Perkembangan Situasi dan Penanganan Bencana di Tanah Air pada 9 Oktober 2026

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sejumlah kejadian bencana dalam pemantauan selama 24 jam, sejak Kamis (8/10) pukul 07.00 WIB hingga Jumat (9/10) pukul 07.00 WIB.

Pada periode tersebut, jenis bencana kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) mendominasi kejadian baru yang dilaporkan di sejumlah wilayah, seperti kebakaran lahan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) di Kabupaten Garut, Jawa Barat hingga karhutla di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah.

Di Provinsi Jawa Barat, kebakaran lahan TPA di Kabupaten Garut menghanguskan sekitar 3 hektare hingga 4 hektare lahan.

Lokasinya di TPA Pasir Bajing, tepatnya di Zona 3, Desa Sukaraja, Kecamatan Banyuresmi.

Berdasarkan laporan Kamis (8/10), tidak terdapat korban jiwa dalam kejadian tersebut.

Namun, asap kebakaran dilaporkan telah memasuki permukiman di Kampung Pasirbajing dan Jalan Raya Garut – Bandung sehingga mengganggu jarak pandang pengguna jalan.

Hingga laporan diterima, penanganan masih berlangsung oleh petugas gabungan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Garut, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan, Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Sosial melalui Taruna Siaga Bencana (Tagana), PMI, serta unsur terkait lainnya.

Upaya penanganan dilakukan melalui pemadaman titik – titik api menggunakan unit pasokan air dan penyekatan area kebakaran dengan bantuan alat berat untuk menghambat perambatan api.

BPBD Kabupaten Garut juga melakukan asesmen, pemantauan kondisi kebakaran, dan koordinasi dengan pemerintah kecamatan, serta instansi terkait.

Selain itu, petugas gabungan juga terus memantau titik – titik api untuk mengantisipasi perambatan ke arah kawasan Kamojang, Gunung Guntur maupun permukiman warga.

Di sisi lain, proses pemadaman sempat menghadapi sejumlah kendala, antara lain keterbatasan peralatan untuk menjangkau titik api, kondisi sampah yang kering dan tebal, sehingga api, serta bara sulit dikendalikan, dan tiupan angin yang cukup kencang.

Penanganan tersebut membutuhkan dukungan tambahan personel, peralatan pemadaman berupa unit pasokan air, kendaraan pemadam, selang dan nosel, serta logistik bagi petugas di lapangan.

Kejadian karhutla juga terjadi di Jalan Gesi–Tangen, Desa Srawung, Kecamatan Gesi, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, pada Kamis (8/10) pukul 12.45 WIB. Kebakaran tersebut menghanguskan sekitar 2 hektare lahan.

Saat kejadian, api dilaporkan cukup besar dan menjangkau area yang cukup luas, sedangkan penyebab kebakaran masih belum diketahui.

Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Kabupaten Sragen menuju lokasi untuk melakukan asesmen, kaji cepat, dan penanganan.

Berdasarkan laporan terkini pada hari yang sama, api telah berhasil dipadamkan dan tidak terdapat korban jiwa.

Penanganan dilakukan dalam konteks status siaga darurat bencana kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan di Provinsi Jawa Tengah yang berlaku sejak 1 Juni hingga 31 Desember 2026 berdasarkan Keputusan Gubernur Jawa Tengah Nomor 100.3.3.1/237 Tahun 2026.

Berikutnya, kebakaran lahan juga terjadi di Desa Kaligawe, Kecamatan Pedan, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, pada Kamis (8/10) pukul 11.54 WIB.

Api telah menghanguskan sekitar 6 hektare lahan yang ditumbuhi rumput ilalang dan seresah daun jati kering.

Asap kebakaran sempat mengganggu pengguna jalan, sedangkan petugas mengantisipasi potensi perambatan api ke instalasi listrik dan permukiman warga.

Tim Reaksi Cepat Penanggulangan Bencana (TRC PB) BPBD Kabupaten Klaten bersama relawan penanggulangan bencana setempat melakukan asesmen dan penanganan awal.

Api berhasil dipadamkan pada pukul 13.30 WIB dan tidak terdapat korban jiwa. BPBD Kabupaten Klaten mengimbau masyarakat agar tidak membakar sampah di sekitar bangunan maupun area yang terdapat bahan mudah terbakar guna mencegah kebakaran meluas, terutama selama kondisi kering.

Selanjutnya, di Kabupaten Cilacap, kebakaran hutan juga terjadi di kawasan Perhutani Blok/Petak 12 S, RPH Pesahangan, BKPH Majenang, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, pada Kamis (8/10).

Titik api pertama kali diketahui setelah mandor Perhutani melaporkan kepulan asap di kawasan hutan pinus.

Petugas yang menuju lokasi mendapati api telah membakar area rencana penanaman tahun 2026 dan merambat ke area penyadapan pinus di Petak 12V.

Luas lahan yang terbakar diperkirakan mencapai 5 hektare, tanpa korban jiwa. Penyebab kebakaran masih dalam penelusuran, dengan dugaan awal berkaitan dengan aktivitas manusia.

BPBD Kabupaten Cilacap berkoordinasi dengan Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) Cimanggu dan pihak Perhutani setempat untuk melakukan pemadaman bersama unsur terkait.

UPTD PKBD Majenang juga melaksanakan asesmen, kaji cepat, dan pemantauan kondisi di lokasi. Berdasarkan laporan pada hari yang sama, api telah berhasil dipadamkan.

Kemudian, di Kabupaten Jombang, Jawa Timur, kebakaran lahan terjadi di Dusun Segunung, Desa Jombok, Kecamatan Kesamben, pada Rabu (7/10) pukul 14.50 WIB.

Kebakaran dipicu pembakaran sampah sisa panen jagung yang kemudian merambat ke lahan bambu hingga menghanguskan sekitar 5 hektare lahan.

Tidak terdapat korban jiwa dalam kejadian ini dan personel BPBD Provinsi Jawa Timur bersama dengan BPBD Kabupaten Jombang melakukan asesmen, serta berkoordinasi dengan pihak terkait, sedangkan petugas pos pemadam kebakaran melakukan pemadaman dan pembasahan di lokasi untuk mencegah api kembali menyala.

Berdasarkan laporan Kamis (8/10), api telah berhasil dipadamkan. Kejadian ini menjadi pengingat bagi masyarakat agar tidak membakar sisa hasil panen atau sampah secara sembarangan, terutama di sekitar vegetasi kering yang mudah terbakar dan dapat memicu perambatan api.

Sementara itu, kebakaran hutan dan lahan terjadi di Desa Jono, Kecamatan Dolo Selatan, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, pada Kamis (8/10).

Kebakaran diperkirakan telah menghanguskan sekitar 5 hektare lahan dan tidak menimbulkan korban jiwa.

BPBD Kabupaten Sigi berkoordinasi dengan instansi terkait untuk melakukan asesmen dan penanganan di lokasi.

Berdasarkan laporan terakhir pada hari yang sama, api masih belum berhasil dipadamkan.

Petugas memantau dua titik api, sedangkan kepulan asap masih terlihat dari balik gunung.

Pemantauan dan penanganan lanjutan diperlukan untuk mengantisipasi meluasnya kebakaran, terutama apabila kondisi vegetasi kering dan angin mendukung perambatan api.

Menyikapi dari rentetan kejadian bencana kebakaran hutan dan lahan, BNPB mengimbau pemerintah daerah, BPBD dan masyarakat untuk tetap meningkatkan kesiapsiagaan terhadap potensi bencana yang dapat dipengaruhi kondisi cuaca dalam dua hari ke depan.

Masyarakat diharapkan memantau informasi prakiraan cuaca dan peringatan dini resmi dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), serta mengikuti arahan pemerintah daerah sesuai kondisi di wilayah masing – masing.

Pada wilayah yang masih menghadapi kondisi kering akibat kemarau panjang, masyarakat perlu mewaspadai potensi kebakaran lahan.

Hindari membuka lahan dengan cara membakar, tidak membuang puntung rokok sembarangan dan segera melaporkan kemunculan asap atau titik api kepada aparat setempat maupun BPBD agar dapat ditangani sedini mungkin.

BNPB mengajak seluruh unsur pemerintah, petugas lapangan dan masyarakat untuk memperkuat koordinasi, serta mengutamakan keselamatan dalam setiap upaya penanganan bencana.

Kesiapsiagaan dan respons cepat menjadi bagian penting untuk mengurangi risiko, serta mencegah meluasnya dampak bencana. I

 

Kirim Komentar