Bapanas Pastikan Pengawasan Distribusi Diperketat untuk Jaga Harga

Badan Pangan Nasional (Bapanas) memastikan ketersediaan pangan nasional sepanjang tahun 2026 berada dalam kondisi aman dan surplus.

Namun demikian, pemerintah tetap memperketat pengawasan distribusi pangan untuk mencegah lonjakan harga yang tidak wajar pada momentum Ramadan dan Idulfitri.

Menurut Sekretaris Utama Bapanas Sarwo Edhy, berdasarkan neraca pangan nasional tahun 2026, ketersediaan pangan hingga April 2026 aman, proyeksi stok sejumlah komoditas strategis masih sangat mencukupi.

Bahkan, dia menambahkan, proyeksi hingga akhir Desember 2026 juga masih dalam kondisi surplus.

“Kondisi neraca pangan itu surplus sampai dengan akhir April. Begitu juga kalau kita hitung sampai dengan akhir Desember. Misalnya beras itu surplus 17,2 juta ton, gula konsumsi 595 ton,” ujar Sarwo Edhy di Jakarta.

Namun, pola kenaikan harga pangan di saat Ramadan dan Idulfitri merupakan fenomena tahunan yang perlu diantisipasi melalui penguatan pengawasan distribusi.

Sebagai contoh, dalam pemantauan pekan kedua Ramadan, Bapanas menemukan harga daging sapi di Pasar Kosambi, Bandung, sempat menyentuh Rp160.000 per kilogram.

Setelah ditelusuri, harga dari rumah potong hewan berada di kisaran Rp105.000 per kilogram, tapi terjadi lonjakan margin di tingkat distributor dan pengecer.

“Pengecer menjual ke pedagang itu Rp160.000. Jadi yang tidak benar ini, tingkat pengecernya mengambil untung terlalu besar, Rp30.000 per kilogram, sehingga harga daging menjadi Rp160.000 dan di D1-nya ini terlalu besar mengambil untungnya. Hal – hal seperti inilah kita tertibkan melalui namanya Satuan Tugas Sapu Bersih Pelanggaran Pangan yang ditetapkan berdasarkan SK Kepala Badan Pangan Nasional,” jelas Sarwo.

Jadi, Bapanas menggandeng Dirkrimsus di tingkat provinsi, kemudian Kasatreskrim di tingkat kabupaten untuk bersama-sama lakukan pemantauan dan menindak para pelaku usaha pangan yang nakal.

Baca Juga:  Bank Indonesia dan P2MI Tingkatkan Pelindungan Konsumen untuk Pekerja Migran

Nah, setelah kami telusuri dan Alhamdulillah sekarang harganya di Rp 140.000 per kilogram,” ungkapnya.

Selain pengawasan, terdapat berbagai program stabilisasi harga. Salah satunya melalui Gerakan Pangan Murah (GPM) yang dilaksanakan di tingkat pusat hingga pelosok desa.

Adapun program distribusi beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) yang dikelola oleh Perum Bulog.

Beras SPHP dijual dengan harga maksimal Rp12.500 per kilogram atau lebih murah dari harga beras medium di pasaran yang berada di kisaran Rp13.500 per kilogram.

Bapanas juga menyalurkan jagung SPHP kepada peternak layer guna menjaga stabilitas harga daging ayam dan telur.

Di sisi lain, pemerintah menyalurkan bantuan pangan kepada 33,2 juta Keluarga Penerima Manfaat (KPM) berupa 20 kilogram beras dan 4 liter minyak goreng untuk alokasi dua bulan, yakni Februari – Maret 2026.

Untuk daerah 3T (tertinggal, terdepan, terluar), Bapanas menjalankan program Fasilitasi Distribusi Pangan (FDP).

Program ini membantu distribusi komoditas dari daerah surplus ke daerah defisit guna menekan disparitas harga.

“Fasilitasi Distribusi Pangan ini untuk membantu para petani atau para pedagang atau kooperasi untuk menyalurkan atau mendistribusikan komoditas tertentu dari daerah surplus ke daerah minus seperti di 3T. Sehingga walaupun harganya lebih tinggi, tapi tidak terlalu signifikan,” jelasnya.

Selain itu, terkait ketersediaan beras, Bulog telah menyiapkan gudang filial di sejumlah wilayah, termasuk memanfaatkan gudang sewa hingga fasilitas di tingkat kecamatan untuk memastikan cadangan beras tersedia dan dapat segera didistribusikan saat terjadi kekurangan pasokan.

Melalui pengawasan menyeluruh dari hulu ke hilir, termasuk intervensi khusus di wilayah 3T, Bapanas menargetkan minim gejolak pasokan maupun lonjakan harga pada Ramadan dan Idulfitri 2026. I

Kirim Komentar