Rumpun Bambu Tumbuhkan Industri, Buka Peluang Kerja dan Kurangi Ketergantungan Bahan Baku Impor

Potensi besar tanaman bambu tidak hanya bisa menumbuhkan sektor industri, melainkan juga membuka peluang kerja dan mengurangi ketergantungan pada bahan baku impor.

Maka dari itu, Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Faisol Riza menerima Yayasan Bambu Saktya Mulia (YBSM) untuk membahas penguatan industri bambu di berbagai daerah.

“Bambu menjadi berkah bagi perajin dan juga menjadi kekuatan industri. Dari rumpun bambu, kita bisa menumbuhkan industri, membuka peluang kerja dan mengurangi ketergantungan pada bahan baku imopr,” katanya di Jakarta.

Dia mencontohkan wilayah Kabupaten Sleman yang memiliki sebanyak 1.759 perajin yang menggantungkan penghidupannya dengan tanaman bambu. “Dari bambu, kita bangun industri dan buka lapangan kerja.”

Namun, Wamenperin Riza menegaskan bahwa potensi besar tersebut masih menghadapi persoalan mendasar, yakni masalah pasokan bahan baku berkualitas yang belum terjamin, terutama saat musim hujan.

“Potensi inilah yang saya bahas saat meneirma kunjungan Yayasan Bambu Saktya Mulia (YBSM), dengan jajaran Pemerintah Kabupaten Sleman sebagai model awal pengembangan ekosistem industri bambu,” ungkapnya.

Dia menjelaskan dalam pertemuan tersebut ada gagasan pembentukan Pusat Logistik Bambu, yang menjadi langkah penting untuk menyediakan batang dan iratan siap pakai.

Maksud dari iratan bambu adalah hasil dari proses penyayatan atau pengirisan batang bambu yang telah dibelah – belah menjadi bilah atau lembaran tipis untuk selanjutnya dianyam menjadi kerajinan.

Wamenperin Riza menegaskan bahwa membangun Pusat Logistik Industri Bambu untuk mengelola pengumpulan, pengolahan, pengawetan dan penyimpanan bahan baku yang terstandar.

Pembenahan rantai pasok hulu, termasuk dukungan bagi sentra Industri Kecil dan Menengah (IKM), seperti di Kabupaten Sleman dan Kabupaten Sukabumi) adalah untuk menjaga kualitas bahan baku sepanjang tahun.

Menurutnya, limbah dari bambu dapat diolah menjadi arang dan asap cair, sehingga semakin banyak bagian dari pohon bambu yang menghasilkan nilai ekonomi bagi masyarakat.

Baca Juga:  Sertifikasi Mutu Perikanan Indonesia Semakin Diakui

“Saya mendukung penguatan ekosistem ini melalui penyiapan tenaga terampil, pengembangan Akademi Komunitas Bambu dan pemetaan data bahan baku, kapasitas produksi, serta peluang pasar,” ungkap Wamenperin Riza.

Dengan semangat Local Balue Contemporary Spirit, lanjutnya, bambu Indonesia memiliki peluang besar untuk hadir dalam produk modern bernilai tinggi.

“Bambu tumbuh di tanah kita. Saya ingin nilai tambahnya tumbuh menjadi kesejahteraan masyarakat kita,” jelas Wamenperin Riza.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat bahwa Indonesia memiliki potensi besar pada industri bambu nasional, tetapi pangsa ekspornya masih rendah, yaitu sekitar 0,9% dari pasar global (jauh di bawah Tiongkok yang mencapai 74,8%).

Indonesia memiliki lebih dari 125 jenis bambu hingga 162 jenis bambu dengan luas kebun mencapai 2,4 juta hektare, sedangkan pasar produk berbasis bambu dunia diproyeksikan meningkat dari US$74 miliar pada tahun 2024 menjadi US$118,3 miliar pada tahun 2034.

Industri bambu, dari data Kemenperin menyebutkan, dikembangkan tidak hanya untuk furnitur dan kerajinan, tetapi juga material konstruksi dan bioindustri.

Salah satunya melalui dukungan terhadap teknologi Cement-Bamboo Frame Technology (CBFT) untuk program perumahan.

Kemenperin juga tengah menyusun Peta Jalan Pengembangan Ekosistem Industri Bambu Hulu – Hilir Terintegrasi dan penyelenggaraan Akademi Komunitas Bambu (AKB) 2026 dilakukan di Balai Diklat Industri Yogyakarta (melatih 25 calon Master Bambu). I

 

Kirim Komentar