Sebanyak sembilan Sekolah Lanjut Usia (Lansia) di Kota Yogyakarta tahun 2026 kembali mulai berjalan usai dikukuhkan pada Februari lalu.
Program ini menjadi salah satu upaya Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta dalam meningkatkan kualitas hidup lansia agar tetap sehat, mandiri, aktif dan produktif.
Kepala Bidang Keluarga Berencana dan Pembangunan Keluarga DP3AP2KB Kota Yogyakarta Herristanti menjelaskan bahwa pada tahun ini pihaknya mengelola total 11 Sekolah Lansia yang dibiayai melalui APBD Pemkot Yogya.
“Yang kami danai ada 11, terdiri dari sembilan Sekolah Lansia Standar 1 yang baru di 2026, kemudian masing – masing satu untuk Standar 2 dan Standar 3,” jelasnya.
Dia menuturkan, program Sekolah Lansia merupakan respons atas kondisi demografi di Kota Yogyakarta yang memiliki angka harapan hidup tinggi, yakni sekitar 75,4 tahun, sekaligus jumlah lansia yang cukup besar di wilayah perkotaan.
“Ini menjadi tantangan sekaligus peluang. Harapannya lansia tidak hanya panjang umur, tapi juga berkualitas. Tetap sehat, mandiri, aktif dan merasa berdaya,” ujarnya.
Herristanti menambahkan, ke depan Pemkot Yogya menargetkan seluruh 45 kelurahan memiliki Sekolah Lansia di masing – masing wilayah.
Namun, keterbatasan anggaran membuat pengembangan program perlu dilakukan melalui skema kolaborasi.
“Kita terbuka untuk kerja sama dengan perguruan tinggi, swasta, maupun masyarakat. Skemanya bisa gotong royong, tapi tetap harus mengikuti standar dan kurikulum yang ada, minimal berjalan tiga tahun,” tuturnya.
Dia juga mengingatkan agar pihak – pihak yang ingin mengembangkan program serupa harus berkomitmen dan tidak hanya menggunakan nama Sekolah Lansia tanpa mengikuti standar yang telah ditetapkan.
“Jangan hanya branding, tapi substansinya berbeda. Ini sudah ada kurikulum dan tahapan yang jelas,” ungkapnya.
Sementara itu, Penelaah Teknis Kebijakan Bidang KB dan Pembangunan Keluarga DP3AP2KB Kota Yogyakarta Sri Hartati menjelaskan, sembilan Sekolah Lansia baru tersebut telah diluncurkan pada 10 Februari 2026, sekaligus dengan pembelajaran perdana dan pengukuhan pengurus.
“Setelah sempat jeda karena libur puasa, sekarang mulai berjalan lagi. Yang paling dekat di Sorosutan tanggal 4 April, dan lainnya menyusul sepanjang April,” katanya.
Dia menuturkan, setiap Sekolah Lansia menargetkan 70 peserta, terdiri dari 50 lansia dan 20 pengurus yang umumnya berasal dari kelompok pra-lansia.
Secara umum, target tersebut tercapai di sembilan lokasi, meski terdapat variasi jumlah peserta di beberapa wilayah.
“Ada wilayah yang pesertanya membludak sampai harus seleksi, seperti di Kotagede, tapi ada juga yang awalnya kurang, kemudian kita arahkan untuk disosialisasikan lagi akhirnya memenuhi kuota,” jelasnya.
Sri Hartati menyebutkan, antusiasme lansia terhadap program ini sangat tinggi. Pada Sekolah Lansia percontohan tahun 2025 di Suryodiningratan, tingkat kehadiran bahkan mendekati 100%.
“Kalau tidak hadir biasanya karena sakit atau ada keperluan mendesak, dan mereka selalu konfirmasi. Artinya keterikatannya kuat,” tuturnya.
Dari sisi pembelajaran, Sekolah Lansia mengadopsi kurikulum dari BKKBN dengan pendekatan yang lebih interaktif dan partisipatif.
Materi yang diberikan mencakup proses menua, kesehatan lansia, sindrom geriatri, hingga tujuh dimensi lansia tangguh, tapi metode pembelajaran tidak didominasi teori.
“Komposisinya sekitar 40% teori dan 60% praktik. Jadi lebih banyak aktivitas seperti senam, yel – yel, permainan, diskusi, sampai outing class agar lansia tidak bosan,” ungkap Sri Hartati.
Selain itu, terdapat pula materi kewirausahaan yang bertujuan mendorong lansia tetap produktif.
Namun, produktivitas tidak selalu diartikan sebagai menghasilkan pendapatan. “Yang penting lansia merasa berdaya dan tidak menjadi beban. Itu yang kita dorong.”
Dalam pelaksanaannya, DP3AP2KB menggandeng berbagai pihak, mulai dari perguruan tinggi, seperti UGM, UII dan UST hingga praktisi di bidang kesehatan dan kewirausahaan.
Selain itu, sejumlah organisasi perangkat daerah juga terlibat dalam memberikan materi. “Untuk materi kesehatan, kita libatkan dokter dan tenaga medis. Untuk kewirausahaan ada dari dinas dan kampus, jadi sebisa mungkin materi disampaikan oleh ahlinya.”
Meski demikian, dalam pelaksanaan di lapangan masih terdapat sejumlah tantangan, salah satunya terkait pemahaman masyarakat terhadap konsep Sekolah Lansia yang sesuai standar.
Beberapa program yang berjalan di luar koordinasi terkadang tidak mengikuti kurikulum, bahkan dilaksanakan secara singkat.
“Ada yang pelaksanaannya dipadatkan hanya beberapa bulan, padahal seharusnya ada jeda antarpertemuan untuk proses internalisasi. Ini yang terus kita luruskan,” ujarnya.
Tantangan lain adalah dalam pengelolaan peserta lansia yang membutuhkan pendekatan khusus.
Menurut Sri Hartati, lansia pada Sekolah Lansia umumnya masih aktif dan memiliki semangat tinggi, tapi membutuhkan perhatian dan penghargaan dalam interaksi sosial.
“Mereka sebenarnya kondusif. Hal – hal kecil, seperti menyapa atau memberi perhatian itu penting bagi mereka,” katanya.
Menurutnya, dampak program dinilai sangat positif, tidak hanya bagi lansia, tetapi juga keluarga dan banyak keluarga yang merasa bangga ketika orang tuanya mengikuti hingga diwisuda dalam program tersebut.
“Lansia jadi lebih percaya diri, lebih aktif dan punya kegiatan yang bermakna. Itu yang kita harapkan,” jelasnya. I





