Hari Jadi Provinsi Jawa Barat (Jabar) ke-81 tahun diperingati di Pasanggrahan Pancarasa atau halaman Gedung Sate Bandung.
Diawali dengan rapat paripurna yang dipimpin oleh Ketua DPRD Jawa Barat Buky Wibawa Karya Guna dilanjutkan dengan prosesi pembacaan sejarah Provinsi Jawa Barat dan ditutup dengan pidato Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi.
Menutup malam puncak, tamu undangan dan pengujung yang hadir dihibur oleh penampilan artis Rizky Febian.
Dalam sambutannya, Gubernur Dedi mengatakan, di usianya yang mencapai 81 tahun semestinya pada saat ini Jawa Barat sudah sampai pada puncak kesuksesannya.
“Karena kita memiliki seluruh potensi baik potensi energi, potensi pertanian, potensi kelautan, potensi geotermal, potensi pembangkit listrik tenaga air, pembangkit listrik tenaga surya, sampai dengan potensi industri dan industri manufaktur yang tersebar di seluruh wilayah Provinsi Jawa Barat,” ujarnya.
Namun, dia menambahkan, potensi itu masih belum merata dan ada distorsi pembangunan antar kabupaten dan kota, juga dengan provinsi, sehingga perlu ada orkestrasi arah pembangunan dan penggunaan anggaran yang dipimpin gubernur, serta wakil gubernur.
“Evaluasi anggaran merupakan kunci dari orkestrasi pembangunan. Anggaran yang bersifat administratif sekarang sudah berubah menjadi bersifatnya teknis dengan memenuhi kebutuhan dasar dulu,” ujarnya.
Kebutuhan dasar pendidikan, dengan rata – rata lama sekolah harus diperbaiki, karena angka partisipasi pendidikan dasar sembilan tahun belum optimal.
Penambahan ruang kelas baru hingga beasiswa menjadi program prioritas. Tidak hanya sekolah SD, SMP dan SMA, pendidikan paket A, B dan C juga menjadi perhatian.
Gubernur Dedi, juga menyoroti disparitas ekonomi antara kabupaten dan kota di Jawa Barat.
Bekasi dengan upah tinggi jauh berbeda dengan wilayah Majalengka, Kuningan hingga Indramayu, sedangkan standar hidup masyarakat ditetapkan sama.
“Orang perkotaan bayar kontrak, beli beras, beli makan jadi pendapatan besar, kalau di Kuningan atau Majalengka beras tidak beli, karena panen sendiri, sayuran tidak beli, air tidak beli, sehingga tingkat pendapatan rendah tidak menjadi tolak ukur,” kata Dedi.
Namun, lanjutnya, ini adalah tantangan semua pihak agar investasi Jawa Barat tertinggi harus memiliki implikasi terhadap ketersediaan dan terisinya lapangan kerja di seluruh Provinsi Jawa Barat.
Peningkatan kualitas kesehatan warga juga menjadi aspek layanan dasar yang menjadi fokus utama dan tidak boleh ada perbedaan pelayanan kesehatan dari tingkat rujukan pertama di desa sampai pada tingkat rujukan kedua, bahkan ketiga.
Gubernur juga menargetkan efisiensi anggaran dengan melakukan perampingan kelembagaan.
Jumlah orang yang bekerja sebagai tenaga pemerintah Provinsi Jawa Barat harus betul – betul didasarkan pada angka kebutuhan layanan dasar masyarakat.
Jumlah jabatan akan dirampingkan demikian juga jumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD).
“Ada yang tetap, ada yang dua berubah menjadi satu, bisa jadi ada yang tiga berubah menjadi satu. Ini adalah jawaban terhadap prinsip – prinsip pengelolaan keuangan yang efisien. Mengingat kita bicara tentang efisiensi, kita bicara tentang realokasi, kalau jumlah jabatan sangat banyak tetap akan mempengaruhi kekuatan fiskal,” jelasnya.
Efisiensi pada Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) juga akan dilakukan. Tidak ada lagi direktur dan komisaris dalam jumlah banyak.
BUMD diharapkan memiliki kontribusi besar terhadap penunjang kegiatan pemerintah untuk memberikan layanan publik terhadap masyarakat secara kuat, juga memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi, peningkatan daya saing, sekaligus juga sebagai aset pemerintah.
Menurut Gubernur Dedi, BUMD tersebut akan digabungkan dalam satu holding BUMD Sanggabuana dan akan dikelola oleh orang – orang yang profesional di bidangnya, melalui seleksi terbuka.
“Untuk itu, di usia 81 provinsi Jawa Barat ini, izinkan saya melakukan perubahan mendasar untuk membangun profesionalisme dan postur pemerintahan yang memiliki keberpihakan kepada masyarakat, memiliki visi besar bagi kemampuan kemakmuran masyarakat, kemudian juga efisien, secara bertahap menyelesaikan problematika kehidupan masyarakat secara terbuka,” tuturnya. I




