Pemerintah menegaskan bahwa ke depan, hilirisasi harus dipercepat, penguasaan teknologi diperkuat dan prinsip industri hijau diterapkan.
Menurut Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Faisol Riza, pemerintah, dalam hal ini Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mendorong percepatan hilirisasi untuk memperkuat struktur manufaktur dan menarik investasi.
“Saya menghadiri Rakornas Kadin Indonesia 2026 Bidang Investasi, Hilirisasi, Energi dan Lingkungan Hidup untuk memperkuat industri nasional dan mendorong investasi bernilai tambah,” katanya sata berbicara dalam Rapat Koordinasi Nasional Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia 2026 di Jakarta.
Wamenperin Riza menuturkan bahwa pada Triwulan II/2026, industri pengolahan tumbuh 5,32%, dengan kontribusi Rp1.102,88 triliun terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Industri pengolahan nonmigas, lanjutnya, juga menyumbang 82,40% terhadap total ekspor nasional.
“Dengan utilisasi industri baru 64,81%, maka peluang peningkatan produksi dan investasi masih sangat terbuka,” tegas Wamenperin Riza.
Kemenperin mendorong net zero emission sektor industri pada tahun 2050 dan penggunaan material sirkular sebesar 15% pada tahun 2029.
“Rakornas ini diharapkan menghasilkan langkah konkret untuk memperkuat daya saing manufaktur, menarik investasi dan menjadikan industri sebagai penggerak utama pertumbuhan ekonomi nasional,” ujar Wamenperin Riza.
Dia juga menyoroti tentang perlunya menggenjot hilirisasi produk turunan kelapa sawit, seperti gliserin, surfaktan dan karoten agar lebih efisien, serta berdaya saing global, apalagi Indonesia memiliki perkebunan kelapa sawit terbesar di dunia.
Namun, Wamenperin Riza menegaskan bahwa keunggulan bahan baku tersebut belum sepenuhnya diikuti produktivitas industri dan pengembangan produk turunannya.
“Hilirisasi kelapa sawit nasional masih berjalan lambat. Kondisi itu membuatnya gelisah, terutama ketika membandingkan efisiensi industri sawit Indonesia dengan Malaysia,” tuturnya.
Wamenperin Riza mengatakan, Indonesia memiliki modal besar untuk mengembangkan industri turunan sawit, tetapi pemanfaatan potensi tersebut dinilai belum maksimal.
“Saya gelisah sekarang, mungkin saya harus minta bantuan kepada Pak Menteri Saleh Husin yang sudah menangani Kementerian Perindustrian selama beberapa waktu yang lalu soal sawit, karena hilirisasi sawit ini kelihatannya agak mandek gitu ya,” ungkapnya.
Dia menyoroti juga persoalan produksi fatty alcohol yang tengah menghadapi kendala ekspor ke Amerika Serikat.
Di tengah persoalan tersebut, Wamenperin Riza menilai, produktivitas industri sawit Malaysia justru lebih efisien dan tinggidibandingkan Indonesia.
“Produksi fatty alcohol kita lagi ada masalah dengan ekspor ke Amerika Serikat, tapi dibandingkan dengan negara tetangga, seperti Malaysia, produktivitas mereka jauh lebih efisien dan tinggi dibandingkan kita, padahal kita punya sawit, seperti tadi Pak Boby sudah sebutkan nomor satu di dunia,” katanya.
Menurut Wamenperin Riza, kondisi tersebut menunjukkan besarnya potensi sawit belum otomatis menghasilkan daya saing industri yang lebih kuat dan Indonesia perlu mempercepat pengembangan industri pengolahan agar keunggulan bahan baku memberikan nilai tambah lebih besar.
“Indonesia masih memiliki banyak peluang untuk memperluas portofolio produk turunan kelapa sawit. Beberapa produk yang dinilainya perlu dikembangkan ialah gliserin, surfaktan dan karoten,” ungkapnya.
Dia menuturkan bahwa produk – produk tersebut dapat menjadi bagian dari upaya memperluas pemanfaatan sawit di luar produk yang selama ini mendominasi industry, sedangkan pengembangan industri turunan juga menjadi peluang untuk meningkatkan nilai tambah bahan baku di dalam negeri.
“Kita masih punya apa, perluasan, seperti gliserin kemudian kita juga memerlukan surfaktan, kita memerlukan karoten dan macam – macam ya sebenarnya dari sawit luar biasa, tapi kita hanya atau baru menyaksikan B50 sekarang setelah bertahun – tahun,” jelasnya.
Wamenperin Riza menilai, pengembangan hilirisasi sawit tidak seharusnya berhenti pada pemanfaatan minyak sawit untuk kebutuhan biodiesel, sehingga Indonesia perlu mengoptimalkan peluang pengembangan berbagai produk turunan yang memiliki nilai ekonomi.
“Penerapan B50 menjadi salah satu bentuk pemanfaatan sawit untuk kebutuhan energi. Namun, pengembangan produk turunan lainnya juga perlu mendapat perhatian agar potensi industri sawit semakin luas,” tuturnya.
Maka dari itu, Wamenperin Riza mendorong Kadin Indonesia menjadikan hilirisasi kelapa sawit sebagai agenda prioritas dan keterlibatan dunia usaha dinilai penting untuk mengoptimalkan potensi industri yang bahan bakunya tersedia di dalam negeri.
Dia berharap pemerintah dan pelaku usaha dapat bekerja sama mempercepat pengembangan subsektor tersebut, sehingga diharapkan mampu mendorong hilirisasi sawit menjadi lebih optimal dan memberikan hasil yang lebih besar bagi perekonomian.
“Nah, kalau ini juga bisa jadi agenda yang prioritas di Kadin, saya kira kita bisa bersama – sama menjadikan subsektor menjadi salah satu hilirisasi yang optimal dan lebih sukses, karena sebenarnya semua bahan mentahnya ada di dalam negeri,” ujar Wamenperin Riza.
Dia menegaskan bahwa tantangan hilirisasi sawit bukan semata – mata ketersediaan bahan baku, karena Indonesia juga perlu memperkuat produktivitas, efisiensi dan pengembangan industri pengolahan untuk meningkatkan daya saing produk turunannya di pasar global. I







