Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merangkum dan melaporkan perkembangan situasi dan penanganan bencana yang berdampak signifikan di sejumlah wilayah Indonesia dalam periode Jumat (15/5) hingga Sabtu (16/5), pukul 07.00 WIB.
Empat kejadian banjir dilaporkan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di masing – masing wilayah.
Kejadian banjir pertama dilaporkan oleh BPBD Kota Semarang. Banjir terjadi akibat hujan lebat dengan durasi lama hingga menyebabkan tanggul Sungai Plumbon jebol dan Sungai Silandak meluap pada Jumat (15/5), pukul 15.30 WIB.
Banjir berdampak pada enam kelurahan di tiga kecamatan, yakni Kecamatan Semarang Barat, Tugu dan Ngaliyan, Kota Semarang, Jawa Tengah.
Tinggi muka air (TMA) dilaporkan antara 20 sentimeter (cm) hingga 150 cm. Satu warga dilaporkan meninggal dunia dan satu hilang akibat terseret arus banjir.
Tim gabungan berhasil mengevakuasi korban meninggal dunia dengan jenis kelamin perempuan pada Jumat (15/5), pukul 19.00 WIB.
Hingga kini masih dilakukan proses identifikasi oleh tim Inafis Polrestabes Semarang.
Sementara itu, proses pencarian korban hilang berusia 75 tahun dilanjutkan pada Sabtu (16/5) di wilayah Kelurahan Mangkang Kulon, Kecamatan Tugu.
Selain korban jiwa, banjir kali ini menyebabkan satu rumah warga rusak berat, dua titik tanggul jebol, dan 389 Kepala Keluarga (KK) atau 1.302 jiwa terdampak.
Sementara 76 warga terpaksa mengungsi di Balai RW 4 Kelurahan Kembangarum, Kecamatan Semarang Barat. BPBD Kota Semarang telah melakukan kaji cepat dan distribusi bantuan permakanan kepada warga terdampak.
Petugas juga mendirikan dapur darurat di Balai RW 04 Kelurahan Kembangarum dan Balai RW 01 di Kelurahan Kalibanteng Kulon, Kecamatan Semarang Barat.
Kondisi mutakhir banjir berangsur surut. Warga bergotong royong melakukan pembersihan material sisa banjir.
Kejadian banjir juga terjadi di wilayah Kabupaten Kuantan Singingi, Provinsi Riau, pada Jumat (15/5), pukul 12.00 WIB.
Banjir disebabkan curah hujan tinggi hingga debit air Sungai Kuantan meluap dan menggenangi pemukiman warga di sekitar bantaran sungai.
Banjir berdampak pada 10 desa di tiga kecamatan, yakni Kecamatan Kuantan Hilir Seberang, Kuantan Hilir dan Inuman.
Petugas mencatat sebanyak 324 KK atau 1.296 jiwa terdampak. Selain itu dua kantor desa, tiga fasilitas pendidikan, dua fasilitas ibadah dan akses jalan sepanjang 0,5 km ikut terdampak.
Petugas BPBD Kabupaten Kuantan Singingi diturunkan untuk monitoring dan pendataan di lokasi terdampak. Kondisi mutakhir banjir berangsur surut.
Laporan kejadian banjir selanjutnya dari wilayah Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. BPBD Kabupaten Lebak melaporkan sebanyak 14 desa di lima kecamatan terdampak banjir dan longsor yang dipicu hujan lebat dan angin kencang pada Jumat (15/6), pukul 13.30 WIB.
Hujan dengan durasi lebih dari empat jam membuat beberapa sungai meluap di antaranya Sungai Peucangpari, Cimaur, Cibeurih, Cilaki, Ciminyak, dan Cisimet.
Lima kecamatan terdampak antara lain Kecamatan Cigemblong, Cipanas, Sajira, Leuwidamar, dan Muncang, dengan TMA antara 30 cm hingga 60 cm.
Petugas mencatat 37 unit rumah, 50 hektare lahan warga, satu fasilitas ibadah, satu fasilitas pendidikan dan satu jembatan terdampak.
Selain itu, satu bendungan irigasi rusak berat, dan dinding penahan jalan desa rusak sepanjang 20 meter.
Petugas BPBD Kabupaten Lebak melakukan kaji cepat dan berkoordinasi dengan pihak desa dan kecamatan untuk mendata kebutuhan mendesak warga terdampak.
Kejadian banjir terakhir dilaporkan oleh BPBD Kota Binjai terjadi di Kelurahan Rambung Barat, Kecamatan Binjai Selatan, Kota Binjai, Sumatra Utara pada Jumat (15/5), pukul 11.00 WIB.
Petugas mencatat 233 KK atau 857 jiwa terdampak banjir. Tidak ada laporan warga mengungsi dikarenakan banjir berangsur surut di hari yang sama.
Meski demikian, petugas BPBD Kota Binjai masih disiagakan untuk memantau kondisi di lapangan dan bersiap jika terjadi banjir susulan.
Menyikapi masih adanya potensi bahaya hidrometeorologi basah, BNPB mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat tetap waspada dan siap siaga.
Masyarakat diharapkan menyiapkan tas siaga bencana dan rencana darurat keluarga sebagai langkah kesiapsiagaan.
Masyarakat yang tinggal di bantaran sungai diimbau untuk memantau TMA secara berkala.
Apabila terjadi hujan dengan intensitas tinggi dalam durasi lama, disarankan melakukan evakuasi mandiri dan terus memantau informasi dari sumber resmi dan terpercaya, seperti BNPB, BPBD, serta BMKG. I






