Stok LPG dan BBM Siap Jelang Idulfitri 1447 Hijriah

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melaporkan bahwa stok Bahan Bakar Minyak (BBM) dan Liquefied Petroleum Gas (LPG) dalam kondisi aman menjelang Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah atau Lebaran 2026.

Menurut Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia, cadangan berbagai jenis BBM saat ini berada di atas batas minimum sehingga mampu memenuhi kebutuhan masyarakat selama periode Lebaran 2026.

“Jadi saya pikir untuk urusan bensin, Insyaallah clear Bapak Presiden. Cadangan menjelang hari raya untuk semua BBM dan LPG, Insyaallah aman Bapak,” jelasnya di Jakarta.

Dalam Sidang Kabinet Paripurna yang digelar di Jakarta dijelaskan, cadangan Jenis BBM Khusus Penugasan (JBKP) RON 90 mencapai sekitar 24,39 hari.

Sementara itu, cadangan Jenis BBM Umum (JBU) RON 92 tercatat sekitar 28 hari dan RON 98 sekitar 31 hari.

Mengenai jenis solar subsidi, kapasitas cadangan mencapai sekitar 16,41 hari, sedangkan solar CN 53 sekitar 46 hari dan avtur sekitar 38 hari.

Bahlil menuturkan, pasokan LPG nasional tetap terjaga meskipun rantai distribusi global mengalami dinamika.

Menurutnya, sekitar 70% hingga 72% impor LPG Indonesia berasal dari Amerika Serikat, sekitar 20% dari Timur Tengah, dan sisanya dari sejumlah negara lain.

Untuk mengantisipasi ketidakpastian pasokan dari Timur Tengah, pemerintah menyiapkan sejumlah langkah, termasuk membuka peluang tambahan pasokan dari Amerika Serikat dan negara lain seperti Australia.

“Di akhir minggu ini kita masuk dua kargo dari Australia untuk LPG,” ungkap Bahlil.

Dia menambahkan, pasokan solar relatif lebih stabil karena seluruhnya diproduksi dari dalam negeri.

Kondisi tersebut juga didukung oleh beroperasinya proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan pada Januari 2026 yang meningkatkan kapasitas produksi kilang nasional.

Proyek tersebut diperkirakan dapat mengurangi impor bensin hingga sekitar 5,5 juta ton dan solar sekitar 3,5 juta ton per tahun.

Ke depan, pemerintah juga terus mendorong pembangunan kilang minyak untuk meningkatkan produksi BBM dalam negeri dan mengurangi ketergantungan pada impor.

“Kalau lifting kita nggak mencapai 1,6 juta barel minyak per hari, selisih antara kebutuhan crude dan kemampuan kita lifting, itulah yang kita impor. Jadi, ke depan itu tinggal impor crude saja,” ungkap Bahlil. I

 

 

Kirim Komentar