Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan sejumlah kejadian bencana yang menimbulkan dampak signifikan di berbagai wilayah Indonesia sejak Sabtu (16/5) hingga Senin (18/5) pukul 07.00 WIB.
Berdasarkan data yang dihimpun Direktorat Koordinasi Pengendalian Operasi (Dit. Koordalops), bencana hidrometeorologi basah seperti banjir, tanah longsor, dan dampak cuaca ekstrem masih menjadi jenis bencana yang paling dominan terjadi di sejumlah daerah.
Kejadian pertama berupa tanah longsor terjadi di Kabupaten Temanggung, Provinsi Jawa Tengah, pada Sabtu (16/5) sekitar pukul 18.15 WIB.
Kejadian dipicu hujan dengan intensitas tinggi yang berlangsung cukup lama sehingga menyebabkan longsor di area Jembatan Kali Jaran.
Jembatan tersebut merupakan akses penghubung antara Dusun Banjaran dan Dusun Sinongko di Desa Plosogaden, Kecamatan Candiroto.
Akibat kejadian tersebut, sebanyak 161 Kepala Keluarga (KK) atau sekitar 400 jiwa terdampak dan sempat terisolasi karena akses penghubung warga terganggu.
Selain itu, kerusakan material tercatat berupa robohnya satu unit jembatan yang menjadi jalur utama mobilitas masyarakat setempat.
Merespons kejadian tersebut, BPBD Kabupaten Temanggung segera melakukan peninjauan ke lokasi terdampak serta melaksanakan pendataan terhadap warga dan kerusakan yang terjadi.
Petugas juga melakukan pemasangan rambu-rambu peringatan di sekitar lokasi longsor guna mengantisipasi risiko lanjutan dan menjaga keselamatan masyarakat.
Saat ini, penanganan bencana masih mengacu pada Keputusan Gubernur Jawa Tengah Nomor 100.3.3.1/409 tentang Penetapan Status Siaga Darurat Bencana Banjir, Tanah Longsor dan Cuaca Ekstrem di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2025/2026 yang berlaku mulai 23 Oktober 2025 hingga 23 Mei 2026.
Berdasarkan kondisi terkini pada Minggu (17/5), jembatan darurat sementara telah dapat dilalui kendaraan roda dua sehingga akses masyarakat mulai kembali terbuka.
Aktivitas warga di sekitar lokasi kejadian juga dilaporkan berangsur normal meskipun masyarakat tetap diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem dan longsor susulan.
Masih di Provinsi Jawa Tengah, tanah longsor juga terjadi di Kabupaten Banjarnegara pada Sabtu (16/5) sekitar pukul 15.00 WIB.
Bencana dipicu hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah tersebut sehingga menyebabkan longsor di Jalan Turut, Dusun Jombok Jojogan RT 03 RW 06, Desa Petuguran, Kecamatan Punggelan.
Material longsoran menutup akses jalan penghubung menuju Desa Jembangan, sehingga menghambat mobilitas warga.
Dampak kejadian tersebut mengakibatkan sebanyak 11 KK atau 32 jiwa harus mengungsi ke tempat yang lebih aman.
Selain itu, tercatat sebanyak 10 unit rumah berada dalam kondisi terancam akibat pergerakan tanah di sekitar lokasi longsor.
Sebagai langkah penanganan darurat, BPBD Kabupaten Banjarnegara telah melakukan peninjauan ke lokasi kejadian dan melaksanakan pendataan terhadap warga terdampak dan potensi kerusakan.
BPBD juga berkoordinasi dengan pemerintah desa setempat guna menentukan langkah penanganan lanjutan dan upaya mitigasi di wilayah terdampak.
Penanganan bencana saat ini mengacu pada Keputusan Bupati Banjarnegara Nomor 300.2/871/2025 tentang Penetapan Status Siaga Darurat Bencana Tanah Longsor, Angin Kencang, Cuaca Ekstrem dan Banjir di wilayah Kabupaten Banjarnegara yang berlaku mulai 28 Oktober 2025 hingga 31 Mei 2026.
Selain itu, status siaga juga diperkuat dengan Keputusan Gubernur Jawa Tengah Nomor 100.3.3.1/409 tentang Penetapan Status Siaga Darurat Bencana Banjir, Tanah Longsor, dan Cuaca Ekstrem di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2025/2026 yang berlaku mulai 23 Oktober 2025 hingga 23 Mei 2026.
Berdasarkan kondisi mutakhir pada Minggu (17/5), kejadian tanah longsor masih dalam penanganan BPBD Kabupaten Banjarnegara bersama unsur terkait.
Warga di sekitar lokasi diimbau tetap waspada terhadap potensi longsor susulan mengingat kondisi cuaca yang masih berpotensi hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi.
Selanjutnya, banjir melanda wilayah Kota Gorontalo, Provinsi Gorontalo, pada Sabtu (16/5) sekitar pukul 21.20 Wita.
Kejadian dipicu tingginya curah hujan yang menyebabkan saluran Kali Serdadu meluap hingga menggenangi kawasan permukiman warga dan areal persawahan di sejumlah wilayah terdampak.
Wilayah terdampak banjir meliputi dua kecamatan dengan total sepuluh kelurahan, yakni Kecamatan Kota Timur yang mencakup Kelurahan Heledula Utara, Moodu, Heledula Selatan, Padebuolo, dan Ipilo.
Sementara itu, di Kecamatan Kota Utara, banjir terjadi di Kelurahan Wongkaditi Timur, Wongkaditi Barat, Dembe Jaya, Dembe II, dan Dulomo.
Berdasarkan data sementara, sebanyak kurang lebih 761 KK atau sekitar 2.692 jiwa terdampak akibat kejadian ini dan masih dalam proses pendataan lebih lanjut. Selain itu, sekitar 603 unit rumah dilaporkan terdampak genangan banjir.
Dalam upaya penanganan darurat, BPBD Kota Gorontalo telah melakukan asesmen serta berkoordinasi dengan berbagai pihak terkait guna mempercepat penanganan di wilayah terdampak.
Tim BPBD juga turun langsung ke lokasi untuk melakukan asesmen kondisi warga dan dampak banjir yang terjadi.
Perkembangan pada Minggu (17/5) menunjukkan genangan air di sebagian wilayah telah mulai surut.
Namun, petugas masih melakukan upaya penyedotan air di sejumlah titik yang hingga kini masih tergenang guna mempercepat pemulihan kondisi lingkungan dan aktivitas masyarakat.
Beralih ke Provinsi Kalimantan Barat, hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah Kabupaten Sintang pada Minggu (17/5) sekitar pukul 21.00 WIB memicu terjadinya banjir di sejumlah wilayah.
Debit air yang terus meningkat menyebabkan genangan meluas dan berdampak pada permukiman warga di tiga kecamatan terdampak, yakni Kecamatan Kayan Hulu, Kecamatan Kayan Hilir dan Kecamatan Kelam Permai, khususnya di Desa Bengkuang.
Bencana banjir ini berdampak cukup luas terhadap masyarakat. Berdasarkan data sementara, sekitar 2.718 KK terdampak dan masih dalam proses pendataan lebih lanjut oleh petugas di lapangan.
Selain itu, ribuan rumah warga turut terdampak genangan banjir. Kondisi semakin diperparah dengan putusnya satu unit jembatan gantung yang menjadi akses vital masyarakat, sehingga menghambat mobilitas warga dan distribusi bantuan menuju lokasi terdampak.
BPBD Kabupaten Sintang bersama unsur kecamatan dan pemerintah desa bergerak cepat melakukan koordinasi penanganan darurat.
Tim juga telah melakukan peninjauan langsung ke lokasi banjir guna melakukan pendataan dampak serta memastikan kebutuhan masyarakat terdampak dapat segera ditangani.
Sejumlah kebutuhan mendesak saat ini sangat diperlukan untuk mendukung penanganan darurat di lapangan di antaranya perahu karet untuk evakuasi dan mobilisasi warga, makanan siap saji, pasokan air bersih, obat – obatan, serta percepatan perbaikan Jembatan Nanga Toran yang mengalami kerusakan akibat banjir.
Hingga Minggu malam (17/5), kondisi banjir masih dalam pemantauan intensif BPBD Kabupaten Sintang.
Pendataan terhadap jumlah warga terdampak maupun pengungsi masih terus dilakukan seiring perkembangan situasi di lapangan.
Pemerintah daerah bersama unsur terkait terus mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan mengingat potensi hujan dengan intensitas tinggi masih dapat terjadi di wilayah tersebut.
BNPB bersama pemerintah daerah dan unsur terkait terus melakukan pemantauan dan penanganan darurat di wilayah terdampak.
Seiring masih berpotensinya cuaca ekstrem di sejumlah wilayah, BNPB mengimbau masyarakat agar meningkatkan kesiapsiagaan dan kewaspadaan terhadap potensi bencana susulan.
Masyarakat di wilayah rawan banjir, tanah longsor, dan cuaca ekstrem diminta memantau informasi cuaca dan peringatan dini dari instansi berwenang, serta menghindari aktivitas di sekitar lereng labil, bantaran sungai dan infrastruktur yang mengalami kerusakan. I





