Perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam memperkuat swasembada pangan nasional melalui pengembangan inovasi, riset dan Sumber Daya Manusia (SDM) unggul.
Sinergi antara pemerintah dan dunia akademik dinilai menjadi faktor penting untuk menjaga keberlanjutan pembangunan pangan, sekaligus menjawab berbagai tantangan sektor pangan di masa depan.
Hal tersebut disampaikan Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Andi Amran Sulaiman saat memberikan kuliah umum bertajuk Inovasi dan Kolaborasi Generasi Muda Menuju Swasembada Pangan di Universitas Sumatra Utara (USU), Medan, Sumatra Utara.
Rektor Universitas Sumatra Utara Prof. Muryanto Amin mengapresiasi keberhasilan pemerintah dalam mempercepat terwujudnya swasembada pangan nasional.
Menurutnya, kuliah umum tersebut menjadi kesempatan bagi sivitas akademika untuk memperoleh wawasan mengenai pembangunan sektor pertanian, sekaligus memperkuat peran perguruan tinggi dalam mendukung pengembangan komoditas strategis melalui riset dan inovasi.
Dalam paparannya, Amran menegaskan bahwa kampus merupakan tempat lahirnya berbagai gagasan dan inovasi yang dibutuhkan bangsa, sehingga generasi muda didorong untuk tidak hanya menguasai ilmu pengetahuan, tetapi juga mampu menghadirkan solusi yang memberikan manfaat nyata bagi pembangunan, termasuk di sektor pangan.
“Kalau ingin membuat lompatan besar yang eksponensial, semuanya berawal dari kampus. Kampus adalah sumber dari segala sumber inovasi terbaik,” ungkapnya.
Amran menjelaskan bahwa keberhasilan Indonesia mewujudkan swasembada pangan merupakan hasil percepatan berbagai kebijakan pemerintah.
Amanat Presiden Prabowo Subianto yang semula menargetkan swasembada pangan dalam empat tahun dipercepat menjadi tiga tahun, kemudian menjadi satu tahun, hingga akhirnya berhasil diwujudkan pada 31 Desember 2025.
Keberhasilan tersebut tercermin dari meningkatnya produksi dan penguatan cadangan pangan pemerintah.
Produksi beras nasional pada tahun 2025 menjadi yang tertinggi dibandingkan periode sebelumnya.
Sementara itu, Cadangan Beras Pemerintah (CBP) per 14 Juli 2026 telah mencapai 5,226 juta ton atau menjadi yang terbesar sepanjang sejarah.
Hal ini dibenarkan oleh pimpinan wilayah Perum Bulog Sumatra Utara yang mengatakan, dari kapasitas Bulog Sumatra Utara sebanyak 73.000 ton seluruhnya sudah terisi penuh dan saat ini sudah menyewa gudang tambahan sebanyak 21.000 ton.
Dalam dialog bersama mahasiswa, Amran menilai masih banyak masyarakat yang belum memperoleh informasi secara utuh mengenai capaian sektor pangan nasional.
Oleh karena itu, dia memanfaatkan forum akademik tersebut untuk menjelaskan berbagai kebijakan pemerintah berdasarkan data dan fakta.
“Ternyata masih banyak yang belum tahu bahwa kita sudah swasembada pangan. Bahkan beras medium tidak impor lagi, bahkan beberapa komoditas sudah ekspor. Ini kami jelaskan pakai data. Bukan narasi yang kosong, tapi tunjukkan fakta,” tutur Amran.
Dia juga mengapresiasi mahasiswa USU yang aktif berdiskusi dan menyampaikan berbagai pandangan secara kritis.
Menurutnya, ruang dialog seperti ini penting untuk membangun komunikasi dua arah antara pemerintah dan generasi muda, sehingga berbagai kebijakan dapat terus disempurnakan.
“Kami bangga dengan mahasiswa Universitas Sumatera Utara. Mereka cerdas, kritis, tetapi kritiknya konstruktif. Kita butuh kritikan, tapi konstruktif. Kami bukan hebat, kami punya kelemahan, yang menyempurnakan adalah bapak – bapak semua, mahasiswa, para dosen,” katanya.
Sebagai tindak lanjut penguatan kolaborasi antara pemerintah dan perguruan tinggi, pada akhir kegiatan Kementerian Pertanian bersama Universitas Sumatra Utara menandatangani nota kesepahaman mengenai penelitian dan pengembangan komoditas bawang putih dan kedelai.
Kerja sama tersebut diharapkan memperkuat pemanfaatan hasil riset dalam pengembangan komoditas pangan strategis, sekaligus mempererat sinergi pemerintah dan perguruan tinggi dalam mendukung penyelenggaraan pangan nasional. I






