Serat Alami Harus Mampu Jadi Sumber Penghasilan Petani dan Perkuat Pasokan Bahan Baku Industri

Indonesia memiliki serat rami, nanas, sutra, kapas hingga kenaf yang harus mampu menjadi sumber penghasilan petani, sekaligus memperkuat pasokan bahan baku industri dalam negeri.

Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Faisol Riza mengatakan, kekayaan serat alam harus terhubung dengan kebutuhan industri agar petani mendapat kepastian pasar dan Indonesia semakin kuat memasok bahan baku tekstil sendiri.

Maka dari itu, dia menerima audiensi Dewan Serat Indonesia (DSI) untuk membahas pengembangan serat alam nasional sebagai bahan baku industri tekstil dan biokomponen.

“Pertemuan dengan Dewan Serat Indonesia juga membahas mengenai tantangannya, yakni menghubungkan seluruh rantai produksi dari budidaya dan pengolahan pascapanen hingga pemintalan, serta pembuatan kain,” katanya di Jakarta.

Menurut Wamenperin Riza, petani membutuhkan kepastian pasar, sedangkan industri memerlukan pasokan bahan baku yang konsisten dan berkualitas.

“Saya mengapresiasi langkah DSI yang telah membuktikan bahwa serat alam lokal dapat diolah menjai kain berkualitas,” jelasnya.

Kemampuan ini, dia menambahkan, perlu dikembangkan melaui kerja sama dengan petani, pelaku industri dan akademisi, serta penjajagan uji coba yang terukur.

“Saya ingin pengembangan serat alam menghasilkan manfaat nyata, yakni membuka peluang usaha, memperkuat industri dan meningkatkan pendapatan amsyarakat,” tutur Wamenperin Riza.

Dia menegaskan bahwa kemandian industri tekstil harus dibangun sejak dari lahan petani hingga menjadi produksi yang bernilai tinggi.

Sementara itu, rantai nilai serta alam, menurut DSI, adalah dari budidaya berupa pemesanan dan pemeliharaan, kemudian panen dengan pengambilan bahan baku, lalu pengolahan serat, baik itu pemisahan dan pembersihan, serta pemintalan dari serta menjadi benang untukmenghasilkan produk, berupa kain, kerajinan dan juga berbagai komponen.

Menurut berbagai informasi yang dihimpun mengenai kondisi dan tren serat alam di Indonesia adalah industri tekstil nasional masih sangat bergantung pada pasokan kapas impor yang mencapai kisaran 99,9%, sedangkan produksi kapas domestik memenuhi kurang dari 0,1% kebutuhan dalam negeri.

Baca Juga:  KLH/BPLH Jembatani Penjualan Energi Hijau dari Sampah Daerah ke Industri

Guna menghadapi fluktuasi iklim global dan potensi kelangkaan kapas, pemerintah dan pelaku industri mulai mendorong pemanfaatan serat alam local, seperti serta rami, misalnya dari Wonosobo, Jawa Tengah, yang produknya menembus World Fashion Exhibition 2026 di New York).

Kebutuhan serat rami dunia diperkirakan mencapai 1 juta ton per tahun, dengan potensi Indonesia menyumbang hingga 20% dan sebagian besar hasil produksinya, yakni sekitar 95% ditujukan untuk pasar ekspor, seperti Tiongkok, Malaysia, Amerika Serikat dan Italia.

Serat alam lainnya adalah serat daun nanas dan serat pelepah pisang, yang mulai dikembangkan secara masif sebagai bahan baku wastra, kerajinan hingga tekstil berkelanjutan (sustainable fashion).

Sentra kerajinan serat alam di berbagai daerah (seperti Kebumen melalui pelaku usaha, seperti Agrominafiber, yang terus memperluas kapasitas produksi dan ekspor produk dekorasi, serta kriya berbasis serat alam ke pasar internasional, termasuk Amerika Serikat dan Eropa.

Proyeksi pasar serat alam global diperkirakan tumbuh dari US$66,87 miliar pada tahun 2026 menjadi US$99,31 miliar pada tahun 2034 dengan pertumbuhan tahunan sekitar 5,1%. I

 

Kirim Komentar