Reformasi Pacu Hilirisasi Pertanian Dorong Lompatan Ekonomi Nasional

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa kepemimpinan yang berani mengubah sistem pertanian menjadi fondasi utama dalam menjaga kedaulatan pangan sekaligus mendorong lompatan ekonomi nasional.

Hal tersebut disampaikan saat memberikan arahan pada Leadership Camp ASN Sulawesi Selatan di Asrama Haji Sulawesi Selatan.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Gubernur Sulawesi Selatan (Sulsel) Andi Sudirman Sulaiman, Pangdam XIV/Hasanuddin Mayjen TNI Bangun Nawoko dan jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah Sulawesi Selatan.
Di hadapan para Aparatur Sipil Negara (ASN), Mentan menegaskan bahwa kepemimpinan bukan sekadar jabatan struktural, melainkan amanah yang harus dijalankan dengan integritas dan keberanian mengambil keputusan.
“Memimpin itu indah dalam mimpi, tetapi tidak mudah dalam kenyataan. Pemimpin yang adil dimuliakan, yang tidak adil kehilangan kehormatan,” ujarnya.
Dia berbagi perjalanan panjangnya di berbagai lini pengabdian, mulai dari birokrat lebih dari dua dekade, tiga periode di kabinet, dua puluh tahun sebagai pengusaha, hingga lebih dari satu dekade sebagai dosen.
Mentan juga pernah menjadi penyuluh pertanian lapangan selama bertahun – tahun.
Menurutnya, tekanan dan ujian justru membentuk karakter kepemimpinan yang tangguh.
Mentan menambahkan, sektor pertanian membutuhkan kepemimpinan yang tidak ragu membongkar sistem lama yang berbelit dan tidak efektif.
Reformasi regulasi, subsidi, hingga tata niaga menjadi langkah konkret untuk memastikan kebijakan benar-benar berdampak pada petani.
“Kalau kita hanya melakukan hal yang sama dan berharap hasil berbeda, itu tidak masuk akal. Kita harus berani ubah sistem, Indonesia bisa melompat,” tuturnya.
Sebagai bukti, Mentan menegaskan,  reformasi tata kelola pupuk bersubsidi melalui deregulasi 145 aturan dan penyederhanaan distribusi.
Sistem yang sebelumnya panjang kini dipangkas sehingga lebih efisien dan transparan, hanya melibatkan Kementerian Pertanian, PT Pupuk Indonesia, serta Gapoktan atau pengecer sebagai ujung distribusi kepada petani.
Reformasi tersebut menurunkan biaya pupuk bersubsidi hingga 20% dan meningkatkan volume pupuk 700.000 ton tanpa tambahan anggaran.
Langkah ini memperkuat kepastian pasokan dan meningkatkan efisiensi di tingkat petani.
Pemerintah juga merencanakan pembangunan tujuh pabrik pupuk baru untuk memperkuat ketahanan pasokan nasional dalam jangka panjang.
Selain reformasi sistem, Mentan menegaskan bahwa hilirisasi komoditas pertanian menjadi bagian dari kepemimpinan strategis untuk menjaga nilai tambah bangsa.
“Seluruh kekayaan kita dihilirisasi. Jangan ekspor mentah. Nilai tambahnya harus untuk rakyat,” katanya.
Secara khusus, Mentan menilai, peluang hilirisasi kelapa semakin besar seiring terjadinya pergeseran pola konsumsi pangan global, termasuk di Tiongkok, yang mulai beralih dari susu hewani seperti susu sapi dan kambing ke susu nabati berbasis kelapa.
“Ini coconut milk. Itu ada pergeseran pangan di Tiongkok, itu dari susu sapi kambing bergeser ke susu yang dari kelapa. Ini nilainya ini total itu bisa potensi Rp5.000 triliun,” ungkapnya.
Mentan juga menyoroti komoditas gambir, di mana sekitar 80 persen bahan bakunya dikuasai Indonesia, tapi proses pengolahannya masih dilakukan di luar negeri.
“Gambir kita diekspor ke India, lalu dijual kembali oleh India ke Amerika. Potensinya bisa mencapai Rp5.000 triliun,” jelasnya.
Sementara itu, pada komoditas CPO, Indonesia menguasai sekitar 60% hingga 70% pasar dunia.
Dengan strategi penguatan biofuel dan pengurangan impor solar, nilai tambahnya dinilai dapat melonjak signifikan.
“Baru tiga komoditas saja yang dihilirisasi bisa menghasilkan Rp15.000 triliun,” ujarnya.
Transformasi tersebut, lanjutnya, bukan hanya soal pertumbuhan angka, tetapi soal survival dan martabat bangsa di tengah dinamika global yang semakin kompetitif.
“Sungguhnya Allah mencintai orang yang bekerja. Jangan hanya berdoa, tapi juga harus bertindak. Indonesia harus dipaksa maju,” tegasnya.
Melalui kepemimpinan yang berintegritas, keberanian mengubah sistem dan penguatan sektor pertanian dari hulu hingga hilir, Mentan optimistis Indonesia mampu menjaga kedaulatan pangan, sekaligus melompat menjadi kekuatan ekonomi dunia. I
Kirim Komentar
Baca Juga:  Sambut Nataru 2024/2025, Kemenhub Pastikan Kelaiklautan Dan Kesiapan Armada Kapal Terpenuhi