Program Bang Andra Perkuat Konektivitas Desa dan Dorong Pertumbuhan Ekonomi Banten

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten terus memperkuat komitmennya dalam membangun dari desa melalui program Bangun Jalan Desa Sejahtera (Bang Andra).

Program yang menjadi salah satu prioritas pembangunan daerah ini hadir untuk meningkatkan konektivitas antarwilayah, membuka akses ekonomi masyarakat dan mempercepat pemerataan pembangunan hingga ke pelosok desa.

Gubernur Banten Andra Soni mengatakan, pembangunan jalan desa melalui Program Bang Andra merupakan salah satu upaya nyata dalam mendorong pemerataan pembangunan, khususnya di wilayah perdesaan.

Program tersebut juga sejalan dengan arah kebijakan pemerintah pusat di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto yang menempatkan pembangunan desa sebagai salah satu fokus utama pembangunan nasional.

“Saat ini, kita memiliki pemimpin yang fokus membangun dari desa. Ini sejalan dengan Asta Cita ke-6, yaitu membangun dari desa untuk pemerataan ekonomi,” ungkap Andra.

Menurutnya, selama ini pembangunan di desa masih menghadapi berbagai keterbatasan, terutama dalam penyediaan infrastruktur dasar.

Dia menjelaskan, kebutuhan pembangunan jalan yang terus meningkat sering kali belum dapat sepenuhnya dipenuhi apabila hanya mengandalkan dana desa.

“Dengan mobilitas masyarakat yang semakin tinggi, apalagi di wilayah yang dekat dengan pusat keramaian, tentu pembangunan jalan desa menjadi tantangan tersendiri jika hanya mengandalkan dana desa,” tuturnya.

Berangkat dari kondisi tersebut, Pemprov Banten menurut Andra Soni menghadirkan program Bang Andra sebagai bentuk intervensi pemerintah provinsi untuk mempercepat pembangunan infrastruktur desa sekaligus mengurangi kesenjangan pembangunan antarwilayah.

Pada tahun 2025, Pemprov Banten melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) berhasil merealisasikan Program Bang Andra dengan penanganan 62 ruas jalan dan satu jembatan yang tersebar di berbagai daerah. Penanganan tersebut meliputi 30 ruas dan satu jembatan di Kabupaten Pandeglang, 17 ruas di Kabupaten Lebak, delapan ruas di Kabupaten Serang, lima ruas di Kota Serang, dan dua ruas di Kabupaten Tangerang.

Program tersebut didukung anggaran sebesar Rp184 miliar dengan total panjang jalan yang ditangani mencapai 71 kilometer.

Kabupaten Pandeglang dan Kabupaten Lebak menjadi wilayah dengan jumlah penanganan terbanyak sebagai bagian dari upaya memperkuat konektivitas dan membuka akses ekonomi masyarakat di wilayah selatan Banten.

Andra mengatakan, capaian pembangunan pada tahun 2025 telah memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Sebanyak 62 ruas jalan desa berhasil dibangun dan dengan pembangunan tersebut juga turut mendukung aktivitas ekonomi masyarakat, memperlancar distribusi hasil pertanian, serta meningkatkan mobilitas warga.

“Melalui program Bangun Jalan Desa Sejahtera atau Bang Andra, kita perlahan memangkas disparitas ekonomi antara wilayah perkotaan dan perdesaan. Fokus utama program ini adalah memperbaiki perekonomian masyarakat di daerah yang memiliki kapasitas fiskal terbatas,” tuturnya.

Baca Juga:  Stok Beras Nasional Capai 4,3 Juta Ton

Pembangunan jalan desa juga bukan sekadar menghadirkan infrastruktur fisik, melainkan membuka akses terhadap berbagai peluang ekonomi yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“Ketika jalan desa menjadi lebih baik, biaya transportasi masyarakat bisa ditekan, hasil pertanian lebih mudah dipasarkan, dan aktivitas ekonomi tumbuh lebih cepat. Oleh karena itu, pembangunan jalan desa memiliki dampak yang sangat besar terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat,” jelas Andra.

Komitmen tersebut terus berlanjut pada tahun 2026, karena melalui program Bang Andra, Pemprov Banten kembali mengalokasikan anggaran sebesar Rp164 miliar untuk penanganan 33 ruas jalan desa dengan total panjang mencapai 46,71 kilometer.

Penanganan jalan pada tahun 2026 melalui program Bang Andra tersebar di Kabupaten Lebak sebanyak 11 ruas, Kabupaten Pandeglang sembilan ruas, Kabupaten Serang empat ruas, Kabupaten Tangerang empat ruas, Kota Serang empat ruas dan Kota Cilegon satu ruas.

Kabupaten Lebak dan Kabupaten Pandeglang kembali menjadi wilayah prioritas.

“Di tahun 2026, jangkauan pembangunan ruas jalan desa terus diperluas untuk memastikan pemerataan konektivitas di seluruh pelosok Banten,” jelasnya.

Gubernur Andra menegaskan, program Bang Andra dirancang sebagai program pembangunan yang berkelanjutan.

Selain meningkatkan konektivitas antarwilayah, program ini juga diharapkan mampu mempercepat pertumbuhan ekonomi lokal, memperkuat sektor pertanian dan UMKM, serta meningkatkan akses masyarakat terhadap layanan pendidikan dan kesehatan.

“Filosofi pembangunan adalah keberlanjutan. Kita kerjakan secara bertahap, terukur dan tepat sasaran. Terpenting, masyarakat bisa merasakan manfaatnya secara langsung,” ungkapnya.

Gubernur Andra juga mengajak seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah pusat, pemerintah kabupaten/kota, pemerintah desa hingga masyarakat untuk terus memperkuat kolaborasi dalam mendukung pembangunan infrastruktur daerah.

Tidak hanya itu, dia menilai setiap ruas jalan yang dibangun diharapkan tidak hanya menjadi penghubung antarwilayah, tetapi juga menjadi jalan menuju peningkatan kesejahteraan masyarakat dan kemajuan daerah secara berkelanjutan.

Sementara, Kepala DPUPR Provinsi Banten Arlan Marzan menyatakan, ruas jalan yang masuk dalam program Bang Andra merupakan usulan dari kepala desa atau kelurahan melalui pemerintah kabupaten dan kota yang kemudian diusulkan kepada Pemprov Banten.

“Kita menerima usulan dari pemerintah kabupaten/kota untuk ruas jalan yang masuk dalam program Bang Andra, kemudian kami juga melakukan survei dan memastikan jalan tersebut tepat untuk dibangun melalui program prioritas Gubernur dan Wakil Gubernur Banten,” katanya.

Baca Juga:  Pemprov Banten Apresiasi Pembahasan Dua Raperda Strategis

Selanjutnya, terdapat sejumlah kriteria agar ruas jalan tersebut masuk dalam program Bang Andra, di antaranya jalan tersebut menjadi penunjang aktivitas masyarakat, seperti untuk akses menuju sekolah, pelayanan kesehatan, pasar atau pusat perdagangan hingga pendukung sektor pertanian.

“Karena tujuan program ini memberikan dampak positif bagi masyarakat, terutama dalam meningkatkan perekonomian masyarakat,” ungkapnya.

Salah satu tokoh masyarakat Desa Majau Kholilullah menyampaikan rasa syukur atas pembangunan Jalan Majau – Mekarwangi sepanjang 1,3 kilometer di Kecamatan Saketi yang telah lama dinantikan warga.

Dia menggambarkan kondisi sebelumnya yang sangat memprihatinkan. “Dulu jalannya becek, penuh kerikil tajam, dan sangat sulit dilalui. Anak – anak sekolah kesulitan, warga bawa hasil panen juga susah. Sekarang, Alhamdulillah sudah bagus, biaya angkut jadi lebih murah.”

Menurut Kholilullah, sejak jalan tersebut rampung, akses masyarakat menuju sekolah, puskesmas, pasar dan pusat aktivitas lainnya menjadi jauh lebih lancer.

Sementara itu, Ketua RT Kampung Ranca, Desa Karyajaya, Kecamatan Cimarga, Kabupaten Lebak Uswani (50) mengatakan, kondisi jalan Luwuk – Grewel sebelumnya rusak parah.

Petani harus menggunakan jasa panggul untuk mengangkut hasil panen, tetapi

dengan program Bang Andra Jalan sepanjang 2,9 kilometer dengan lebar tiga meter membantu masyarakat, terutama para petani untuk mengangkut hasil taninya.

Program Bang Andra juga mampu mendukung terhadap laju pertumbuhan ekonomi di masyarakat perdesaaan dan memberikan dampak pada pertumbuhan ekonomi Provinsi Banten, pertumbuhan Ekonomi Provinsi Banten tahun 2025 tumbuh sebesar 5,37%, meningkat dibandingkan capaian tahun 2024 yang berada di angka 4,79%.

Pertumbuhan tersebut melampaui rata – rata nasional yang tercatat sebesar 5,11%. Dari sisi produksi, pertumbuhan tertinggi dicapai oleh lapangan usaha Pertanian, Kehutanan dan Perikanan sebesar 9,60%.

Pertumbuhan Ekonomi Provinsi Banten periode Triwulan I/2026 terhadap Triwulan I/2025 mengalami pertumbuhan sebesar 5,64% (y-on-y).

Dari sisi produksi, lapangan usaha Pertanian, Kehutanan dan Perikanan mencatat pertumbuhan tertinggi yaitu sebesar 17,88%.

Tidak hanya itu, program Bang Andra juga mampu memberikan dampak signifikan pada sektor pertanian, diantaranya dapat membantu para petani untuk memudahkan mengangkut hasil panen.

Nilai Tukar Petani (NTP) Provinsi Banten pada akhir tahun 2025 tercatat sebesar 111,81 pada Desember, yang menunjukkan peningkatan daya beli petani.

Selain itu, Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) Banten pada periode yang sama mencapai angka 117,43.

Mencerminkan peningkatan kemampuan usaha petani untuk menutup biaya produksi dan menambah modal. I

 

Kirim Komentar