Bapanas Minta Bulog Tambah Gudang di Papua Selatan

Pemerintah mendorong pembangunan pada wilayah Papua, terutama untuk menjadikan sebagai lumbung pangan.

Keberhasilan pemberdayaan petani lokal di Merauke Papua Selatan menjadi salah satu bukti keseriusan pemerintah yang tampak dari perkembangan positif produksi beras dari tahun ke tahun.

Capaian produksi beras di Papua Selatan pada tahun 2025, dalam kalkulasi Badan Pangan Nasional (Bapanas) bahkan telah melampaui kebutuhan konsumsi rumah tangga selama setahun.

Angka produksi beras setahun Papua Selatan sepanjang tahun 2025 menurut Badan Pusat Statistik (BPS) di 207.000 ton, sementara kebutuhan konsumsi rumah tangga (tidak termasuk non rumah tangga) selama setahun diperkirakan 34.060 ton.

Tentunya surplus produksi beras terhadap konsumsi tersebut dapat memperkuat Cadangan Beras Pemerintah (CBP) di Perum Bulog dan Cadangan Pangan Pemerintah Daerah (CPPD).

Hal ini pula yang mendasari usulan pemerintah daerah agar Bulog membangun infrastruktur pascapanen dan segera disetujui oleh Kepala Bapanas Andi Amran Sulaiman yang juga Menteri Pertanian (Mentan).

“Jadi Pak Bupati, Insyaallah dibangun ini tahun. Gudangnya kita siapkan. Itu nanti kalau petani disini produksi, langsung dibeli, dibeli menguntungkan, tidak boleh dibawah Rp6.500. Itu perintah Bapak Presiden,” ujarnya saat menghadiri tanam padi di Desa Waninggap Kai, Merauke, Papua Selatan.

Mengenai indeks harga yang diterima petani tanaman pangan di Papua Selatan dalam data BPS konsisten terus bergerak secara positif sejak tahun 2024 sampai dengan tahun 2026.

Pada Januari 2024, indeks tersebut masih berada di 111,42. Sampai dengan Desember 2024 makin naik menjadi 113,83.

Progres indeks harga yang diterima petani tanaman pangan di Papua Selatan semakin melejit dengan mencatatkan 114,72 pada Desember 2025.

Terbaru pada Juni 2026 juga semakin positif di angka 115,33. Artinya sejak Januari 2024 sampai Juni 2026 telah mengalami kenaikan sebanyak 3,91 poin indeks.

Baca Juga:  Menparekraf Resmikan Desa Wisata Rhepang Muaif Masuk 50 Besar ADWI 2024

Hal yang sama terjadi pula pada indeks Nilai Tukar Petani (NTP) di Papua Selatan yang turut mengalami eskalasi sejak awal tahun 2024.

Pada Januari 2024 masih berada 101,37 dan berkembang 8,78 poin indeks menjadi 110,15 di Juni 2026.

Capaian – capaian tersebut menandakan adanya surplus yang membuat stok beras melimpah, tetapi harga di tingkat petani lokal masih dapat terjaga dengan baik.

“Ini sangat membanggakan kita semua. Pemerintah atas perintah Bapak Presiden dan juga kita akan bangun atas permintaan pemda, Insyaallah kita bangun ini. Itu tadi penyampaiannya bahwa 3.000 ton, mungkin bisa 5.000 ton. Jadi, besar, lengkap satu paket,” tutur Amran.

Sebagai informasi, Perum Bulog memiliki 15 komplek pergudangan di seluruh Papua.

Adapun pembangunan 100 infrastruktur pascapanen yang baru juga akan sampai di ke Papua, yang merupakan implementasi dari Peraturan Presiden Nomor 14 Tahun 2026.

Dalam beleid tersebut, pemerintah menugaskan Perum Bulog untuk melaksanakan penyediaan infrastruktur pascapanen.

Klasifikasi infrastruktur pascapanen ditetapkan ada dua jenis. Jenis yang pertama merupakan kelolaan Perum Bulog sepenuhnya dan jenis kedua dikelola pemerintah daerah dengan sistem operasional dan pengawasan Perum Bulog berdasarkan perjanjian kerja sama atau perikatan kontraktual.

Pemerintah juga telah menetapkan dana sebesar Rp5 triliun untuk percepatan pelaksanaan penyediaan infrastruktur pascapanen.

“Ini merupakan dana investasi pemerintah non permanen yang diperuntukkan kepada Perum Bulog,” ungkap Amran.

Adapun total stok beras yang dikelola Bulog hingga Juli 2026 masih berada lebih dari 5 juta ton secara nasional.

Indonesia sendiri diprediksi dalam Food and Agriculture Organization (FAO) Outlook edisi Juni 2026 mampu mencapai stok beras di akhir tahun 2026/2027 hingga 7,8 juta ton.

Baca Juga:  KEMENDAGRI APRESIASI DPR USAI SAHKAN RUU PEMBENTUKAN PROVINSI PAPUA BARAT DAYA

Prediksi FAO di edisi Juni tahun lalu terbukti mendekati capaian Indonesia saat ini yang telah mencatatkan stok lebih dari 5 juta ton.

Hal ini dikarenakan pada FAO Outlook Juni tahun 2025, stok beras Indonesia untuk periode 2025/2026 diestimasikan oleh FAO dapat mencapai 5,8 juta ton.

Dalam proyeksi FAO terbaru, Indonesia memperoleh urutan terbesar keempat dalam hal stok beras untuk periode 2026/2027.

Angka proyeksi Indonesia yang 7,8 juta ton tersebut bahkan lebih besar dibandingkan Bangladesh dengan 7,6 juta ton, padahal Bangladesh merupakan produsen beras ketiga besar dunia.

Sementara itu, negara pertama dengan stok berasnya yang terbesar adalah Tiongkok dengan 105,1 juta ton.

Pada Di urutan kedua adalah India dengan 53,2 juta ton dan disusul oleh Thailand dengan 9,3 juta ton.

Namun, dari empat besar tersebut hanya Tiongkok dan Indonesia yang diproyeksikan mengalami tren peningkatan stok dalam rentang periode 2025/2026 ke periode 2026/2026. I

 

Kirim Komentar