Sistem Pintar Monitoring Emisi Karbon Kapal Ciptaan Taruna Poltekpel Surabaya

Di tengah sorotan global terhadap perubahan iklim dan tuntutan pengurangan emisi gas rumah kaca di sektor maritim, dimana Kementerian Perhubungan (Kemenhub) berkomitmen mendorong pengembangan transportasi publik yang bersih, cerdas, terintegrasi dan berkelanjutan.

Sebuah inovasi membanggakan lahir dari para taruna Politeknik Pelayaran (Poltekpel) Surabaya.

Taruna Program Studi Diploma IV Transportasi Laut berhasil mengembangkan Marco (Maritime Carbon Offset System), sebuah sistem monitoring emisi karbon berbasis Internet of Things (IoT) yang dirancang untuk mewujudkan pelayaran hijau (green shipping).

Keberhasilan ini menempatkan Poltekpel Surabaya sebagai salah satu perguruan tinggi vokasi pelayaran terdepan yang responsif terhadap isu lingkungan global.

Dalam pernyataanya pada Senin (6/7), Direktur Poltekpel Surabaya Moejiono menyampaikan apresiasi kepada para taruna dan mengonfirmasi bahwa karya inovatif ini telah resmi mendapatkan perlindungan hukum.

“Kami sangat bangga atas pencapaian para taruna melalui Capstone Design ini. Marco membuktikan bahwa lulusan Poltekpel Surabaya tidak hanya andal secara operasional, tetapi juga mampu melahirkan teknologi solutif bagi industri maritim dan pemerintah,” jelasnya.

Moerjiono menuturkan bahwa ini adalah bukti nyata kontribusi kampus dalam mendukung target Net Zero Emission Indonesia 2060, sekaligus sebagai bentuk komitmen dan pengakuan atas orisinalitasnya, alat ini juga telah resmi terdaftar dalam Hak Kekayaan Intelektual (HAKI).

Inovasi aplikatif ini lahir dari proyek Capstone Design Taruna Prodi Sarjana Terapan Transportasi Laut Kelompok 4 yang digawangi oleh lima taruna berprestasi, yakni Bika Mukhtaruddin, Chintya Putri Claudia Ode, Rorusman Jadid Nurhadi, Siti Aurum Eka Nursasi dan Syahlia Eka Handayani.

Marco adalah prototype sistem monitoring emisi karbon berbasis IoT karya Taruna Diploma IV Transportasi Laut Poltekpel Surabaya.

Menggunakan teknologi sensor MQ dan kalkulasi otomatis, Marco hadir menjadi media monitoring yang praktis, efisien, sekaligus mendukung pelestarian lingkungan pesisir lewat konsep rehabilitasi mangrove.

Baca Juga:  KEMENPAREKRAF BEKALI PELAKU PAREKRAF BELITUNG PELATIHAN TOUR LEADER

Pengembangan Marco dipicu oleh tingginya emisi karbon sektor pelayaran di Indonesia sebagai negara maritim.

Melihat melimpahnya potensi hutan mangrove Indonesia sebagai penyerap karbon alami (blue carbon), tim inovator ini melihat peluang besar untuk mengintegrasikan sistem pemantauan emisi dengan konsep carbon offset.

“Melalui Marco, kami ingin menghadirkan solusi pemantauan emisi kapal yang cepat, akurat dan ramah digital. Kami berharap ini menjadi langkah awal optimalisasi carbon offset maritim di Indonesia,” tutur perwakilan Tim Capstone Kelompok 4.

Secara teknis, Marco bekerja memanfaatkan kombinasi cerdas mikrokontroler ESP32, sensor gas sensitif (MQ-135, MQ-7 dan MQ-2), serta modul komunikasi nirkabel NRF24L01.

Data hasil pembakaran mesin kapal dibaca secara instan, diolah menjadi estimasi emisi dan ditampilkan langsung pada dashboard berbasis web secara real-time.

Selain itu, Marco dilengkapi fitur otomatisasi kalkulasi estimasi pajak karbon.

Ke depan, prototype ini diproyeksikan untuk naik kelas dengan integrasi teknologi Artificial Intelligence (AI), blockchain dan sistem Monitoring, Reporting and Verification (MRV) demi akurasi dan transparansi data yang lebih tinggi bagi industri pelayaran global.

Teknologi ini merupakan salah satu upaya Sumber Daya Manusia (SDM) Transportasi dalam menghadirkan Inovasi untuk mewujudkan transportasi rendah karbon.

Sektor transportasi saat ini menyumbang sekitar 8,18% dari total emisi gas rumah kaca nasional, sehingga Inovasi ini diharapkan dapat mendukung langkah strategis Kemenhub untuk memenuhi komitmen iklim pada tahun 2030 dan mencapai Net Zero Emission di tahun 2060. I

Kirim Komentar