World Engineering Day 2026 Teguhkan Peran Insinyur Indonesia

Peran strategis para insinyur Indonesia dalam menjawab tantangan pembangunan nasional yang berkelanjutan.

Menurut Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Faisol Riza, Indonesia tengah berada pada fase transformasi besar, mulai dari hilirisasi industri, transisi energi hingga akselerasi ekonomi digital yang seluruhnya bertumpu pada kapasitas rekayasa nasional.

“Saya menghadiri World Engineering Day 2026 di Jakarta pada 4 Februari 2026, sebuah momentum global yang diselenggarakan oleh Persatuan Insinyur Indonesia untuk menegaskan peran strategis para insinyur dalam menjawab tantangan pembangunan berkelanjutan,” katanya.

Sektor keteknikan, Wamenperin Riza menambahkan, menjadi pilar penting dalam mendorong indutrialisasi modern berbasis teknologi, otomasi dan transformasi digital, dengan kontribusi industri pengolahan sekitar 18% hingga 19% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), serta dukungan lebih dari 800.000 lulusan bokasi.

Dia menuturkan, pemerintah terus memperkuat ekosistem engineering melalui penguasaan teknologi, pengembangan talenta dan penguatan industri strategis.

“Mari kita jadikan World Engineering Day sebagai komitmen bersama untuk memperkuat peran engineering Indonesia dan bekerja untuk bangsa, bahkan bisa berkontribusi bagi dunia,” ungkap Wamenperin Riza.

Sinergi dan kolaborasi antarinsinyur, pelaku insustri dan pemerintah menjadi kunci untuk menterjemahkan visi pembangunan ke dalam solusi nyata yang herkelanjutan dan berdaya saing global.

Pada awal tahun 2025, Indonesia diperkirakan memiliki sekitar 2,7 juta insinyur, dengan rasio insinyur aktif sekitar 2.670 per satu juta penduduk.

Meskipun terdapat sekitar 400.000 lulusan teknik setiap tahun, hanya sebagian kecil yang berprofesi sebagai insinyur profesional, menyebabkan kekurangan sekitar 10.000 insinyur per tahun untuk kebutuhan industri.

Di Indonesia, setiap tahun ada sekitar 400.000 lulusan teknik, tapi hanya sekitar 270.000 insinyur yang diperkirakan aktif bekerja di bidang teknik dan rekayasa, sedangkan sekitar 30% lulusan teknik bekerja di luar bidang teknik atau nonrekayasa.

Baca Juga:  Kinerja Kegiatan Usaha Meningkat pada Triwulan II/2025

Berbagai informasi yang terhimpun menyebutkan, rasio insinyur di Indonesia masih tergolong rendah dibandingkan negara tetangga, seperti Malaysia dan Singapura, sehingga diperlukan peningkatan jumlah insinyur.

Data ini menyoroti kebutuhan akan percepatan produksi insinyur profesional yang bersertifikasi untuk mendukung pertumbuhan industri dan infrastruktur nasional. I

 

Kirim Komentar