Inflasi di Kota Yogya Terkendali saat Musim Kemarau Pengaruhi Harga Pangan

Harga cabai merah menjadi penyumbang terbesar inflasi bulanan di Kota Yogyakarta pada Oktober 2026.

Selain komoditas pangan, kenaikan biaya kuliah turut memberikan andil terhadap inflasi seiring dengan enyesuaian biaya pendidikan di perguruan tinggi.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Yogyakarta Joko Prayitno mengatakan, kelompok makanan menjadi pendorong dominan inflasi month-to-month (m-to-m) Oktober 2026.

Komoditas cabai merah memberikan andil inflasi sebesar 0,1%. “Selain cabai merah, ada beras, cabai rawit, tomat, buncis, sawi putih, brokoli, labu siam, dan mentimun.”

Pada intinya, dia menambahkan, dari kelompok makanan atau volatile food yang menjadi pendorong terjadinya inflasi pada Oktober 2026,” jelas Joko.

Selain pangan, kelompok pendidikan juga memberikan andil inflasi sebesar 0,07%, sedangkan kenaikan tersebut terutama berasal dari biaya kuliah di perguruan tinggi.

Namun demikian, Joko menilai perkembangan inflasi Kota Yogyakarta masih terkendali.

Hingga Oktober 2026, inflasi tahun kalender atau year-to-date (y-to-d) tercatat sebesar 2,14%.

Angka tersebut masih berada dalam rentang sasaran inflasi nasional sebesar 2,5% plus minus 1%.

“Kalau tahun lalu selama 12 bulan inflasi kita di atas 3%. Kalau dua bulan ke depan bisa bertahan tidak terlalu tinggi, maka secara kumulatif inflasi tahun 2026 bisa tidak mencapai 3%,” ungkapnya.

Joko menjelaskan, kenaikan harga sejumlah komoditas pangan tidak terlepas dari kondisi kemarau yang memengaruhi pasokan dan produksi.

Ketika pasokan berkurang sementara permintaan tetap, lanjutnya, harga cenderung mengalami kenaikan.

“Secara hukum ekonomi, ketika supply turun, demand tetap, itu pasti terjadi kenaikan harga,” katanya.

Memasuki musim hujan, Joko berharap produksi dan pasokan pangan kembali membaik.

Namun, dia mengingatkan pemulihan pasokan tidak berlangsung seketika karena dipengaruhi berbagai faktor, termasuk distribusi barang.

Baca Juga:  Pemprov Jabar Berhasil Turunkan Tingkat Kemiskinan dan Pengangguran

BPS juga mengingatkan adanya kecenderungan kenaikan inflasi pada Desember 2026 berdasarkan pola dua tahun terakhir.

Pada Desember 2024, inflasi tercatat sebesar 0,48%, sedangkan Desember 2025 mencapai 0,53%.

Kondisi tersebut dipengaruhi meningkatnya kebutuhan masyarakat menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru, terutama untuk komoditas makanan.

“Memang trennya kecenderungannya di akhir tahun meningkat, tetapi bukan berarti tidak bisa diantisipasi. Dengan pengalaman dan kebijakan yang tepat, kondisi tersebut masih bisa diantisipasi,” tutur Joko.

Dia berharap, pengendalian inflasi selama November dan Desember dapat menjaga stabilitas harga di Kota Yogyakarta.

Pengalaman menghadapi kenaikan permintaan pada akhir tahun diharapkan menjadi dasar bagi langkah antisipasi pemerintah, terutama dalam menjaga ketersediaan dan kelancaran distribusi bahan pangan. I

 

Kirim Komentar