan wisata memberi dampak pada perputaran uang di sektor perdagangan, kuliner, jasa dan usaha kreatif masyarakat.
Farhan menilai kondisi tersebut mendorong Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung terus memperbaiki berbagai aspek pembangunan kota agar pertumbuhan ekonomi semakin kuat.
Data Badan Pusat Statistik menunjukkan pertumbuhan ekonomi Kota Bandung mengalami perkembangan positif meskipun belum sepenuhnya pulih, seperti sebelum pandemi Covid-19.
Pandemi yang mulai terjadi pada Maret 2020 memberi dampak besar terhadap berbagai sektor ekonomi di Kota Bandung.
Farhan menyebutkan, beberapa sektor masih mengalami pemulihan lambat, termasuk transportasi setelah penutupan Bandara Husein Sastranegara.
Sektor industri pengolahan juga menunjukkan pertumbuhan yang relatif kecil dibandingkan dengan sektor lain.
Wali Kota Bandung menilai, pertumbuhan ekonomi tidak harus bertumpu pada industri besar karena usaha kecil masyarakat juga mampu menjadi penggerak ekonomi daerah.
“Industri pengolahan tidak harus selalu dalam skala besar. Usaha kecil di tingkat rumah tangga juga termasuk industri pengolahan, seperti produksi makanan, pakaian, sepatu, tahu hingga berbagai produk kerajinan,” ungkapnya.
Pemerintah Kota Bandung terus mendorong pengembangan usaha produktif masyarakat agar kapasitas produksi meningkat dan pasar semakin luas.
Langkah tersebut diharapkan mampu menciptakan pertumbuhan ekonomi, sekaligus memperluas kesempatan kerja bagi masyarakat.
Farhan menilai penguatan usaha mikro kecil dan menengah membantu pemerataan ekonomi karena manfaat pertumbuhan dapat dirasakan lebih luas oleh warga.
Data Badan Pusat Statistik mencatat tingkat ketimpangan ekonomi Kota Bandung berada pada angka gini rasio 0,42.
Angka tersebut menurun dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang berada di angka 0,44 tetapi masih lebih tinggi dari rata – rata nasional sebesar 0,36.
“Artinya, sebagian besar sumber daya ekonomi masih dikuasai oleh kelompok masyarakat yang relatif kecil. Inilah tantangan besar yang harus kita hadapi bersama,” tuturnya.
Pemerintah Kota Bandung berharap penguatan usaha mikro kecil dan menengah dapat memperluas distribusi pendapatan sehingga kesejahteraan masyarakat meningkat lebih merata. I





