Fenomena cuaca El Nino diprediksi mulai melanda Indonesia dan pemerintah telah bersiap sejak jauh hari sebelumnya dalam kaitannya memperkuat stok pangan nasional, terutama beras.
Indikatornya ada di stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang telah berada lebih dari 5 juta ton sebelum bencana iklim El Nino menerpa.
“Kami memang sudah siapkan jauh hari sebelumnya menghadapi El Nino. Dulu pengalaman kita tahun 2023. Alhamdulillah kita lolos. Stok kita sampai detik ini, itu 5,2 sampai 5,3 juta ton. Itu stok tertinggi sepanjang sejarah. Ini cukup baik,” ujar Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman di Jakarta.
Dia optimistis mengenai ketersediaan beras Indonesia sampai Desember 2026 masih aman, bahkan dalam estimasinya keseluruhan stok beras masih dapat mencukupi sampai dengan Mei 2027.
“Insyaallah aman, katakanlah sampai Desember. Bahkan, beras kita sudah sampai Mei pun cukup. Jadi tidak masalah,” ungkap Amran.
Hal Tersebut selaras dengan Proyeksi Neraca Pangan untuk beras yang sudah diperbarui awal Juni 2026.
Neraca akhir tahun beras Indonesia diestimasikan masih terdapat stok 16,24 juta ton.
Ini berasal dari stok awal tahun 2026 di 12,54 juta ton ditambah dengan proyeksi produksi setahun 34,76 juta ton, lalu dikurangi kebutuhan konsumsi setahun 31,1 juta ton.
Dengan proyeksi neraca akhir tahun beras sebesar 16,24 juta ton tersebut dinilai masih mampu untuk penuhi kebutuhan konsumsi nasional sekitar lima bulan lamanya di tahun 2027.
Namun, pada Maret – April 2027, stok beras nasional akan semakin meningkat karena telah memasuki musim panen raya.
Sebagai informasi, per 23 Juni dalam catatan Bapanas, realisasi penyaluran CBP ke masyarakat untuk anggaran tahun 2026 telah menyentuh total 1,02 juta ton.
Jumlah tersebut terdiri dari bantuan pangan beras 601.700 ton, SPHP beras 367.800 ribu ton, golongan anggaran 38.000 ton dan tanggap darurat 11.300 ton.
Terbaru, pemerintah pun telah memutuskan bantuan pangan beras akan ditambah tiga bulan alokasi selama semester kedua tahun ini.
Sementara itu, total stok beras yang ada di Bulog sampai 23 Juni 2026 berada di angka 5,17 juta ton.
“Ini bersumber dari pengadaan setara beras produksi dalam negeri sejak awal 2026 yang telah mencapai 3,23 juta ton,” tegas Amran.
Selain itu, juga ditopang dari stok akhir tahun 2025 yang masih ada 3,24 juta ton, yang sepenuhnya bersumber dari realisasi pengadaan setara beras produksi dalam negeri selama tahun 2025 di angka 3,43 juta ton tanpa ada impor.
Lebih lanjut, kondisi harga beras dalam pemantauan Bapanas, per 22 Juni 2026 mencatatkan rerata harga beras medium masih berada di bawah Harga Eceran Tertinggi (HET). “Memang terjadi kenaikan harga beras dalam sebulan terakhir, namun masih sesuai koridor HET beras medium.”
Zona I (Jawa, Lampung, Sumatera Selatan, Bali, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi), rerata harga per 22 Juni di Rp13.080 per kilogram (kg) dengan HET beras medium Zona I di Rp13.500 per kg.
Sulawesi Selatan jadi daerah dengan rerata harga beras medium paling rendah dengan Rp12.665 per kg dan Sulawesi Tengah mengalami rerata harga paling tinggi di Rp13.847 per kg.
Mengenai Zona II (Sumatra selain Lampung dan Sumatra Selatan, Nusa Tenggara Timur, serta Kalimantan), rerata harga 22 Juni di Rp13.704 per kg dengan HET Rp14.000 per kg.
Jambi menjadi daerah dengan rerata harga beras medium paling rendah dengan Rp12.595 per kg dan daerah dengan rerata harga paling tinggi di Kalimantan Timur dengan Rp14.586 per kg.
Terakhir, di Zona III (Maluku dan Papua), rerata harga beras medium per 22 Juni 2026 berada di level Rp15.244 per kg dengan HET Rp15.500 per kg.
Daerah paling rendah rerata harga beras medium ada di Maluku dengan Rp14.700 per kg, sedangkan daerah dengan rerata harga beras medium tertinggi di Papua Pegunungan dengan Rp20.000 per kg. I





