Perkembangan Situasi dan Penanganan Bencana di Tanah Air per 29 September 2026

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merangkum laporan bencana pada periode Senin hingga Selasa, 28 – 29 September 2026.

Laporan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dan kekeringan mendominasi kejadian bencana pada periode ini.

Karhutla melanda 280 hektare lahan di Desa Klabat, Kecamatan Airmadidi, Kabupaten Minahasa Utara, Sulawesi Utara, pada Selasa (22/9).

Hingga Senin (28/9), titik api belum sepenuhnya padam. Tim gabungan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Minahasa Utara, TNI, Polri, dinas pemadam kebakaran (damkar), relawan, dan masyarakat berjibaku untuk memadamkan api.

Upaya pemadaman menemui kendala pada sulitnya medan serta angin kencang yang menyebabkan api mudah menyebar.

Selanjutnya, laporan kejadian karhutla diterima dari Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Kebakaran lahan terjadi pada Senin (28/9) sekitar pukul 13.50 WIB.

Titik lokasi kebakaran berada di Desa Sungai Daeng, Kecamatan Muntok.

Tim pemadam gabungan dari BPBD Kabupaten Bangka Barat, damkar Bangka Barat dan damkar PT Timah berhasil memadamkan api yang membakar dua hektare lahan ini sekitar tiga jam kemudian. Situasi berangsur kondusif.

Karhutla juga terjadi di Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Api diketahui pertama pada Jumat (25/9) pukul 12.30 WIB dan merembet ke beberapa titik.

Lokasi terdampak antara lain Desa Ngunjung di Kecamatan Maospati, Desa Balarejo di Kecamatan Kawedanan, dan Kelurahan Sarangan di Kecamatan Plaosan.

Total lahan terbakar di wilayah tersebut mencapai 15 hektare dengan rincian seluas 4 hektare di Kelurahan Sarangan, 9 hektare di Desa Balerejo dan 2 hektare di Desa Ngunjung.

Pada Senin (28/9) api berhasil dipadamkan oleh tim gabungan dari BPBD Magetan, TNI, Polri, perangkat desa, relawan, dan masyarakat.

Beralih ke Provinsi Lampung, karhutla kembali melanda wilayah Taman Nasional Way Kambas Grid 30 U, 31 U dan 31 T RPTN Cabang SPTN Wilayah II Bungur pada Selasa (22/9).

Baca Juga:  BANJIR DAN LONGSOR MELANDA WILAYAH CILACAP

Hingga Senin (28/9) upaya pemadaman masih terus dilaksanakan oleh satgas darat dan udara.

Data sementara luas lahan terbakar per Senin (28/9) seluas 40 hektare dan luas lahan yang berhasil dipadamkan sampai Senin (28/9) seluas 4 hektare.

Pada upaya pemadaman ini, baik satgas darat maupun udara menghadapi beberapa tantangan di lapangan.

Operasi darat terkendala jarak dari sumber air ke lokasi titik api cukup jauh, akses darat menuju lokasi sangat sulit ditembus dan kondisi cuaca di lokasi kering dan angin kencang.

Sementara itu, tim operasi udara menghadapi tantangan antara lain kondisi vegetasi yang sangat rapat, cuaca kering disertai dengan hembusan angin kencang.

Untuk mengatasi kendala tersebut, tim gabungan melakukan pemadaman dengan metode pemadaman langsung dengan pompa jinjing dan jet shooter serta membuat ilaran api.

Musim kemarau disertai El Nino saat ini menyebabkan cadangan air tanah di beberapa daerah surut, salah satunya di Pulau Jawa. Akibatnya, sejumlah warga mengalami kekurangan air bersih.

Dari Provinsi Jawa Tengah dilaporkan hingga Senin (28/9) kekeringan melanda warga Kabupaten Pati, Sragen, dan Pemalang.

Di Pati, sebanyak 15 desa di tujuh kecamatan terdampak kekeringan. Kecamatan terdampak adalah Kecamatan Winong, Pucakwangi, Jaken, Jakenan, Gabus, Kayen, dan Tambakromo.

Total warga terdampak sebanyak 1.131 Kepala Keluarga (KK) atau 3.896 jiwa.

Pada Senin (28/9) BPBD Kabupaten Pati melakukan distribusi air bersih sebanyak 94.000 liter dengan penerima manfaat 1.001 KK (3.476 jiwa) di 11 desa.

Di Sragen, sebanyak 12 desa di Kecamatan Gesi, Tangen, Mondokan, Jenar, dan Miri terdampak kekeringan.

Warga terdampak terdata sebanyak 2.298 KK atau 7.224 jiwa. Pada Senin (28/9) BPBD Kabupaten Sragen mendistribusikan air bersih sebanyak 9 Tangki (41.000 liter).

Baca Juga:  GUNUNG MERAPI KEMBALI MUNTAHKAN AWAN PANAS GUGURAN DENGAN POTENSI BAHAYA 7 KM

Di Pemalang, sebanyak 23 desa di sembilan kecamatan terdampak kekeringan. Kecamatan terdampak adalah Kecamatan Belik, Bawang, Pulosari, Watukumpul, Bantarbolang, Randudongkal, Bodeh, Warungpring, dan Cilongok.

Warga terdampak sebanyak 10.764 KK. Pada Senin (28/9) Tim BPBD Kabupaten Pemalang melakukan distribusi air bersih menggunakan mobil tangki dengan kapasitas 5.000 liter dan 4.000 liter.

Kondisi saat distribusi air bersih terpantau masyarakat antusias dan tertib saat pengambilan air.

Pendistribusian air ini dapat mencukupi kebutuhan air bersih warga untuk tiga hari ke depan.

BNPB mengimbau masyarakat untuk tetap meningkatkan kesiapsiagaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi kering di masa musim kemarau saat ini.

Untuk mengantisipasi kekeringan dan kekurangan air bersih, isi cadangan air saat pasokan masih tersedia, menggunakan air sesuai kebutuhan, perbaiki keran atau pipa yang bocor dan menggunakan kembali air bekas yang masih layak (misalnya air cucian sayur untuk menyiram tanaman).

Sementara itu, di tengah teriknya cuaca akibat fenomena EL Nino yang terjadi saat ini, masyarakat diimbau untuk tidak melakukan pembakaran sampah atau membuka ladang dengan cara membakar guna mencegah terjadinya karhutla.

Jangan membuang putung sembarangan dan pastikan bara api telah padam sempurna sebelum membuang.

BNPB juga mengimbau agar masyarakat juga tetap waspada terhadap kemungkinan bencana geologi seperti gempabumi yang dapat terjadi sewaktu-waktu.

Masyarakat diharapkan menyiapkan tas siaga bencana sebagai langkah kesiapsiagaan dan senantiasa memantau pembaruan informasi dari sumber resmi dan terpercaya, seperti BNPB, BPBD dan BMKG. I

Kirim Komentar