Transformasi Pesantren Dimulai dari Sanitasi yang Layak

Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM) Abdul Muhaimin Iskandar meluncurkan sekaligus melakukan groundbreaking pembangunan 10.000 kamar Mandu, Cuci, Kakus (MCK) pondok pesantren se-Indonesia.

Kegiatan tersebut sebagai bagian dari upaya memperkuat kualitas hidup santri dan mendorong transformasi pesantren yang lebih sehat, produktif dan berdaya di Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Musri, Cianjur, Jawa Barat.

Menurut Menko Muhaimin, pemberdayaan masyarakat tidak hanya berbicara mengenai peningkatan ekonomi, tetapi juga dimulai dari pemenuhan kebutuhan dasar yang layak.

Pesantren sebagai pusat pendidikan, pembinaan karakter dan pemberdayaan umat harus didukung oleh infrastruktur dasar yang memadai, termasuk akses sanitasi yang sehat.

“Transformasi pesantren harus dimulai dari hal – hal yang paling mendasar. Santri tidak cukup hanya memperoleh pendidikan yang baik, tetapi juga harus hidup di lingkungan yang sehat, bersih, dan bermartabat. Sanitasi yang layak adalah fondasi bagi lahirnya generasi yang sehat, produktif dan siap berkontribusi bagi bangsa,” ujarnya.

Program pembangunan 10.000 kamar MCK ini menjadi respons atas hasil audit sementara Kementerian Pekerjaan Umum (PU) terhadap 80 pondok pesantren di sembilan provinsi yang menunjukkan masih besarnya tantangan sanitasi di lingkungan pesantren.

Audit tersebut menemukan bahwa dari 1.634 massa bangunan yang diperiksa, hanya sekitar 2,5 persen yang telah memenuhi standar penyediaan air minum.

Sementara itu, seluruh bangunan yang diaudit belum memenuhi standar pengelolaan air limbah domestik.

Selain itu, jumlah fasilitas MCK di banyak pesantren masih jauh dari kebutuhan ideal, disertai kondisi bangunan yang kurang terawat dan belum memenuhi standar teknis nasional.

Menko Muhaimin menilai, kondisi tersebut tidak boleh dibiarkan karena sanitasi yang buruk berpotensi menimbulkan berbagai persoalan kesehatan yang pada akhirnya menghambat proses belajar dan aktivitas pemberdayaan di pesantren.

Dia menegaskan, pesantren memiliki posisi yang sangat strategis dalam pembangunan masyarakat Indonesia.

Selain menjadi lembaga pendidikan keagamaan, pesantren juga menjadi pusat pengembangan ekonomi kerakyatan, kewirausahaan, pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) hingga penguatan nilai-nilai sosial di tengah masyarakat.

“Oleh karena itu, membangun pesantren bukan hanya membangun gedungnya, tetapi membangun kualitas manusianya. Ketika santri sehat, proses belajar berjalan baik, produktivitas meningkat dan pesantren akan semakin optimal menjalankan perannya sebagai pusat pemberdayaan masyarakat,” tutur Menko Muhaimin.

Pembangunan 10.000 kamar MCK ini juga diharapkan menjadi momentum untuk membangun budaya hidup bersih dan sehat di lingkungan pesantren.

Perbaikan tidak hanya difokuskan pada pembangunan fisik, tetapi juga mencakup pengelolaan sanitasi yang sesuai standar, sistem pengolahan air limbah yang aman dan penguatan kapasitas pengelola pesantren dalam melakukan pemeliharaan fasilitas secara berkelanjutan.

Menko Muhaimin berharap kolaborasi lintas kementerian, pemerintah daerah, dunia usaha dan seluruh pemangku kepentingan dapat mempercepat terwujudnya pesantren yang sehat, layak, serta semakin berdaya.

“Pesantren telah menjadi salah satu pilar penting pembangunan bangsa selama ratusan tahun. Sudah saatnya kita memastikan seluruh santri belajar dan tumbuh di lingkungan yang sehat dan manusiawi. Dari pesantren yang sehat akan lahir generasi unggul yang mampu menjadi motor pemberdayaan masyarakat Indonesia,” tuturnya. I

 

 

Kirim Komentar