Kementerian Pertanian (Kementan) mulai menggerakkan pengembangan bioetanol berbasis tiga komoditas utama, yakni tebu, ubi kayu atau singkong dan jagung.
Pemerintah menyiapkan pengembangan lahan hingga 2 juta hektare sebagai fondasi pembangunan industri bioetanol nasional, sekaligus langkah memperkuat kemandirian energi.
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengatakan, pengembangan bioetanol tidak cukup hanya dengan membangun pabrik.
Pemerintah terlebih dahulu memastikan ketersediaan bahan baku melalui pengembangan kawasan pertanian dalam skala besar dan terintegrasi dengan industri pengolahan.
“Etanol ini butuh lahan 1 juta hektare hingga 2 juta hektare dengan tiga komoditas strategis. Insyaallah kita akan bangun pabriknya, kita gerakkan masif seluruh Indonesia,” ujarnya usai memimpin Rapat Program Khusus Pengembangan Bioetanol bersama 44 bupati dari sejumlah daerah di Jakarta.
Tiga komoditas tersebut akan dikembangkan sesuai potensi masing – masing daerah.
Tebu menjadi salah satu fokus utama karena memiliki potensi besar sebagai bahan baku bioetanol, sedangkan mentara singkong dan jagung akan dikembangkan di wilayah yang memiliki kesesuaian lahan dan produktivitas tinggi.
“Ini cetak tebu, tanam tebu, tanam ubi, tanam jagung. Kita jadikan etanol,” ungkap Mentan Amran.
Menurutnya, kepastian bahan baku merupakan fondasi penting untuk menarik investasi industri bioetanol.
Oleh karena itu, dia menambahkan, pemerintah akan melakukan konsolidasi lahan dan menyiapkan kawasan produksi sebelum pembangunan industri dilakukan secara masif.
Mentan memperkirakan pembiayaan pembangunan industri dapat melibatkan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan swasta.
Pemerintah akan mengambil peran dalam penyiapan kawasan, sedangkan investasi industri dapat diperkuat melalui keterlibatan sektor swasta.
“Anggarannya mungkin 30% dari BUMN, 70% dari swasta dan pasti swasta mau karena tanahnya disiapkan oleh negara,” tuturnya.
Mentan menegaskan, pengembangan bioetanol juga harus memberikan manfaat langsung kepada masyarakat, sehingga pemerintah akan mendorong skema kemitraan agar masyarakat ikut menjadi bagian dari pertumbuhan kawasan pertanian dan industri yang dibangun.
“Ini tidak boleh monopoli, minimal 30% rakyat. Jadi rakyat menikmati. Sekarang nggak boleh di bawah 20%, harus 30% untuk rakyat. Harus tumbuh bersama kalau negara mau kuat,” katanya.
Pemerintah juga mendorong keterlibatan pengusaha daerah, sehingga pengembangan bioetanol tidak hanya menciptakan industri, tetapi sekaligus membangun pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru di daerah.
Dalam tahap awal, Kementan akan memperkuat pengembangan jagung melalui percontohan di daerah yang menyatakan kesiapan.
Mentan menyebutkan dukungan awal dapat diberikan dengan luasan 500 hektare hingga 1.000 hektare per kabupaten dan diperluas sampai dengan 1.500 hektare bagi daerah yang menunjukkan hasil produksi baik.
“Nanti kita lihat hasilnya. 1.000 hektare untuk setiap bupati yang datang. Kita lihat jagungnya yang tanamannya bagus, produksinya tinggi, saya akan tambah di Januari, tambah luasan jagung,” jelasnya.
Dukungan berupa alat dan mesin pertanian (alsintan) juga akan disiapkan untuk memperkuat produktivitas dan mempercepat pengembangan kawasan.
Sementara itu, untuk tebu, pemerintah menyiapkan pengembangan dalam skala yang lebih besar.
“Yang paling penting adalah tebu. Kita butuh 1 juta hektare. Tadi sudah dihadiri oleh Pak Dirjen dari Kehutanan Planologi, kemudian Deputi dari BUMN. Kita akan bergerak bersama,” tuturnya.
Dalam penyiapan lahan, pemerintah akan mengutamakan kawasan yang sesuai secara teknis dan memiliki kepastian legalitas.
Mentan Amran menambahkan bahwa pengembangan bioetanol tidak dilakukan dengan mengabaikan aspek lingkungan.
Pemerintah akan terlebih dahulu mengkaji berbagai sumber lahan yang tersedia, termasuk kawasan yang dapat diarahkan untuk agroforestri atau tanaman pangan serta lahan yang telah dilepaskan.
Pelepasan kawasan hutan menjadi pilihan terakhir. “Pokoknya kita jaga lingkungan, tetapi kita juga menjadi swasembada energi atau berdaulat energy.”
Menurut Mentan, pengembangan bioetanol pada akhirnya bukan hanya tentang menghasilkan bahan bakar alternatif, tetapi juga membangun rantai ekonomi baru dari sektor pertanian.
Mulai dari budidaya komoditas, pengolahan hasil, pembangunan industri hingga aktivitas ekonomi masyarakat akan bergerak dalam satu ekosistem.
“Kalau ini terjadi, minimal itu 8 juta tenaga kerja tercipta dan tenaga kerja permanen. Hebat kan? Hebat Indonesia itu,” tegasnya.
Pengembangan bioetanol juga diarahkan untuk meningkatkan bauran etanol dalam bahan bakar secara bertahap.
Pemerintah menargetkan peningkatan penggunaan etanol seiring kesiapan bahan baku dan industri.
“Ini E5, E10, E20 di 2029. Bisa perkiraan kita menuju nanti, bisa kita hitung ya, kalau kita bergerak dari sekarang itu bisa E40 2030, 2031,” ungkap Mentan.
Guna mempercepat realisasi program, Kementan menggandeng 44 bupati dari berbagai daerah dalam konsolidasi pengembangan kawasan.
Pemerintah daerah diharapkan memetakan potensi lahan, komoditas dan kesiapan wilayah untuk menjadi bagian dari rantai pasok bioetanol nasional.
Mentan menyatakan, pengembangan bioetanol merupakan bagian dari agenda besar pemerintah dalam memperkuat kedaulatan energi dengan memanfaatkan kekuatan sektor pertanian dalam negeri.
“Intinya adalah bagaimana kita berdaulat energi, pangan, protein. Insyaallah Indonesia menjadi negara besar, negara superpower ke depan,” ujarnya. I
