Banjir di Kota Solo dan Kabupaten Bandung Dampak Bibit Siklon 92S Masih Eksis

Kota Surakarta atau Kota Solo di Provinsi Jawa Tengah (Jateng), dilanda banjir setelah hujan deras berdurasi cukup lama terjadi di wilayah Solo Raya pada Selasa (14/4) pukul 21.42 WIB.

Berdasarkan data per Rabu (15/4) pukul 17.40 WIB, sebanyak 1.083 Kepala Keluarga (KK) terdampak yang tersebar di sejumlah kelurahan, antara lain Kelurahan Pajang 130 KK, Joyosuran 117 KK, Tipes 211 KK, Bumi 85 KK, dan Kelurahan Joyontakan 15 KK.

Selain itu, Kelurahan Panularan 187 KK, Sondakan 27 KK, Laweyan 9 KK, Sangkrah 47 KK, Kedung Lumbu 230 KK, Jebres 23 KK, dan Kelurahan Mojosongo 2 KK.

Sebagian besar wilayah terdampak dilaporkan sudah mulai surut, meskipun proses pendataan masih berlangsung di beberapa titik.

Selain genangan, kejadian ini juga mengakibatkan talud longsor di RW 14 Kelurahan Pajang, Kecamatan Laweyan.

Sejumlah warga sempat mengungsi di beberapa titik, di antaranya masjid, balai warga, sekolah, dan rumah warga, dengan total puluhan jiwa terdampak yang masih membutuhkan dukungan logistik dan layanan dasar.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Surakarta bersama unsur terkait telah melakukan penanganan darurat berupa asesmen, evakuasi warga dan koordinasi lintas sektor.

Dukungan logistik yang telah disalurkan meliputi matras, selimut, paket sembako, makanan siap saji hingga pendirian dapur umum oleh Dinas Sosial dan unsur masyarakat.

Pada periode yang sama, banjir juga dilaporkan terjadi di Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat, yang dipicu hujan dengan intensitas tinggi dan peningkatan debit Sungai Cisunggalah hingga menyebabkan tanggul jebol pada Selasa (14/4).

Banjir berdampak pada dua kecamatan, yaitu Majalaya dan Bojongsoang, mencakup empat desa yakni Bojong, Bojongsoang, Bojongsari, serta Tegalluar.

Data sementara mencatat sekitar 95 KK atau 250 jiwa terdampak serta 95 unit rumah terdampak.

Baca Juga:  Pesona Kota Solo Dijelajahi Bersama Lorin Solo Hotel

Hingga Rabu (15/4), kondisi di Kecamatan Majalaya dilaporkan telah surut total, sementara di Kecamatan Bojongsoang Tinggi Muka Air (TMA) masih berkisar antara 10 sentimeter (cm) hingga 150 cm.

BPBD Kabupaten Bandung bersama unsur terkait terus melakukan asesmen, pendataan dan mengimbau masyarakat untuk mengungsi ke tempat aman saat hujan deras.

Upaya pembersihan sisa material lumpur juga dilakukan secara gotong royong oleh petugas dan masyarakat.

Saat ini, wilayah Kabupaten Bandung masih berada dalam status siaga darurat bencana hidrometeorologi sesuai keputusan kepala daerah dan gubernur setempat.

Sementara itu, melalui program Teropong Bencana BNPB, yang disiarkan melalui kanal Youtube BNPB_Indonesia pada Rabu (15/4) pukul 15.30 WIB, Ketua Tim Prediksi dan Peringatan Dini Cuaca, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Miming Saepudin mengatakan, curah hujan tinggi di wilayah barat Sumatra hingga Jawa masih dipengaruhi oleh dampak tidak langsung dari bibit siklon tropis 92S di barat daya Sumatra yang masih eksis.

Meskipun bibit siklon tersebut diprediksi semakin menjauhi wilayah Indonesia, masyarakat diimbau untuk tetap meningkatkan kewaspadaan karena potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat masih berpeluang terjadi dalam dua hari hingga tiga hari ke depan.

Adapun wilayah yang perlu meningkatkan kesiapsiagaan di antaranya Sumatra bagian Tengah dan Selatan hingga lampung, kemudian Banten, Jawa Barat, Provinsi Jakarta dan Jawa bagian Tengah, serta Selatan.

“Meski semakin menjauh, tapi yang harus dipahami bahwa dampak fenomena ini dapat mempengaruhi kondisi cuaca ekstrem secara lokal,” jelas Miming.

Sumatra bagian Tengah, Selatan hingga Lampung, kemudian Jawa bagian Barat dan Tengah hingga Provinsi Jakarta ini curah hujan tinggi di sore hari sangat berpotensi terjadi.

Baca Juga:  Ini Perkembangan Situasi dan Penanganan Bencana di Tanah Air pada 28 Maret 2026

Menyikapi kondisi tersebut, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk meningkatkan kesiapsiagaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi basah.

Warga yang berada di wilayah rawan banjir diharapkan rutin memantau kondisi tinggi muka air, membersihkan saluran drainase dan segera melakukan evakuasi mandiri apabila terjadi peningkatan debit air secara signifikan.

Selain itu, masyarakat di sekitar lereng atau bantaran sungai perlu mewaspadai potensi longsor susulan.

Pemerintah daerah juga didorong memastikan kesiapan logistik, jalur evakuasi dan sistem peringatan dini agar risiko bencana dapat diminimalkan.

BNPB terus berkoordinasi dengan BPBD setempat untuk memantau perkembangan situasi dan memastikan penanganan darurat berjalan optimal. I

Kirim Komentar