Presiden Prabowo Subianto memuji pemulihan bencana di wilayah Aceh Tamiang, Provinsi Aceh, yang penanganan bencana di lokasi tersebut berlangsung sangat cepat.
“Perbaikannya, pemulihannya sangat cepat. Alhamdulilah, hampir 100%,” katanya usai salat Id di Masjid Darussalam, Aceh Tamiang, Sabtu (21/3/2026).
Kepala Negara menegaskan, saat ini sudah tidak ada lagi pengungsi di Aceh Tamiang yang tinggal di tenda, karena sudah beralih ke hunian tetap atau sementara yang didirikan pemerintah.
“Di tenda sudah nggak ada lagi, 100% semua sudah keluar dari tenda. Masuk ke hunian sementara atau hunian tetap dan situasinya membaik. Listrik hampir semuanya sudah jalan, hampir 100%,” tuturnya.
Presiden berterima kasih kepada seluruh petugas yang bekerja dalam pemulihan bencana Sumatra, apalagi perbaikan saat ini mulai dirasakan warga.
“Saya sangat bangga, terima kasih kepada semua petugas, semua apparat dari TNI-Polri dari BNPB, PU, pemda semua K/L yang kerja luar biasa. Mereka kerja luar biasa bantu rakyat di Aceh, Sumatra Utara dan Sumatra Barat, serta provinsi lainnya,” jelasnya.
Sementara itu, Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian menambahkan, penanganan pascabencana di Aceh harus dilakukan secara gotong royong oleh seluruh kementerian/lembaga.
“Skala dampak bencana di Aceh jauh lebih berat dibandingkan dengan daerah lain,” ungkapnya dalam Rapat Koordinasi Satgas Pemulihan Pascabencana DPR, dengan Kementerian Lembaga dan Kepala Daerah di Aceh, belum lama ini.
Mulanya, lanjut Mendagri, dari total 52 kabupaten/kota terdampak bencana di tiga provinsi, terbanyak berada di Aceh.
“Di Aceh, dari 18 kita mencatat yang sudah mulai agak lebih baik, artinya ekonominya jalan, pemerintahannya berjalan. Itu indikator yang paling penting. Itu adalah di sebagaimana di slide dari 18 itu ada dikurangi tujuh, jadi ada 11,” tuturnya.
Tito mengatakan, masih ada tujuh daerah yang perlu perhatian serius di antaranya Aceh Tamiang, Aceh Tengah, Aceh Timur, Gayo Lues, Bener Meriah, dan Pidie Jaya yang kembali terdampak banjir beberapa hari lalu.
“Kemudian, tanpa, mohon maaf, menafikan daerah yang lain, karena yang daerah lain itu ada pengungsi, iya, tapi relatif recover, karena pemerintahannya jalan, ekonominya jalan. Paling berat adalah Tamiang, karena pemerintahannya belum berjalan efektif dan kemudian ekonomi juga belum berjalan maksimal,” jelasnya.
Sementara itu, daerah Sumatra Utara cepat melakukan pemulihan. Berdasarkan catatan, dari 18 daerah tersisa lima daerah yang masih perlu penanganan.
Pada wilayah Sumatra Barat, dari 16 daerah terdampak masih terdapat tiga daerah yang perlu perhatian di antaranya Agam, Padang Pariaman dan Tanah Datar.
“Kalau untuk pemulihan nanti sampai dengan selesai, diperlukan anggaran lebih kurang Rp59,25 triliun. Masing – masing Rp33,75 triliun untuk Aceh, Rp13,5 triliun untuk Sumatra Barat dan Rp12 triliun untuk Sumatra Utara,” ungkapnya.
Pemulihan tersebut meliputi berbagai macam komponen, termasuk masalah kantor desa, kemudian sekolah, kemudian fasilitas kesehatan, jembatan, dan lain – lain. “Yang itu mungkin dikeroyok oleh seluruh kementerian lembaga.”
Mendagri menambahkan, terkait dengan persoalan jembatan saat ini telah terdapat banyak kemajuan, tapi untuk daerah – daerah terpencil masih menjadi perhatian.
“Alhamdulillah, nasional sudah, Medan sudah terkoneksi dengan Banda Aceh dan itu sangat berarti sekali untuk logistik dibanding pada waktu yang lalu,” katanya.
Kemudian, kata Mendagri, sekarang untuk masalah percepatan yang perlu dilakukan adalah pembersihan, nomor satu sekali, terutama di Tamiang, Aceh Utara dan Aceh Timur. “Pembersihan ini harus betul – betul dimobilisasi.”
Dia menjelaskan, TNI dan Polri telah menambah pasukannya dalam membantu penanganan pascabencana.
Selain itu, Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) juga berupaya untuk menghidupkan kembali pemerintahan daerah, khususnya Aceh Tamiang.
“Tamiang ada Pak Bupati, tapi saya tahu Pak Bupati juga memerintah Kadis juga semua terdampak, anak buahnya juga terdampak, kesulitan. Kemudian, yang di ekonomi, kami lihat yang lain sudah hidup, tapi took – toko, kemudian SPBU dan lampu listrik yang belum terlalu normal atau direktur PLN ada di sini, itu adalah Tamiang,” jelasnya. I



