Kepala Badan Karantina Indonesia (Barantin) Abdul Kadir Karding menilai bahwa industri florikultura nasional memiliki potensi dan posisi strategis sebagai motor penggerak baru ekonomi hijau.
Menurutnya, melalui pagelaran Floriculture Indonesia International (FLOII) 2026 merupakan jendela untuk membuka masa depan industri florikultura Indonesia, sekaligus mengenalkan kekayaan biodiversitas nusantara ke kancah global guna menggenjot nilai ekspor.
“Sektor florikultura harus dipandang secara luas sebagai pilar penting dalam pengembangan ekonomi hijau, inovasi, penciptaan lapangan kerja dan pertumbuhan industri kreatif di tanah air,” ungkap Karding.
Dia menilai bahwa melalui tema United by Nature, FLOII memiliki makna filosofis yang mendalam, karena tanaman mampu menyatukan berbagai elemen mulai dari breeder dengan nursery, pengusaha hingga konsumen dan pemerintah dengan komunitas untuk bersama – sama membawa Indonesia menuju pasar internasional.
Berdasarkan data aplikasi sistem pengukuran ekspor-impor BestTrust milik Barantin, total nilai perdagangan ekspor-impor tanaman hias pada periode 2025 – 2026 tercatat mencapai Rp4,42 triliun, dengan khusus tahun berjalan dari Januari 2026 hingga minggu kedua September telah membukukan angka Rp3,51 triliun.
Selain itu, kata Karding, potensi pasar domestik juga dinilai sangat fantastis.
Perdagangan tanaman hias di dalam negeri diperkirakan berkisar antara Rp20 triliun hingga Rp40 triliun, angka itu bahkan dinilai masih dikelola secara alami dan belum sepenuhnya dilakukan treat secara optimal.
Dengan peluang bisnis yang besar, Karding mengajak masyarakat, khususnya para pencinta tanaman hias, untuk melihat hobi tersebut sebagai motor penggerak ekonomi kerakyatan yang produktif dan bernilai tambah tinggi.
“Ini masih dikelola secara alami, belum di-manage, belum di-treatment secara sungguh – sungguh, potensi ekonominya seperti ini. Kita bayangkan berapa rakyat kita bisa berdaya, karena hobi tanaman hias,” tuturnya.
Sementara itu, Steering Committee Floriculture Indonesia International (FLOII) Rustika Herlambang menambahkan, penyelenggaraan FLOII Expo tahun 2026 mempertegas posisi Indonesia sebagai salah satu poros penting dalam peta florikultura.
“Kehadiran para pelaku global ini membuktikan bahwa Indonesia kini menjadi salah satu poros penting dalam peta florikultural dunia, dan ini sangat membanggakan,” ujarnya.
Rustika menambahkan, untuk FLOII Expo tahun 2026, mereka menghadirkan lebih dari 120 peserta pameran dana pelaku industri dari lima negara, yakni Tailan, Taiwan, Tiongkok hingga Ekuador.
FLOII mengajak publik melihat florikultura bukan sekadar tren atau hobi, melainkan ruang kolaborasi yang mempertemukan komunitas, industri dan masyarakat dalam ekosistem gaya hidup berbasis alam (nature).
Selain menampilkan keindahan visual, pameran itu juga menyoroti tingginya nilai ekonomi industri tanaman hias di tanah air.
Beberapa koleksi unggulan yang menarik perhatian publik meliputi tanaman Bucephalandra, Aroid hingga Monstera yang memiliki nilai taksiran tinggi dan karakteristik unik yang tidak pernah sama persis antara satu tanaman dengan lainnya.
“Kreativitas genetik, ketekunan budidaya dan kelas estetika dapat menghasilkan value creation yang luar biasa dalam industri florikultura,” ujar Rustika. I




