Rencana pengembangan Candi Borobudur. (Istimewa)
Bagikan Artikel

Implementasi tigas aspek kepariwisataan dan ekonomi kreatif tentang Inovasi, Adaptasi, dan Kolaborasi menjadi kunci menghadapi megashift (perubahan besar) akibat pandemi Covid-19.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf/Kabaparekraf) Sandiaga Salahuddin Uno menyatakan, dampak dari pandemi Covid-19 telah mengakselerasi karakteristik ekonomi pariwisata baru (new tourism economy).

Akselerasi itu, lanjutnya, berdasarkan hygiene, low mobility, less crowd, dan low touch atau yang biasa disebut dengan personalized, customized, localized, and smaller in size.

“Ini yang harus kita sadari sebagai realita baru, untuk mencetak peluang-peluang baru di tengah pandemic,” ujar Sandiaga dalam webinar “Project Implementation Unit Universitas Gajah Mada Talkseries #10” pada Kamis (29/7/2021).

Untuk itu, Sandiaga menjelaskan bahwa inovasi, adaptasi, dan kolaborasi adalah kunci utama dalam menghadapi dinamika yang terus terjadi.

Aspek inovasi adalah dengan memanfaatkan platform digital dalam memasarkan produk kreatifnya, sehingga layanan yang diberikan akan lebih maksimal.

Aspek adaptasi, yakni menerapkan protokol kesehatan yang berlaku di era kenormalan baru.

Aspek kolaborasi adalah bekerja sama dengan seluruh unsur pentahelix, sehingga pemulihan dan kebangkitan di sektor parekraf dapat segera terwujud.

Turut hadir dalam webinar itu, Deputi Bidang Sumber Daya Kelembagaan Kemenparekraf/Baparekraf Wisnu Bawa Tarunajaya, Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelenggara Kegiatan (Events) Kemenparekraf/Baparekraf Rizky Handayani, dan Direktur Wisata Alam, Budaya, dan Buatan Kemenparekraf/Baparekraf Alexander Reyaan.

Menurut Sandiaga, konsep 3A (Attraction, Amenity, Access) juga mengalami perubahan, karena terbentuknya ekonomi pariwisata baru.

Konsep Attraction pariwisata saat ini lebih mengedepankan nature and culture, karena atraksi yang menawarkan konsep eco, wellnes, dan advanture akan lebih diminati dan akan menjadi mainstream baru di industri pariwisata.

Selain itu, Amenity berdasarkan aspek keramahtamahan menjadi hal penting yang harus dilakukan para pelaku usaha kepada konsumen.

“Pelayanan ini tentunya disempurnakan dengan karakteristik dari ekonomi pariwisata baru yang hygiene, low touch, dan less crowd, karena di era pandemi, wisatawan semakin peduli terhadap cleanliness, health, safety, and environmental sustainability,” tuturnya.

Kemudian, Access yang meliputi domestic micro tourism, karena di tengah pandemi pergerakan wisatawan antarnegara kian dibatasi.

Domestic micro tourism akan menjadi pilar terpenting dari megashift yang terjadi di sektor pariwisata,” jelas Sandiaga. I

 

 


Bagikan Artikel

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here