Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Andi Amran Sulaiman yang juga Menteri Pertanian memberi pandangan agar produk beras fortifikasi dapat lebih dipergunakan untuk membantu masyarakat Indonesia yang mengalami kekurangan gIzi atau tengkes (stunting).
Dia mengakui terperanjat kaget saat ada temuan harga beras fortifikasi sampai menyentuh lebih dari Rp40.000 per kilogram (kg).
“Lha, ini ada yang dijual Rp20.000 sampai Rp42.000. Adil nggak saya tanya? Ini kan bisa diperuntukkan untuk saudara kita yang ada stunting. Stunting kita berapa? 21%, diperuntukkan untuk ini. Ini betul – betul seenaknya. Nanti, Satgas Pangan kerja untuk penindakan,” kata Amran saat konferensi pers di Jakarta.
Arahan tersebut senada dengan mandat dari Undang – Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan dan Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2015 tentang Ketahanan Pangan dan Gizi.
Ini karena fortifikasi pangan menjadi strategi penting untuk memperbaiki status gizi masyarakat dan beras fortifikasi pun telah menjadi indikator prioritas nasional dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJMN) 2025 – 2029.
Beras fortifikasi sendiri merupakan beras sosoh yang ditambahkan dengan kernel beras fortifikan dengan tujuan untuk mendapatkan komposisi zat gizi tertentu.
Sebagai informasi, beras fortifikasi wajib memenuhi persyaratan jenis dan kandungan gizi sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI) 9372:2025.
“Ini yang menarik. Ini beras fortifikasi harus bisa untuk saudara kita yang kekurangan gizi, untuk orang miskin, yang kekurangan gizi dan yang stunting,” ungkapnya.
Maka dari itu, Bapanas pada tahun 2026 akan kembali menyalurkan bantuan pangan beras terfortifikasi dan biofortifikasi dengan targetnya menyasar ke 960 Kepala Keluarga (KK) dengan beras khusus 15 kg selama tiga kali penyaluran.
Dengan itu, akan ada total 2.880 paket bantuan pangan beras terfortifikasi dan biofortifikasi yang akan disalurkan.
Adapun program bantuan pangan beras terfortifikasi dan biofortifikasi ini telah berhasil diinisiasi sejak tahun 2025.
Dengan kolaborasi bersama segenap mitra, pada tahun 2025 telah tercapai sasaran penerima sebanyak 648 KK.
Saat itu, setiap KK diberikan secara gratis berupa beras terfortifikasi dan biofortifikasi sebanyak 15 kg sebanyak tiga kali yang bersumber dari Bapanas, tetapi bukan diambil dari stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP).
Selanjutnya diberikan sebanyak tiga kali lagi melalui dukungan dari Global Alliance for Improved Nutrition (GAIN) Indonesia.
Ada pula mitra lain yang turut mendukung program bantuan pangan beras terfortifikasi dan biofortifikasi sejak tahun 2025 antara lain Keluarga Alumni Gadjah Mada (KAGAMA) dan Dompet Dhuafa.
Melalui program rintisan tersebut, total beras khusus sebanyak 29.160 kg disalurkan kepada 648 KK selama tiga bulan, sehingga sejumlah 1.944 paket bantuan yang berhasil didistribusikan.
Program ini menargetkan keluarga berisiko stunting di wilayah rentan rawan pangan.
Beras yang disalurkan pun dipastikan memiliki kandungan mikronutrien di antaranya vitamin A, B1, B2, B3, B6, B12, asam folat, dan juga mineral, seperti zat besi dan zinc.
Kandungan ini berguna untuk meningkatkan nilai gizi bagi masyarakat rentan gizi, terutama ibu hamil, anak di bawah usia dua tahun, dan di bawah usia lima tahun.
Adapun latar belakang digagasnya program bantuan pangan beras terfortifikasi dan biofortifikasi adalah Indonesia masih menghadapi beban gizi ganda atau triple burden of malnutrition, seperti stunting, obesitas dan kekurangan zat gizi mikro.
Kendati begitu, jumlah daerah rentan rawan pangan menurun menjadi 81 kabupaten/kota atau 15,76%.
Bapanas kembali menegaskan bahwa program bantuan pangan beras terfortifikasi dan biofortifikasi ini berbeda dengan program bantuan pangan beras yang dilaksanakan oleh Perum Bulog selama ini.
Dalam bantuan pangan terfortifikasi dan biofortifikasi tidak menggunakan stok beras Bulog. I







