Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) menyiapkan tiga langkah utama untuk menghadapi risiko akibat kenaikan muka air laut di Maluku.
“Langkah itu adalah mengendalikan faktor yang memperbesar risiko, termasuk penurunan muka tanah, memulihkan dan menjaga ekosistem pesisir, khususnya mangrove, serta membangun kebijakan berdasarkan data,” jelas Wakil Menteri PPN/Wakil Kepala Bappenas Febrian Alphyanto Ruddyard dalam Dialog Kebijakan mengenai Dampak Kenaikan Muka Air Laut di Provinsi Maluku di Jakarta.
Dalam kesempatan tersebut, lanjutnya, pihaknya mendorong penguatan perencanaan pembangunan yang adaptif, inklusif dan berbasis data untuk menghadapi dampak kenaikan muka air laut di Provinsi Maluku.
Febrian menuturkan, kenaikan muka air laut bukan semata persoalan lingkungan, melainkan persoalan pembangunan yang menyangkut kehidupan masyarakat, keberlanjutan wilayah dan masa depan generasi mendatang.
“Sebagai provinsi kepulauan, Maluku disebut menghadapi tantangan yang kompleks,” tegasnya.
Data sistem perencanaan kolaboratif dan analisis data terpadu (SEPAKAT) menunjukkan pada proyeksi kenaikan muka air laut setinggi 100 sentimeter sebanyak 18 fasilitas kesehatan dan 53 sekolah berpotensi terdampak kenaikan muka air laut.
Selain itu, sekitar 40.000 penduduk dan lebih dari 33.000 hektare wilayah juga berada dalam kawasan terdampak.
“Risiko harus masuk sejak awal ke dalam perencanaan pembangunan, bukan baru kita tangani setelah menjadi bencana,” ujar Wamen PPN.
Melalui SEPAKAT, dia menambahkan, risiko dapat dilihat tidak hanya dari sisi fisik wilayah, tetapi juga dari kelompok rentan yang terdampak, layanan dasar yang terancam, serta aktivitas ekonomi yang perlu dilindungi.
“Ukuran keberhasilan kita adalah apakah masyarakat Maluku menjadi lebih aman, layanan dasar tetap berjalan, mata pencaharian tetap terlindungi dan generasi berikutnya tetap memiliki pulau yang dapat mereka sebut rumah. Itulah pembangunan yang berketahanan. Itulah pekerjaan yang harus kita mulai bersama, dari sekarang,” tutur Febrian. I







