Upaya BMKG Atasi Karhutla dan Banjir di Sumatra Jelang Kemarau

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terus memantau kondisi di wilayah bencana dalam upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dan banjir pada sejumlah wilayah di Sumatra.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menjelaskan, Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) masih dilakukan di wilayah Riau dan Kalimantan Barat (Kalbar) untuk mencegah dan membantu penanganan karhutla di sejumlah titik di provinsi tersebut.

“Di Sumatra Utara, itu kita masih diperlukan juga beberapa kali melakukan OMC untuk mengurangi hujan. Untuk yang di Riau, kita menambah hujan agar dapat menjenuhkan tanah dan juga untuk meningkatkan kadar airnya agar dia lebih berkurang potensi mengalami karhutla,” katanya.

Dia menuturkan, OMC dilakukan di wilayah Sumatra Utara, karena sejumlah daerah masih terjadi banjir, termasuk yang baru – baru ini melanda wilayah Tapanuli Tengah dan Tapanuli Selatan.

Pemantauan untuk curah hujan sendiri, lanjutnya, masih dilakukan dalam sepekan ke depan, dengan BMKG memprakirakan masih terjadi curah hutan tinggi dalam periode tersebut.

Pemerintah segera melakukan rapat koordinasi nasional terkait antisipasi menghadapi potensi karhutla menjelang musim kemarau.

“Itu ketika masih ada awan yang bisa disemai, itu kita coba untuk memodifikasi cuaca agar ketika menghadapi musim kemarau yang lebih panjang, kondisi sudah lebih basah, lebih jenuh,” tuturnya.

BMKG memprediksi awal musim kemarau di Indonesia dimulai pada April 2026 yang diawali di Nusa Tenggara dan bertahap di wilayah lain.

Tidak hanya itu, Faisal menegaskan, durasi musim kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia yang berada pada 400 Zona Musim (ZOM) akan mengalaminya lebih panjang dibandingkan normal.

Puncak musim kemarau diprediksi terjadi pada Juli 2026 untuk sebagian Sumatra, Kalimantan bagian Tengah dan Utara, sebagian kecil Jawa, sebagian kecil Nusa Tengara Barat dan Timur, Sulawesi Barat bagian Utara, Sulawesi Tengah bagian Barat, Sulawesi Utara bagian Barat, sebagian kecil Maluku, Papua Barat bagian Tengah, dan Papua bagian Timur.

Baca Juga:  BMKG Prediksi Rob di Pesisir Utara Jateng

Wilayah yang mengalami puncak kemarau pada Agustus 2026 adalah Sumatra bagian Tengah dan Selatan, Jawa bagian Tengah hingga Timur, sebagian besar Kalimantan, Sulawesi, Bali dan Nusa Tenggara, sebagian Maluku, Maluku Utara dan Pulau Papua.

Sementara itu, BMKG memprakirakan daerah yang mengalami puncak musim kemarau pada September 2026, yaitu sebagian Lampung, sebagian kecil Jawa, sebagian besar NTT, Sulawesi bagian Utara dan Timur, sebagian besar Maluku Utara, sebagian Maluku dan sebagian kecil Pulau Papua. I

Kirim Komentar