Apresiasi Produktivitas Modeling Budi Daya Lobster KKP di Batam

Modeling Budi Daya Lobster yang dikembangkan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) di Batam, Kepulauan Riau menunjukkan produktivitas yang menjanjikan dan diproyeksikan panen kembali pada September 2026.

Komisi IV DPR memberikan pujian karena percontohan budidaya lobster modern ini juga berhasil menghidupkan usaha kerang – kerangan sebagai pakan lobster yang dikelola masyarakat.

Saat berkunjung ke lokasi Modeling Budi Daya Lobster di Balai Perikanan Budi Daya Laut (BPBL) Batam pada Kamis (23/7), sejumlah anggota Komisi IV DPR meninjau langsung fasilitas – fasilitas yang tersedia, dari mulai lokasi pendederan hingga Keramba Jaring Apung berisi lobster yang dibesarkan sejak Oktober 2026.

Jumlah KJA terdiri 116 unit ukuran L dan 56 unit ukuran M yang seluruhnya terisi lobster.

Mengenai KJA ukuran L, lobster rata – rata berbobot 150 gram per ekor hingga 200 gram per ekor.

Anggota Komisi IV DPR Dadang M. Naser mengapresiasi KKP, karena berhasil membuktikan bahwa budidaya lobster dapat dilakukan sejak dari Benih Bening Lobster (BBL), dengan dukungan teknologi dan pengelolaan yang baik.

Budidaya dari fase tersebut selama ini sulit dilakukan di antaranya lantaran kecilnya tingkat hidup BBL dan keterbatasan pakan.

“Hal yang juga harus terus diperkuat adalah ketersediaan pakan. Di sini sudah ada kerja sama dengan masyarakat melalui budi daya kerang sebagai sumber pakan lobster,” ujar Dadang dalam keterangan di Jakarta.

Dia mendorong perluasan budi daya lobster agar potensi sumber daya yang dimiliki Indonesia dapat menghasilkan nilai tambah, membuka lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir.

Selain itu, kolaborasi antara KKP, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), pemerintah daerah, akademisi dan pelaku usaha juga perlu diperkuat untuk mendukung pengembangan industri budi daya lobster yang berkelanjutan.

Baca Juga:  Sat Nusapersada Bukti Indonesia Mampu Produksi Ponsel

Senada disampaikan Anggota Komisi IV DPR Melati dengan menilai bahwa budi daya lobster memiliki potensi ekonomi cukup besar sebagai komoditas ekspor hasil kelautan perikanan.

Keberhasilan budi daya di Batam memperlihatkan proses peningkatan nilai tambah BBL, mulai dari benih yang ditangkap nelayan, dipelihara dan diberi pakan hingga mencapai ukuran konsumsi yang harganya mencapai ratusan ribu sampai dengan jutaan rupiah per kilogramnya.

Direktur Jenderal Perikanan Budi Daya Tb Haeru Rahayu mengatakan, modeling budi daya lobster di Batam memang dirancang sebagai percontohan penerapan teknologi budi daya lobster yang dapat direplikasi di berbagai daerah potensial.

Kepulauan Riau dipilih sebagai lokasi modeling karena memiliki daya dukung lingkungan yang baik, dekat dengan pasar dan didukung ketersediaan pakan melalui pengembangan budi daya kekerangan yang melibatkan masyarakat pesisir.

Modeling budi daya lobster BPBL Batam dikelola di kawasan seluas tiga hektare dan dilengkapi dengan unit nursery dan fasilitas penyimpanan dingin atau cold room.

Teknologi pendederan yang diterapkan mampu menghasilkan benih lobster berukuran lima gram untuk memasuki tahap pembesaran.

Produktivitasnya ditargetkan mencapai 40 kilogram per lubang KJA berukuran 3 meter x 3 meter.

“Kita ingin potensi BBL tidak berhenti sebagai benih, tetapi dibesarkan menjadi lobster bernilai ekonomi tinggi di dalam negeri. Dengan dukungan regulasi, teknologi, pakan, sumber daya manusia dan pasar, budi daya lobster dapat menjadi penggerak ekonomi pesisir, sekaligus memperkuat produksi perikanan nasional,” jelas Haeru.

Dia menegaskan bahwa pengembangan budi daya lobster merupakan bagian dari strategi ekonomi biru yang diarahkan Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono.

Strategi tersebut mengintegrasikan keberlanjutan ekologi, peningkatan produksi, inovasi teknologi dan penciptaan nilai tambah ekonomi.

Selain lobster, BPBL Batam juga mengembangkan komoditas bawal bintang dan kakap putih yang telah berkontribusi terhadap pengembangan budi daya laut di Kepulauan Riau, salah satunya melalui penyaluran bantuan benih kepada kelompok pembudidaya.

Baca Juga:  Sosialisasi Standarisasi Pelayanan Pelabuhan untuk Tingkatkan Kinerja Logistik Nasional oleh Ditjen Hubla

Hasil produksi ketiga komoditas tersebut telah terserap pasar Kota Batam, termasuk untuk memenuhi peningkatan kebutuhan masyarakat pada momentum tertentu, seperti perayaan Imlek.

Produk budi daya BPBL Batam diminati karena memiliki daging yang tebal dan berkualitas premium.

Kualitas produk dijaga melalui penerapan Cara Pembenihan Ikan yang Baik (CPIB) pada tahap pembenihan dan Cara Budi Daya Ikan yang Baik (CBIB) pada proses pemeliharaan, serta pembesaran. I

 

Kirim Komentar