Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menegaskan Kebun Binatang Bandung dipertahankan sebagai lembaga konservasi, sekaligus warisan budaya masyarakat Jawa Barat (Jabar) yang telah menjadi tradisi warga sejak lama.
Dia menjelaskan, kebun binatang yang akrab disebut Derenten memiliki nilai sejarah kuat, karena menjadi tujuan wisata keluarga masyarakat, terutama saat momentum Lebaran.
“Dari dulu ada ungkapan, tidak terasa Lebaran kalau tidak ke Derenten. Ini menunjukkan bahwa kebun binatang sudah menjadi bagian dari tradisi masyarakat,” ujar Farhan di Kebun Binatang Bandung.
Dia menjelaskan keberadaan kebun binatang tersebut perlu dijaga karena memiliki nilai historis dan budaya yang telah mengakar dalam kehidupan masyarakat Jawa Barat.
Farhan juga menilai pengelolaan kebun binatang menjadi bentuk penghargaan terhadap kontribusi pengelola sebelumnya, termasuk keluarga Bratakusumah yang merintis dan merawat kawasan tersebut.
Keberlanjutan pekerjaan para pegawai yang telah puluhan tahun merawat satwa turut menjadi perhatian dalam upaya mempertahankan kebun binatang.
“Mereka adalah keluarga besar yang harus kita jaga. Dedikasi mereka menjadi bagian penting dalam menjaga kebun binatang sebagai lembaga konservasi yang berkualitas,” tuturnya.
Kebun Binatang Bandung juga berperan penting dalam pelestarian satwa endemik Jawa Barat, seperti surili, macan tutul Jawa dan owa.
Pengembangbiakan satwa langka tersebut menjadi salah satu fokus penguatan fungsi konservasi di kawasan kebun binatang.
Farhan membuka peluang keterlibatan dalam upaya pelestarian badak Jawa yang populasinya kini terbatas di wilayah Banten dan Jawa Barat.
“Kita harus menjadi bagian dari upaya pelestarian satwa langka, termasuk yang endemik. Ini tanggung jawab bersama,” tegasnya.
Dia mengakui pembenahan kebun binatang menghadapi berbagai tantangan termasuk kritik masyarakat terkait kasus kematian satwa sebelumnya.
Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung membuka ruang evaluasi dan masukan publik untuk memperbaiki tata kelola kebun binatang.
“Kami membuka diri terhadap kritik dan masukan. Justru dengan transparansi kita ingin membangun rasa memiliki dari masyarakat terhadap kebun binatang ini,” ujar Farhan.
Penguatan pengelolaan kebun binatang dilakukan dengan melibatkan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA), Kementerian Kehutanan (Kemenhut), Dinas Kehutanan Jawa Barat, serta Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Bandung.
Farhan juga menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat karena Kebun Binatang Bandung masih ditutup sementara untuk memastikan sistem biosekuriti benar – benar aman.
“Kami ingin memastikan semuanya siap dan aman. Setelah itu kebun binatang akan kembali dibuka untuk masyarakat,” ujarnya. I





