Harga beras secara nasional terpantau masih cukup terkendali. Fluktuasi ada tapi masih dalam rentang yang wajar.
Pemerintah pun konsisten menjalankan berbagai program intervensi perberasan dengan menggelontorkan stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang sangat kokoh.
Dalam analisis Badan Pangan Nasional (Bapanas) terhadap data kenaikan Indeks Perkembangan Harga (IPH) Badan Pusat Statistik (BPS) minggu kedua April, beras dilaporkan ada kenaikan IPH pada 83 kabupaten/kota secara nasional.
Dari total itu, hanya 41 kabupaten/kota yang alami kenaikan IPH beras dan berada di atas Harga Eceran Tertinggi (HET).
Mengenai kenaikan IPH yang melebihi HET beras medium terjadi di 19 provinsi.
Sumatra Utara, Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Utara menjadi provinsi dengan jumlah kabupaten/kota yang alami kenaikan IPH melebihi HET beras medium di enam kabupaten/kota sampai dengan enam kabupaten/kota.
Maka dari itu, Bapanas telah meminta Perum Bulog untuk memacu realisasi penyaluran program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) beras.
Selain itu, program bantuan pangan beras sebagai bantalan ekonomi masyarakat berpenghasilan rendah diharapkan juga dapat menstabilkan kondisi perberasan.
“SPHP beras di tahun 2026 kita targetkan sebanyak 828.000 ton. Jadi, beras SPHP ini menjadi instrumen sangat penting untuk melakukan stabilisasi pasokan dan harga. Bulog segera mempercepat realisasi beras SPHP, sehingga dapat berlangsung lebih cepat,” ungkap Deputi Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan Bapanas Andriko Noto Sutanto di Jakarta.
Dalam laporan yang diterima Bapanas, realisasi penjualan beras program SPHP tahun 2026 sejak awal Maret sampai 14 April telah mencapai 111,2 ribu ton. “Ini cukup berkorelasi terhadap perkembangan harga beras medium secara nasional.”
Dalam pantauan Bapanas, rerata harga beras medium secara nasional per 12 April di semua zonasi kompak tidak melampaui HET.
Pada Zona I rerata harga beras medium di Rp12.984 per kilogram (kg) atau 3,82% dibawah HET, Zona II di Rp13.615 per kg atau 2,75% dibawah HET dan Zona III di Rp15.178 per kg atau 2,08%.
Bapanas pun mendorong Bulog untuk menggeber realisasi SPHP beras pada wilayah yang memiliki realisasi masih rendah terhadap target salur masing – masing daerah.
Misalnya, wilayah Provinsi Jakarta dan Banten dengan total target salur sampai dengan akhir tahun di 46.820 ton, realisasi penjualan baru di 1.450 ton.
Program intervensi beras lainnya yakni bantuan pangan yang berperan sebagai bantalan ekonomi dapat pula menjadi peredam fluktuasi harga beras.
Total target salur beras telah Bapanas tugaskan ke Bulog untuk dapat tersampaikan kepada 33,2 juta keluarga penerima manfaat.
“Kemudian, selain beras SPHP, Badan Pangan Nasional juga menugaskan Perum Bulog untuk menyalurkan bantuan pangan, 10 kilogram beras, 2 liter minyak goreng per KPM sebanyak 33,2 juta seluruh Indonesia. Ini gratis. Kalau SPHP yang tadi, beras dengan harga murah,” jelas Andriko.
Selain menjadi bantalan ekonomi, program bantuan pangan yang digagas pemerintah juga untuk menjaga daya beli masyarakat, sekaligus turut pula mendorong akses konsumsi terhadap pangan menjadi lebih mudah.
“Bantuan pangan ini harapannya untuk bantalan masyarakat kita kelompok menengah ke bawah yang tidak memiliki daya beli yang kuat agar tetap bisa mengakses pangan dengan baik. Jadi agar harga-harga beras di tingkat konsumen bisa lebih diredam dengan bantuan pangan dan beras SPHP,” tuturnya.
Adapun realisasi salur bantuan pangan per 15 April 2026 telah mencapai 87,4 juta kg dan minyak goreng 17,5 juta liter.
Cakupannya telah mulai berjalan di 34 provinsi dan empat provinsi yang belum antara lain Papua Barat, Papua Pegunungan, Papua Selatan, dan Papua Tengah.
Dalam berbagai kesempatan, Kepala Bapanas sekaligus Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengungkapkan stok CBP nasional kembali memecahkan rekor.
Total CBP sudah berada di angka 4,75 juta ton, sehingga pemerintah akan leluasa dalam menggelontorkan untuk program intervensi perberasan.
“Yang jelas sekarang beras sudah selesai. Capaian hari ini, stok bulog itu 4,7 juta ton. Ini sangat bagus. Bulan ini, Insyaallah 5 juta ton beras kita. Ini tidak pernah terjadi selama Indonesia merdeka,” ungkap Kepala Bapanas.
Dalam catatan Bapanas, total stok beras secara nasional yang dikelola Perum Bulog per 14 April telah mencapai 4,75 juta ton.
Tentunya ini telah melampaui terhadap rekor stok CBP tertinggi di tahun lalu yang pernah mencapai 4,2 juta ton di Juni 2025.
Sebagai implikasi positifnya, tingkat inflasi beras menjadi lebih stabil dan rendah dibandingkan tahun – tahun sebelumnya.
Inflasi beras bulanan paling tinggi di tahun 2025 di 1,35% pada Juli, sedangkan di tahun 2023 dan tahun 2024 pernah mencapai 5,61% di September 2023 dan 5,28% di Februari 2024.
Sementara itu, inflasi beras terbaru di Maret 2026 berada di 0,65%. I
