Upaya penanganan darurat pascagempa bumi berkekuatan Magnitudo (M) 6,7 yang mengguncang Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah (Sulteng), terus menunjukkan perkembangan yang lebih baik.
Memasuki hari kedelapan masa tanggap darurat, pembangunan hunian sementara (huntara) bagi warga terdampak mulai dilaksanakan melalui peletakan batu pertama di Desa Kamarora A, Kecamatan Nokilalaki, pada Rabu (24/6).
Pembangunan Huntara Tahap I tersebut menjadi langkah penting dalam percepatan pemulihan masyarakat terdampak.
Berdasarkan data yang telah diverifikasi dan divalidasi, Bupati Sigi telah menetapkan Surat Keputusan Berita Acara Nama dan Alamat (By Name By Address/BNBA) penerima bantuan Huntara Tahap I sebanyak 50 unit rumah.
Sementara itu, proses verifikasi dan validasi penerima bantuan untuk tahap berikutnya masih terus dilakukan.
Selain pembangunan hunian sementara, berbagai upaya penanganan darurat terus dilakukan oleh pemerintah bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), TNI, Polri, dan unsur terkait lainnya.
Pada hari ini, perbaikan infrastruktur darurat berupa pemasangan bronjong dan perbaikan jaringan air bersih di Kecamatan Nokilalaki juga mulai dilaksanakan dengan dukungan pendanaan dari PUM Sulawesi Tengah.
Di sektor mitigasi risiko, tim gabungan juga melakukan pembukaan bendung alami yang terbentuk akibat gempabumi di kawasan Gunung Nokilalaki yang mengarah ke Sungai Kamarora.
Kegiatan dilakukan menggunakan jet water untuk membuka material kayu dan bebatuan yang menyumbat aliran sungai.
Langkah ini bertujuan mengurangi penumpukan air dan meminimalkan potensi ancaman banjir bandang maupun aliran material saat terjadi hujan, sesuai arahan Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto saat melihat langsung lokasi terdampak pada Jumat (19/6).
“Masalah potensi banjir bandang, itu jangan dilupakan. Kalau kemudian hujan lalu air tertahan oleh material longsoran di atas, kemudian bisa terjadi banjir bandang nanti muncul korban baru,” jelasnya.
BNPB, dia menambahkan, sudah sepakat akan dibersihkan material longsornya menggunakan pompa alkon dan peralatan lainnya. “BNPB nanti akan bantu operasionalnya.”
Selain itu, pelayanan kesehatan bagi masyarakat terdampak masih berlangsung dan siaga di posko-posko kesehatan.
Sementara itu, kebutuhan logistik dasar masyarakat tetap terpenuhi. Ketersediaan logistik permakanan dipastikan mencukupi hingga berakhirnya masa tanggap darurat pada 30 Juni 2026 berkat dukungan berbagai pihak.
Tim gabungan juga terus memantau kondisi pengungsian mandiri warga serta menyalurkan bantuan kebutuhan dasar.
Tempat ibadah yang terdampak gempa telah difasilitasi dengan tenda darurat dan telah digunakan kembali oleh masyarakat untuk beribadah.
Guna memperkuat dukungan penanganan darurat, BNPB menyalurkan bantuan tahap III yang terdiri atas berbagai peralatan dan logistik.
Bantuan tersebut antara lain 1 unit mobil dapur umum lapangan, 100 unit handy talky dan 1 unit tenda pengungsi untuk Kodam XXIII/Palaka-Wira.
Selanjutnya, Korem 132/Tadulako menerima 1 unit mobil dapur umum lapangan, dua unit motor trail beserta pompa alkon dan 2 unit tenda pengungsi.
Sementara itu, BPBD Provinsi Sulawesi Tengah menerima 300 paket sembako, 200 unit tenda keluarga, tiga unit tenda pengungsi, 300 lembar matras, dan 300 lembar selimut.
Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) hingga Selasa (23/6) pukul 24.00 waktu setempat, telah terjadi 1.349 kali gempa susulan sejak gempa utama pada 16 Juni 2026.
Dari jumlah tersebut, 49 gempa dirasakan masyarakat, dengan gempa terbesar berkekuatan magnitudo 5,3 yang tercatat satu kali. BMKG mencatat aktivitas gempa susulan menunjukkan tren penurunan yang signifikan.
Sementara itu, data sementara dampak gempa di Kabupaten Sigi per hari ini tercatat sebanyak 3.600 kepala keluarga atau 9.609 jiwa terdampak.
Seluruh korban luka telah mendapatkan penanganan dan saat ini dilaporkan telah pulih serta kembali beraktivitas di rumah masing-masing.
Kerusakan yang terdata sementara meliputi 1.979 unit rumah rusak ringan, 277 unit rumah rusak sedang, dan 277 unit rumah rusak berat.
Selain itu, terdapat kerusakan pada 110 rumah ibadah yang terdiri dari 29 masjid dan 81 gereja, 19 gedung perkantoran termasuk Kantor Bupati dan Bapperinda, 35 bangunan sekolah, 10 puskesmas, dua rumah adat, dua jaringan air bersih, serta enam fasilitas umum lainnya.
Data tersebut masih bersifat sementara dan menunggu hasil verifikasi teknis struktur bangunan.
Pemerintah Kabupaten Sigi masih menetapkan status Tanggap Darurat Bencana Gempa Bumi selama 14 hari, terhitung sejak 16 hingga 30 Juni 2026.
BNPB bersama seluruh pemangku kepentingan akan terus mendampingi pemerintah daerah dalam pelaksanaan masa tanggap darurat, sekaligus mempersiapkan tahapan rehabilitasi dan rekonstruksi guna mempercepat pemulihan kehidupan masyarakat terdampak. I





